LombaArtikelPKN2023 #PekanKebudayaanNasional2023 #IndonesiaMelumbung untuk Melambung
Wayang Golek merupakan salah satu kesenian wayang yang berasal dari negara Indonesia, tepatnya Jawa Barat. Aliran wayang golek purwa diperkirakan mulai berkembang di Jawa Barat sejak abad ke-19 M.
Pelopor aliran ini adalah Bupati Bandung Wiranatakusumah III. Wayang Golek sering dipentaskan dalam pagelaran seni di wilayah Parahyangan, Jawa Barat. Pagelaran ini umumnya dipentaskan menggunakan Bahasa Sunda yang bertujuan sebagai pelengkap upacara selamatan atau ruwatan.
Selain itu, pagelaran Wayang Golek ini juga menjadi sarana hiburan dan tontonan bagi masyarakat Jawa Barat. Bukan hanya Jawa Barat saja pagelaran Wayang Golek dipentaskan, Brebes dan Cilacap juga menjadi kota pementasan Wayang Golek.
Mulanya kehadiran Wayang Golek pada masa pemerintahan Raden Patah dari Kerajaan Demak dan kemudian disebarluaskan para Wali Songo. Pementasan Wayang Golek di tanah Parahyangan dimulai sejak Kesultanan CIrebon yang berada di tangan Panembahan Ratu sekitar tahun 1540-1650.
Beliau merupakan cicit dari Sunan Kudus. Wayang Cepak atau Wayang Golek Papak lah yang dipertunjukkan pada saat itu. Wayang ini diberi nama seperti itu karena memiliki bentuk kepala yang datar.
Seiring berjalannya waktu ketika kekuasaan Kesultanan Cirebon diteruskan oleh Pangeran Girilaya , Wayang Cepak semakin populer. Inti cerita wayang ini merupakan kisah babad dan sejarah tanah Jawa, yang tentu masih berikatan dengan muatan agama Islam.
Kesenian Wayang Golek yang dulunya berbahasa Jawa mulai bergeser menjadi kesenian Wayang Golek berbahasa Sunda yang disebabkan karena adanya perkembangan dunia seni.
Hal ini menjadi bukti bahwa kesenian Wayang Golek berbahasa Sunda ada ketika abad ke -17. Ketika pemerintahan Sultan Agung, penggemar seni pewayangan meningkat sehingga dalam penyebaran Wayang Golek dibebaskan dalam pemakaian bahasa masing-masing.
Pada akhirnya seni pewayangan berkembang dan menjangkau ke seluruh daerah Jawa Barat. Abad ke-20 perubahan bentuk wayang golek menjadi semakin variatif dan sempurna. Hasilnya merupakan bentuk Wayang Golek yang sekarang ini kita nikmati.
Terjadi penyempurnaan Wayang Golek Purwa Sunda yang terjadi sekitar abad ke-18, yang menjadikan indahnya bentuk Wayang Golek saat ini. Pada mulanya pertunjukan Wayang Golek ini diselenggarakan oleh para kaum priyayi (kaum bangsawan sunda), namun sekarang pementasan ini sudah dinikmati oleh siapapun.
Biasanya diselenggarakan untuk memeriahkan acara peringatan kabupaten, hari Kemerdekaan Indonesia, syukuran, hajatan dan lainnya.
Perkembangan Wayang Golek tidak lepas dari Dalang yang selalu mengembangkan seni tradisional ini. Dari abad ke 19 hingga abad ke 20, almarhum Ki. H. Asep Sunandar Sunarya yang telah memberikan inovasi indah terhadap Wayang Golek sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman.
Lewat jemari yang terampil dalam memainkan wayang kayu, Almarhum Asep dikenal hingga ke mancanegara. Tidak hanya sekali dua kali beliau tampil di luar negeri, melainkan berkali-kali beliau membawa Wayang Golek go internasional.
Tak disangka-sangka kebudayaan Indonesia ini diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia yang dianggap sangat mengagumkan. UNESCO mengesahkannya pada tahun 2003 yang lalu. Pemberian gelar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ini terjadi pada 7 November.
Wayang Golek ini memiliki tiga jenis, antara lain: Wayang Golek Cepak, Wayang Golek Purwa dan Wayang Golek Menak. Seperti dalam sejarahnya, Wayang Golek Cepak terkenal di Cirebon dengan cerita babad dan legenda.
Wayang Golek Purwa merupakan Wayang Golek yang ceritanya merupakan cerita Ramayana dan Mahabarata. Wayang Golek Menak merupakan Wayang Golek dengan cerita yang diceritakan cerita Amir Hamzah.
Seiring perkembangan zaman, ada juga yang disebut Wayang Golek Modern yang disebut sebagai Wayang Golek kreasi baru dengan menggabungkan teknologi modern dalam pertunjukan. Teknologi modern yang dimaksud berupa asap, pencahayaan warna hingga musik yang menggunakan alat musik modern.
Selain untuk menghibur masyarakat sekitar, Wayang Golek memiliki nilai budaya di dalamnya. Nilai-nilai ini disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan.
Kode etik inilah yang dinamakan “Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat”. Kode etik ini terdapat tujuh bagian yang ditekankan. Salah satunya adalah seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya.
Nilai budaya yang terdapat di Wayang Golek ini juga merupakan nilai dalam kebudayaan sunda, yaitu nilai budaya silih asih, silih asuh dan silih asah. Silih asih yaitu saling menyayangi dan mencintai antar anggota keluarga maupun masyarakat.
Pemberian kata ini dapat memberikan maksud saling menjaga, mengasuh dan merangkul antar individu.
Kebudayaan tradisional tentu harus kita jaga hingga kapanpun agar kebudayaan tersebut tidak luntur atau menghilang begitu saja. Wayang Golek merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang harus kita lestarikan.
Kabarnya sudah jarang diadakannya pagelaran di beberapa bagian di sekitar Kota Bandung. Hal ini mungkin bisa menjadi bagian yang perlu diperhatikan bagi penggiat kesenian.
Mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan agar lebih sering lagi mengadakan pagelaran wayang di beberapa bagian di Kota Bandung agar kesenian Wayang Golek selalu dilestarikan oleh masyarakat Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


