Alam telah memberikan banyak manfaat dalam setiap sektor kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya pertanian. Ucapan terima kasih manusia, sering kali diluapkan dalam wujud makanan atas keberkahan yang didapatkan dari hubungannya dengan alam.
Makanan Jong Labar, menjadi satu di antara simbol rasa syukur masyarakat Karo, Sumatera Utara, yang memiliki nilai kultural mendalam.
Dalam bahasa Indonesia, jong memiliki makna jagung. Dapat dikatakan bahwa Jong Labar adalah kue berbahan jagung muda manis yang dibungkus menggunakan daun lalu dikukus. Sekilas mirip seperti lepet atau lemet.
Bahan dan bumbu Jong Labar adalah jagung muda manis, kelapa, gula merah, tepung terigu, garam, merica, lada hitam, dan kulit jagung atau daun pisang sebagai bungkusannya. Setelah mengiris halus gula merah, jagung manis muda dan kelapa diparut, lalu semua bahan dan bumbu dicampur serta diaduk dalam wadah. Kemudian, adonan dibungkus membentuk persegi panjang secara hati-hati dan diikat rapi lalu dikukus hingga matang.
Jong Labar yang merupakan appetizer bercita rasa manis, dimaksudkan untuk memberi kenangan manis pada setiap pelaksanaan tradisi masyarakat Karo, seperti merdang merdam. Dalam beberapa sumber, Jong Labar merupakan satu di antara kudapan yang disediakan selama keberlangsungan tradisi tersebut.
Agrikultur menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat Karo. Mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani. Zaman dahulu, tujuan dari acara adat merdang merdem adalah ucapan syukur kepada roh nenek moyang atas hasil panen pertanian, khususnya padi.
Selain padi, jagung merupakan komoditas yang memiliki peranan penting dalam kebudayaan Karo. Keterikatan terhadap pangan jagung hadir dalam bentuk makanan, Jong Labar.
Dalam tradisi merdang merdem, terdapat 7 tahapan. Hari pertama, masyarakat mencari cikor-ko (serangga) untuk dimakan; hari kedua, menangkap cikurung (kurung) di sawah; hari ketiga, mencari ndurung (ikan) di kolam, tugas yang banyak melibatkan wanita. Hari keempat, mantem, menyembelih hewan berkaki empat seperti lembu, dipimpin oleh laki-laki.
Hari kelima matana,adalah puncak perayaan dengan hidangan khas dan hiburan seperti gendang dan artis Karo. Hari keenam nimpa, membuat makanan khas untuk buah tangan tamu. Hari ketujuh diakhiri dengan rebu, saat masyarakat beristirahat dan menenangkan diri di rumah masing-masing.
Tradisi merdang merdem dilaksanakan pada waktu dan penamaan yang berbeda di tiap daerah. Dewasa ini, merdang merdem kerap dikenal dengan istilah bahasa Indonesia, yaitu kerja tahun. Meskipun mengalami perubahan dan perbedaan, pesan moral dalam tradisi tetap mengajarkan nilai-nilai baik dalam kehidupan.
Nilai tersebut, seperti senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa; memanfaatkan tanaman padi sebagai makanan utama sekaligus mendukung perekonomian; menjaga harmoni sosial dan membangun komunikasi antaranggota keluarga; melestarikan, menghormati, dan memelihara tradisi lokal; bersikap dermawan dengan membantu dan memberi kepada mereka yang membutuhkan; menggunakan tradisi daerah sebagai sarana untuk mencari pasangan hidup; serta tetap mengingat keluarga meskipun tinggal jauh, dengan sesekali pulang untuk mengunjungi orang tua dan kerabat yang ditinggalkan.
Sejatinya, Jong Labar tidak hanya dijadikan simbol menghargai alam, tetapi juga cara menghargai hubungan sesama manusia. Jong Labar mencerminkan kearifan lokal Karo, seperti mangkok lawes mangkok reh yang berarti memberi dengan hati tulus akan membawa balasan kebaikan.
Hidangan manis yang dibuat dengan curahan ketulusan kelak akan mendapatkan balasan yang manis (baik) dari orang lain. Hidangan manis ini melambangkan persatuan dan niat baik untuk menjalin hubungan erat, sejalan dengan pepatah lainnya, bagi buluh belin sada ndapuren.
Variasi Jong Labar ada yang menggunakan lada hitam dan tidak, disesuaikan dengan selera tamu. Hal ini menunjukkan toleransi dan kepedulian, sesuai kearifan pangan labo ate keleng, tapi angkar beltek, yang mengajarkan pentingnya mempertimbangkan dampak setiap tindakan.
Jong Labar dalam merdang merdem menunjukkan nilai kepedulian serta toleransi yang teramat berharga. Masyarakat Karo mengerti, bahwa makanan bukan hanya sekadar penghilang rasa lapar, melainkan cara hidup, identitas budaya, peran kuat sosial-ekonomi, dan kearifan lokal.
Referensi:
- Fahri, F, dkk. (2023). PESAN MORAL PADA TRADISI LISAN MERDANG MERDEM
KALAK KARO. Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
- Hartati, C. D., Rosramadhana, & Chandra, Y. N. (2020). Local Wisdom in The Form of Traditonal Food, Corn in Karo People Tradition. Proceedings of the 2nd International Conference on Social Science and Character Educations (ICoSSCE 2019) (hal. 212-216). Atlantis Press.
- Ketaren, B. (2002). Gastronomi Upaboga Indonesia. Adi Gastronom Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


