Saat membicarakan rumah adat Jawa Tengah, kita pasti selalu menyebutkan joglo sebagai representasinya. Namun, tahukah Kawan GNFI, ternyata bentuk rumah tradisional Jawa bukan hanya joglo?
Arsitektur bangunan Jawa memiliki beberapa tipe dengan fungsi, struktur, dan filosofi yang berbeda. Bahkan, bentuk rumah tradisional Jawa mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga menciptakan warisan kekayaan arsitektur.
Sebagai istilah yang terbilang paling familier, joglo merupakan salah satu dari empat bentuk bangunan yang disebutkan dalam naskah-naskah lama mengenai rumah berarsitektur tradisional Jawa. Bentuk rumah tradisional Jawa selain joglo yakni tajug, limasan, dan kampung.
Yuk, berkenalan dengan jenis rumah adat Jawa Tengah selain joglo. Kira-kira apa ciri unik, struktur bangunan, sejarah asal-usul, dan makna filosofis setiap rumah adat khas Jateng tersebut?
Apa Saja Jenis Rumah Adat Jawa Tengah?
Nah, berikut beberapa variasi bentuk dan jenis rumah adat Jawa Tengah:
1. Tajug
Menurut naskah-naskah tentang bangunan rumah berarsitektur Jawa, bentuk atap tajug terdiri dari tajug dan langgar.
Menurut Pemda DIY, kata tajug berasal dari kata bahasa Arab yaitu taj/taju, yang berarti mahkota. Atap rumah tajug memiliki desain bujur sangkar atau persegi yang sama panjang di setiap sisinya. Desain atapnya yang runcing menyimbolkan Keesaan Sang Pencipta.
2. Joglo

Contoh Gambar Rumah Joglo, Rumah Khas Jawa Tengah | Wikimedia Commons @Humboldt
Pada bentuk atap joglo, terdapat variasi yakni kepuhan, pangrawit, trajumas, wantah, ceblokan, tawon boni, dan semar tinandhu.
R.M.T. Sunarmi (2012) menyebut rumah joglo dulunya hanya dikhususkan untuk tempat tinggal kaum bangsawan, raja, atau kalangan atas lain yang terpandang. Struktur bangunan joglo terdiri dari pendapa, pringgitan, dan ruang belakang yang hanya diakses oleh keluarga. Sementara itu, struktur atap joglo dibuat serupa dengan gunungan dan memiliki tumpang sari.
Dikutip dari Fahira (2026), Sari dan Mutiari (2014) menjelaskan bahwa desain rumah Joglo menyimpan makna filosofis berupa simbol empat arah mata angin, dilihat dari struktur 4 soko guru atau tiang utama pendopo.
Selain itu, tumpang sari yang sengaja disusun bertingkat melambangkan tingkatan untuk menuju pada suatu titik puncak, yang terdiri dari seriat, tarekat, hakekat, dan makrifat.
3. Limasan
Bentuk atap rumah limasan memiliki banyak variasi. Variasi tersebut adalah nom, sinom, kampung bali, bapangan, klabang nyander, trajumas, gajah ngombe, gajah mungkur, pacul gowang, semar tinandhu, dan srotongan.
Rumah limasan biasanya punya struktur bangunan yang lebar dan terbuka. Atapnya sekilas mirip dengan joglo, tetapi tidak memiliki tumpang sari.
Desain rumah limasan yang cenderung sederhana membawa filosofi sikap sederhana, rasa hormat, dan keharmonisan dalam lingkungan masyarakat Jawa (Rohmah, 2020).
4. Kampung
Bentuk atap kampung juga punya cukup banyak variasi. Bentuk atap kampung terdiri dari nom, srotongan, dara gepak, jompongan, gajah ngombe, trajumas, pacul gowang, semar tinandhu, dan gedhang salirang.
Pemda DIY mengungkapkan bahwa bentuk rumah kampung sebenarnya merupakan hasil perkembangan dari tajug, joglo, dan limasan.
Diksi "kampung" berasal dari kata kapung atau katepung yang berarti dihubungkan, karena untuk mempermudah pendirian rumah kita cukup menghubungkan dua bidang atap serta mengurangi beberapa kayu pada bentuk tajug, joglo, dan limasan.
5. Panggang pe atau Cakrik

Contoh Gambar Panggang Pe Barengan, Khas Jawa Tengah dan DIY | Pemda DIY
Menurut Mintoboedoyo dalam Hamzuri (1986), bangunan dengan atap berbentuk panggang pe dibedakan sebagai berikut panggang pe pokok, panggang pe trajumas, panggang pe gedang selirang, panggang pe gedang setangkep, panggang pe empyak setangkep, panggang pe bentuk kios, panggang pe kodokan, panggang pe cere gancet, dan panggang pe barengan.
Menurut laman resmi Museum Ranggawarsita, nama rumah panggang pe berasal dari kata "panggang" dan "ape" yang artinya dijemur. Hal ini karena rumah tradisional Jateng ini dulunya digunakan untuk menjemur barang komoditas industri pertanian masyarakat.
Jika dirangkum dalam tabel, berikut 5 jenis rumah adat Jawa Tengah:
| Jenis | Bentuk Atap | Fungsi | Pengguna |
| Tajug | Bujur sangkar sama sisi | Tujuan sakral dan spritual, seperti masjid | Masyarakat luas |
| Joglo | Serupa gunungan dan punya tumpang sari | Rumah tinggal kalangan tertentu | Kaum kalangan atas, bangsawan |
| Limasan | Mirip joglo, tapi tidak ada tumpang sari | Rumah tinggal warga | Masyarakat Jawa biasa |
| Kampung | Gabungan 2 bidang atap pada bentuk tajug, joglo, dan limasan | Rumah hunian | Masyarakat biasa menegah ke bawah |
| Panggang pe | Bentuk dasar cenderung persegi panjang dan ditopang empat buah tiang | Menjemur barang hasil komoditas tani/kebun | Masyarakat petani/pekebun |
Apa Perbedaan Kelima Jenis Rumah Adat Jawa Tengah?

Perbedaan Jenis Rumah Adat Jawa Tengah, Tajug hingga Joglo | Pemda DIY
Berikut perbedaan lima rumah adat Jawa Tengah:
| Jenis | Bentuk Atap | Fungsi | Filosofi | Status Pengguna |
| Rumah Tajug | Persegi | Tujuan sakral dan spritual, seperti masjid | Atap runcing melambangkan Keesaan Tuhan | Masyarakat luas |
| Rumah Joglo | Serupa gunungan dan punya tumpang sari | Rumah tinggal kalangan tertentu | 4 arah mata angin, tingkatan untuk menuju pada suatu titik puncak | Bangsawan, kalangan atas karena mahal |
| Rumah Limasan | Mirip joglo, tapi tidak ada tumpang sari | Rumah tinggal masyarakat Jawa | Kesederhanaan, kehormatan | Masyarakat biasa karena lebih sederhana |
| Rumah Kampung | gabungan 2 bidang atap pada bentuk tajug, joglo, dan limasan | Rumah hunian | - | Masyarakat biasa menegah ke bawah |
| Rumah Panggang pe | Bentuk dasar cenderung persegi panjang dan ditopang empat buah tiang | Menjemur barang hasil komoditas tani/kebun | - | Masyarakat petani/pekebun |
Sejarah Perkembangan Bentuk Rumah Tradisional Jawa
Gaya arsitektur tradisional Jawa secara umum terbagi menjadi Mataram Kuno, Mataram Islam, dan Kraton Yogyakarta. Hal ini tercantum dalam Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 48 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2017 tentang Arsitektur Bangunan Berciri Khas Daerah Istimewa Yogyakarta.
Aturan tersebut juga memaparkan ciri-ciri gaya arsitektur tradisional Jawa. Salah satunya adalah bentuk atap bangunan utama berbentuk kampung, limasan, tajug, joglo, dan/atau varian dari masing-masing bentuk tersebut.
Perkembangan bentuk rumah tradisional Jawa berdasarkan bentuk atapnya pada dasarnya terbagi menjadi empat jenis yang telah disebutkan di atas. Melansir situs Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, awalnya yang dipakai sebagai pedoman adalah bentuk taj/taju.
Kata taj/taju berasal dari bahasa Arab yang berarti mahkota. Istilah tersebut kemudian lebih dikenal sebagai tajug. Atap ini berbentuk bujur sangkar yang keempat sisinya sama panjang.
Dari bentuk atap inilah kemudian tercipta joglo. Atap berbentuk joglo pada dasarnya merupakan gabungan dari dua atap tajug.
Istilah joglo itu sendiri berasal dari kata jug-loro, yaitu tajug-loro, yang artinya dua buah tajug. Pada bangunan jug-loro ini, terdapat rangkaian balok kayu (balungan) di bagian tengah yang disebut dengan gajah.
Bangunan tersebut kemudian mengalami perkembangan bentuk lain yang disebut limasan. Limasan berasal dari kata liman-sap. Istilah liman-sap awalnya disebut sebagai gajah-sap yang artinya gajah ganda/rangkap. Liman sama artinya dengan gajah.
Selanjutnya, dari tiga variasi tersebut, berkembang lagi menjadi bentuk kampung. Kata kampung berasal dari kata kapung/katepung yang artinya dihubungkan.
Pada pendirian rumah kampung, cukup menghubungkan dua bidang atap dan meniadakan kelengkapan kayu lainnya yang ada pada ketiga bentuk rumah sebelumnya.
Selain keempat jenis yang telah dibahas tersebut, masih ada satu lagi istilah yang kerap muncul berkaitan dengan bangunan rumah berarsitektur Jawa, yakni panggang pe. Bangunan beratap jenis ini tidak dikenal dalam literatur lama tentang bangunan rumah berarsitektur Jawa. Namun, dalam literatur selanjutnya, terdapat atap berbentuk serupa.
Menurut Hamzuri dalam terbitannya di tahun 1986, panggang artinya dipanaskan di atas bara api. Sementara itu, pe dari kata epe yang berarti dijemur dalam sinar matahari,.
Bangunan dengan bentuk atap panggang pe merupakan bangunan kecil dengan atap yang ditopang empat buah tiang atau lebih. Atapnya digunakan untuk menjemur hasil pertanian/Perkebunan. Bangunan ini banyak ditemukan di daerah yang menghasilkan produk pertanian/perkebunan.
Kawan GNFI, itulah gambaran mengenai ragam jenis rumah adat Jawa Tengah. Apakah Kawan GNFI sudah pernah melihat rumah tradisional Jawa?
Kawan bisa mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu wilayah yang menyimpan warisan arsitektur tradisional tersebut, ya!
REFERENSI
- https://nazharat.fah.uinjambi.ac.id/index.php/nazharat/article/view/35
- https://repository.unika.ac.id/18559/1/TUTUR%20RUPA%20JOGLO.pdf
- https://journals.ums.ac.id/index.php/sinektika/article/download/1441/989
- https://warmandpro.pages.dev/2026/07/23/banyak-yang-mengira-sama-inilah-perbedaan-utama-rumah-joglo-dan-rumah-limasan
- https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/Mengenal-Bangunan-Berarsitektur-Tradisional-Jawa-Jenis-Bangunan-Menurut-Bentuknya-Tajug-Joglo-Limasan-dan-Kampung
- https://ranggawarsitamuseum.id/map/4/52
- https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/853-mengenal-bangunan-berarsitektur-tradisional-jawa-bangunan-panggang-pe-bagian-2
- https://warmandpro.pages.dev/2026/07/23/rumah-adat-jawa-tengah
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


