afutami anggap partisipasi kebijakan publik seperti beli es kopi semua berhak review - News | Good News From Indonesia 2025

Afutami Anggap Partisipasi Kebijakan Publik Seperti Beli Es Kopi, Semua Berhak Review

Afutami Anggap Partisipasi Kebijakan Publik Seperti Beli Es Kopi, Semua Berhak Review
images info

Afutami Anggap Partisipasi Kebijakan Publik Seperti Beli Es Kopi, Semua Berhak Review


Andytha Firselly Utami atau biasa dipanggil Afutami adalah ekonom lingkungan Indonesia memiliki kepedulian terhadap isu yang berdampak kepada masyarakat. Terutama soal kebijakan publik, di mana isu itu membuatnya mengambil gelar Kebijakan Publik dari Harvard University setelah lulus dari Hubungan Internasional Universitas Indonesia.

Kepedulian Afu terhadap kebijakan publik membuat dirinya mendirikan Think Policy Society, sebuah wadah untuk mendiskusikan kebijakan publik antargenerasi. Di organisasi itu, seluruh kalangan bisa saling berjejaring dan bertukar informasi mengenai banyak isu, seperti trasisi digital hingga ekonomi hijau.

Afu tak lupa pula memerhatikan sikap kritis anak muda dalam menanggapi kebijakan publik pemerintah. Menurutnya, anak muda yang memiliki nalar kritis niscaya bisa menilai dan berani bersuara jikalau ada kebijakan yang merugikan banyak orang.

Sikap Kritis Anak Muda

Afu mengakui bersama rekan-rekannya di Think Policy Society kerap menganalogikan sikap masyarakat terhadap kebijakan publik seperti pasar, di mana semua orang bercampur baur untuk menjual dan membeli barang dagangan. Termasuk anak muda, yang mayoritas dianggapnya “pembeli” dari berbagai latar belakang, ada yang paham dan juga tidak paham mengenai kebijakan publik.

Alangkah meruginya bila anak muda yang kurang pemahaman politik, karena kebijakan publik yang diambil dari pemerintah biasanya langsung dipercaya begitu saja. Namun, jika ada anak muda yang memiliki nalar politik tinggi alangkah beruntungnya semua orang, karena mereka bisa memberi kritikan, penilaian, dan mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah yang tak semuanya menguntungkan bagi masyarakat. Afu pun merasa daya kritis anak muda seperti itulah yang bisa membantu dalam mengontrol kebijakan publik pemerintah.

“Kalau kita sebagai ‘pembeli kritis’, enggak mau programnya jelek, enggak mau uang dikorupsi, enggak mau pajak enggak adil, kelas tinggi enggak dipajakin atau orang terkaya enggak dipajakin, dan seterusnya,” ucap Afu kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Afu sendiri menilai tidak baik berdiam diri dan alfa mengkritisi kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah. Menurutnya siapa saja – khususnya anak muda – memiliki hak bersuara jika kebijakan yang diterapkan cenderung merugikan. Ia pun mengibaratkan hal itu serupa membeli es kopi, jadi pengonsumsinya berhak memberi review atau penilaian.

“Kebijakan publik itu sesimpel kalau kita beli es kopi terus enggak suka rasanya kita review, bilang sama toko kopinya gulanya kebanyakan atau kepahitan, asam, atau apa pun. Kita terbiasa komplain tentang kopi yang kita beli tapi enggak terhadap kebijakan pemerintah. Padahal kopi itu paling kita minum 10 menit, tapi kalau kebijakan pemerintah dampaknya bisa lima tahun or even more, terus diam aja, itu kan hal terabsurd,” katanya lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.