Nusantara terlukis oleh semesta budaya, melahirkan negara dengan ragam rupa eloknya bernama Indonesia. Keanekaragamannya menghiasi tanah zamrud khatulistiwa, menjadikan ibu pertiwi begitu istimewa. Pesona inilah yang perlu dijaga, melalui tangan-tangan pelestari budaya.
Budi Agustina atau akrab disapa Etin. Wanita paruh baya yang selalu percaya pada magisnya karya Nusantara. Dengan keteguhannya, Etin mendedikasikan diri sebagai tokoh budaya yang melahirkan seniman-seniman penyelamat tradisi bangsa. Dari jerih payahnya, lahirlah Ayodya Pala, sebuah sanggar tari Indonesia yang menyihir mata mancanegara.
“Pada tahun 1979 itu mulai dirintis nama itu, Ayodya Pala. Tahun 1980 kita ajukan berupa yayasan. Tanggal 24 April 1981, akte yayasannya baru turun, jadi satu tahun setelah itu. Nah, kita memperingatinya jadi mulai tahun 80 sejak diberi nama Ayodya Pala. Waktu itu saya masih kelas 2 SMA, ” ungkap Etin, pendiri sekaligus Pimpinan Ayodya Pala, ketika diwawancarai di Ayodya Pala Indonesian Art Center, Depok, Jawa Barat.
Berawal Dari Panggung 17 Agustus
Etin merintis Ayodya Pala sejak di bangku sekolah. Saat duduk di kelas 3 SMP, Etin mengaku sudah gemar mempelajari tari-tarian Nusantara. Meski hanya berawal dari panggung 17 Agustus, semangat Etin mempertahankan eksistensi budaya nusantara tak pernah luntur.
Kegigihannya mendapat antusias baik dari warga sekitar. Etin mampu menciptakan panggung budaya dalam pentas kecil warga. Melihat respon yang positif, latihan tari pun terus berjalan, hingga dibentuklah sanggar yang menaungi anak-anak muda berbakat bernama Ayodya Pala.
“Saya dari Setiabudi Jakarta pindah ke Depok, kemudian bikin sanggar, dan itu secara tak sengaja. Waktu itu saya masih SMP kelas 3, jadi di lingkungan tempat tinggal saya ada peringatan 17 Agustus-an, saya mengajar menari untuk persiapan acara 17-an. Pada saat tampil itu sukses dan masyarakat sekitar tuh ingin terus ada kegiatan itu,” ujar Etin.
Ayodya Pala bukan sekadar nama. Ayodya Pala lahir dari suguhan cipta, rasa, dan karsa. Nama ini tak tercipta begitu saja. Etin memberikan nama Ayodya Pala dengan penuh makna. Di dalamnya tersirat do'a-doa’ Etin agar nama ini bisa menjadi jalan pembuka untuk kelestarian budaya bangsa.
“Ayodya itu dari epos Ramayana, tempat Rama dilahirkan, di mana negeri itu tempat para satria menempah ilmu, negerinya diceritakan Gemah Ripah Loh Jinawi. Kemudian Pala-nya itu kita ambil dari Sumpah Palapa Majapahit. Jadi kita mengembangkan, melestarikan, bukan hanya satu etnik, tapi etnik Nusantara dari Aceh sampai Papua,” jelas Etin.
Berdirinya Ayodya Pala tak jauh dari jatuh bangun Etin dalam mempertahankan sanggar tari ini. Padatnya jumlah siswa membuat Ayodya Pala kesulitan dalam mencari tempat yang mampu menaungi seluruh siswa. Namun, setiap niat baik pasti menemukan jawaban. Selama puluhan tahun berdiri, Ayodya Pala berhasil membesarkan namanya dan mengatasi segala kesulitan bersama.
“Masalah fasilitas sarana-prasarana yang kadang memang sulit ditebak, tergantung kebutuhan. Kalau kita perlu kolosal-kolosal kan perlu tempat yang luas. Lalu, kendala lainnya adalah dukungan, kurangnya dukungan waktu itu terutama panitia penyelenggara. Tapi beberapa belas tahun kebelakang ini kendala itu hampir tidak ada,” ungkap Etin.
Ayodya Pala bukan saja sanggar tari, tapi sumber budi pekerti. Siswa Ayodya Pala dibekali pemahaman mengenai kemandirian, kebersamaan, dan toleransi. Mereka ditanamkan untuk membenamkan rasa cinta terhadap budayanya sendiri. Bagaimana unggah-ungguh-nya seorang pribadi Nusantara betul-betul ditanamkan di sini.
Sukes Raih Penghargaan Kelas Dunia
Ayodya Pala sukses mengajak generasi muda untuk belajar budaya. Tak hanya di wilayah Depok, sanggar tari ini sudah memiliki 42 cabang di Jabodetabek dengan kurang lebih 3.500 siswa.
Ketulusan Etin dalam membangun sanggar budaya membuahkan kejayaan. Nama Ayodya Pala kini menggema di atap dunia. Ayodya Pala berhasil meraih berbagai penghargaan dan tampil di pentas kelas dunia.
“Yang paling berkesan buat saya adalah berbagai penghargaan yang kita dapat dari event-event luar negeri. Kita pernah dapat (penghargaan) Honoris Causa dari Lefkada, dari Athena, dari Pemerintah Yunani, kemudian dari Pemerintah Spanyol, lalu dari Myanmar, Filipina, Vancouver, terakhir itu dari Korea,” kata Etin.
Ayodya Pala berhasil membentangkan sayapnya. Bukan cuma di mata dunia, kehadiran Ayodya Pala turut disambut baik oleh masyarakat Indonesia. Ayodya Pala kerap kali melakukan kerja sama dengan beberapa mitra lokal.
Di antaranya, seperti Pemerintah Provinsi Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Akademi Televisi Indonesia (ATVI), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) , BIPA UI, Kementerian Luar Negeri, Kemenparekraf, hingga Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Bagi Etin, sedikit aksi untuk tetap lestari begitu berarti. Meski mendapat cibiran sana-sini. Hati Etin tetap teguh untuk membudayakan tari dan melestarikan kekayaan Nusantara. Dari tari, Ayodya Pala mampu menghidupi banyak orang dan berdiri di kaki sendiri.
“Jadi kita harus bangga, intinya kita harus bangga dengan budaya kita sendiri. Tadinya orang memandang sebelah mata, dengan apa sih nari, apa bisa buat masa depan. Nyatanya di sini bisa untuk meraih penghasilan yang secara reguler mereka bisa menghidupi keluarganya,” pungkas Etin.
Keemasan Ayodya Pala tak lain dan tak bukan adalah hasil keringat Etin. Ayodya Pala kian menggema. Ayodya Pala membuktikan kesenian adalah kekayaan yang perlu diwariskan.
Melalui Ayodya Pala, lahir pelestari budaya. Dari Ayodya Pala, budaya Indonesia abadi dalam seni tari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


