“Yang sering jadi masalah bukan hanya virusnya, tapi keterlambatan mengenali tanda bahaya dan keterlambatan akses layanan,” kata dr. Nurmila, M.Kes, Sp.PD, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unismuh Makassar.
Istilah super flu kembali beredar luas. Kali ini pemicunya lonjakan kasus influenza di Amerika Serikat dan Eropa pada musim flu 2025/2026. Lonjakan ini disebut berkaitan dengan influenza A (H3N2) subclade K, varian flu musiman yang mengalami perubahan genetik sehingga lebih mudah menyebar.
Memang, dari namanya istilah ini terdengar menakutkan. Apalagi publik masih mengingat bagaimana Covid-19 pernah melumpuhkan berbagai aktivitas. Akan tetapi, para ahli mengingatkan bahwa yang berbahaya bukanlah istilahnya, melainkan keterlambatan dalam mengenali dan merespons risikonya.
Apa Itu Super Flu?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unismuh Makassar, dr. Nurmila, M.Kes, Sp.PD, menegaskan bahwa super flu bukan istilah ilmiah dan tidak dikenal dalam terminologi medis. Penyebutan tersebut lebih banyak muncul sebagai respons atas meningkatnya jumlah kasus influenza dan beratnya gejala yang dirasakan sebagian pasien.
Secara ilmiah, fenomena tersebut dikaitkan dengan varian influenza A H3N2 subclade K. Varian ini dipantau karena pola penyebarannya yang relatif cepat, bukan karena terbukti menyebabkan tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman lainnya.
Kekhawatiran utama muncul ketika lonjakan kasus terjadi dalam waktu singkat, sehingga berpotensi membebani fasilitas layanan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.
“Super flu itu label media. Secara ilmiah yang dibahas adalah H3N2 subclade K—dan sampai saat ini, laporan lembaga kesehatan menunjukkan tidak ada bukti kuat bahwa varian ini otomatis lebih mematikan. Namun, ia bisa membuat kasus meningkat cepat dan layanan kesehatan kewalahan,” ujar dr. Nurmila, dikutip dari laman Unismuh Makassar.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, juga menekankan hal serupa.
“Super flu bukan merupakan terminologi medis. Istilah ini kerap dipakai oleh orang awam untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subclade K,” ujar Piprim.
Apa itu H3N2 subclade K?
Influenza A H3N2 adalah salah satu tipe virus flu musiman. Virus ini dikenal cepat berubah melalui proses yang disebut antigenic drift.
Antigenic drift adalah perubahan kecil pada virus flu yang terjadi secara bertahap. Perubahan ini membuat sistem kekebalan tubuh tidak selalu langsung mengenali virus tersebut, meski seseorang pernah terkena flu atau sudah divaksin.
Menurut Pekosz, sebagian mutasi memungkinkan virus menghindari perlindungan dari vaksin, sehingga gejala terasa lebih berat bagi sebagian orang.
“Virus flu bermutasi dengan cepat, dan mutasi ini bisa memberikan keuntungan bagi virus tersebut,” kata ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, Ph.D.
Situasi di Indonesia Masih Terkendali
Hingga November 2025, Kementerian Kesehatan RI menyatakan belum menemukan kasus influenza akibat subclade K di Indonesia. Surveilans genomik National Influenza Center (NIC) masih menunjukkan dominasi H3N2 clade 3C.2a.
Meski demikian, para ahli menilai potensi masuk tetap ada mengingat mobilitas global yang tinggi. Karena itu, penguatan surveilans dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama.
Gejalanya Umum, Penanganannya Sudah Dikenal
Secara klinis, influenza H3N2 memiliki gejala yang mirip flu musiman, seperti:
- Demam
- Batuk dan pilek
- Nyeri tenggorokan
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Lemas
Pada sebagian kasus, keluhan bisa terasa lebih mendadak dan berat. Namun, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat pulih dengan baik.
Dr. Piprim menekankan pentingnya perhatian khusus pada anak-anak dan kelompok rentan, terutama jika gejala tidak membaik.
Bagi orang tua, fokus utama bukan panik, tetapi pencegahan dan pengenalan tanda bahaya.
Vaksin Tetap Penting dan Cara Pencegahan Lain
Para ahli menyebut vaksin influenza tetap berperan dalam menurunkan risiko penyakit berat. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) tetap merekomendasikan vaksin influenza untuk semua orang usia enam bulan ke atas. Meski tidak sempurna, vaksin menurunkan risiko sakit berat dan rawat inap.
“Vaksin mencakup tiga jenis influenza. Dengan dua di antaranya, kecocokannya cukup baik, dan kami percaya vaksin tetap memberi perlindungan parsial terhadap clade ini,” kata Pekosz.
Alih-alih khawatir berlebihan, para ahli mendorong masyarakat untuk bersikap tenang dan terinformasi. Oleh karena itu, dr. Nurmila mengingatkan orang tua untuk memusatkan perhatian pada langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dari rumah. Upaya ini penting untuk menekan risiko penularan influenza sekaligus mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Pencegahan, menurutnya, dapat dimulai dengan vaksin influenza tahunan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan, sesuai rekomendasi dokter. Selain itu, kebiasaan sederhana namun efektif seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat bergejala flu berperan besar dalam memutus rantai penularan.
Ia juga menekankan pentingnya istirahat di rumah ketika anak sedang sakit. Langkah ini bukan hanya membantu proses pemulihan, tetapi juga mencegah penularan di sekolah dan melindungi anggota keluarga lain di rumah. Dengan kombinasi pencegahan tersebut, risiko influenza, termasuk super flu dapat ditekan secara signifikan.
Dengan pemahaman yang tepat, influenza—termasuk varian yang sedang dipantau—dapat dihadapi secara rasional, aman, dan terkendali.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


