Menjelang penutupan tahun 2025, pemerintah mulai memetakan arah kebijakan ekonomi nasional untuk tahun 2026 dengan satu visi besar, yaitu memperkuat ketahanan sekaligus mempercepat transformasi. Di tengah situasi dunia yang penuh tantangan, Indonesia berupaya tidak sekadar merespons guncangan global, tetapi juga mengambil peluang melalui mesin ekonomi baru seperti ekonomi digital, ekonomi hijau, hingga hilirisasi industri.
Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah sekaligus Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan bahwa kunci dari akselerasi ini adalah kolaborasi antara pembiayaan APBN dan sektor-sektor strategis. Menurutnya, instrumen fiskal tahun 2026 dirancang untuk menjadi katalis pertumbuhan yang berkualitas dan mampu menciptakan lapangan kerja secara luas.
“Jadi APBN 2026 akan hadir sebagai pendongkrak pertumbuhan, memicu efek berlipat perekonomian melalui 8 program prioritas dalam APBN 2026,” ungkap Haryo dikutip dari keterangan tertulis.
Berikut adalah delapan pilar prioritas yang akan menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia di tahun 2026:
1. Transformasi Bidang Pendidikan
Pemerintah menempatkan pendidikan sebagai investasi manusia yang fundamental. Fokus utamanya adalah mencetak talenta-talenta unggul, terutama di bidang teknologi, agar tenaga kerja Indonesia memiliki daya saing tinggi di tengah pesatnya perkembangan industri digital global.
2. Penguatan Pertahanan Semesta
Stabilitas nasional menjadi syarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi. Melalui konsep pertahanan semesta, pemerintah ingin menjamin iklim investasi yang aman dan posisi tawar Indonesia yang solid dalam diplomasi internasional maupun rantai pasok global.
3. Ketahanan Energi dan Transisi Hijau
Kemandirian energi dikejar melalui percepatan transisi energi hijau dengan dana JETP yang kini mencapai USD 21,4 miliar. Proyek seperti bioenergi B40/B50 serta pembangunan Green Super Grid sepanjang 70.000 km disiapkan untuk memastikan pasokan energi bersih yang andal bagi industri maupun masyarakat.
4. Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas gizi generasi muda sekaligus menggerakkan ekonomi akar rumput. Dengan menyerap produk pertanian dan peternakan lokal, MBG diharapkan mampu memberikan efek ekonomi yang nyata bagi para peternak dan petani di berbagai daerah.
5. Peningkatan Sektor Kesehatan
Infrastruktur dan layanan kesehatan dasar terus diperkuat guna memastikan produktivitas nasional tidak terganggu. Kesehatan yang terjamin bagi seluruh lapisan masyarakat dipandang sebagai modal dasar untuk mencapai transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
6. Pemberdayaan Koperasi dan UMKM
Sebagai tulang punggung ekonomi nasional, UMKM didorong untuk naik kelas melalui digitalisasi. Target pengguna aktif QRIS sebanyak 60 juta orang pada 2026 menjadi salah satu cara pemerintah untuk membawa pelaku usaha kecil masuk ke dalam ekosistem keuangan yang lebih modern dan luas.
7. Mewujudkan Ketahanan Pangan
Hilirisasi di sektor pangan terus diperkuat guna memastikan ketersediaan stok nasional dan stabilitas harga. Pemerintah berupaya menjaga agar rantai pasok dari petani ke pasar berjalan efisien, sehingga Indonesia tidak rentan terhadap fluktuasi harga pangan dunia.
8. Akselerasi Investasi dan Hilirisasi
Minat investor pada sektor hilirisasi nikel, bauksit, hingga tembaga menunjukkan tren yang sangat positif dengan pertumbuhan realisasi investasi mencapai 58,1% pada akhir 2025. Pemerintah terus memacu ekosistem kendaraan listrik dan industri bernilai tambah tinggi lainnya guna memperkuat struktur ekonomi nasional.
Haryo Limanseto mengingatkan bahwa seluruh kemajuan ekonomi yang ditargetkan pada 2026 ini merupakan hasil kerja kolektif dari berbagai pihak.
“Kemajuan ekonomi 2026 adalah hasil kerja kolektif. Mari bersama kita jaga momentum optimisme melalui sinergi kebijakan untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


