gerakan pelestarian permainan tradisional hadir di universitas widya mataram membekali siswa i sd mahasiswa dan maryarakat umum terkait permaianan tradisional - News | Good News From Indonesia 2026

Gerakan Pelestarian Permainan Tradisional Hadir di Universitas Widya Mataram

Gerakan Pelestarian Permainan Tradisional Hadir di Universitas Widya Mataram
images info

Gerakan Pelestarian Permainan Tradisional Hadir di Universitas Widya Mataram


Di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi digital yang terus berkembang pesat, permainan tradisional di Indonesia mulai terpinggirkan dari kehidupan anak-anak.

Sebagai bentuk kepedulian dan implementasi dalam konteks keilmuan yang dipelajari, mahasiswa mata kuliah Manajemen Event Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram Yogyakarta melakukan inisiasi acara bertajuk “JENTARA (Jejak Nusantara Traditional Arena)” sebagai upaya konkret dalam melakukan pelestarian dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya permainan tradisional pada generasi muda khususnya anak-anak usia sekolah dasar, mahasiswa, dan tentunya masyarakat umum.

Kegiatan JENTARA ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Univesitas Widya Mataram, Dr. As. Martadani Noor, M.A. Dalam sambutannya menegaskan bahwa adanya pelaksanaan acara ini menjadi sebuah sarana yang tepat untuk mengenalkan permainan tradisional sekaligus ajang nostalgia bagi masyarakat dan mahasiswa terkait sebuah permainan tradisional.

"Acara seperti ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya kita. Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti kerjasama, kejujuran, dan sportivitas," ujar Dr. As. Martadani Noor.

Beliau juga menyampaikan harapan agar acara ini dapat dilaksanakan kembali dengan target peserta yang lebih luas, termasuk siswa-siswi SMA, sehingga dapat menjadi ajang promosi kampus sekaligus memperluas jangkauan pelestarian budaya.

JENTARA yang merupakan tema dalam Banyuraden Art Festival#2 hadir dengan membawa konsep pelestarian permainan tradisional yang terdiri dari beberapa sub acara, pertama adalah lomba permainan tradisional.

Lomba permainan tradisional ini diikuti oleh siswa-siswi dari 4 SD se-kelurahan Banyuraden. Setiap sekolah mengirmkan masing-masing 10 anak untuk mengikuti beberapa cabang lomba permainan tradisional berupa; kelereng individu yang menguji ketangkasan dan konsentrasi, egrang yang melatih keseimbangan dan keberanian, bakiak yang mengajarkan kekompakan dan kerjasama tim, lempar kolong yang mengasah ketepatan dan strategi, dan benthik yang membangun kecepatan reaksi dan kerjasama.

Ke-lima permainan dipilih sebagai bentuk komitmen dari panitia selain mengenalkan permainan tradisional juga memberikan pemahaman konsep kerjasama dan strategi yang tepat dalam sebuah kehidupan bermasyarakat.

Lomba ini mendapatkan antusias yang luas tidak hanya dari SD melainkan masyarakat umum juga datang untuk menyaksikan lomba tersebut. Berdasarkan lomba tersebut, SD N Banyuraden mendapatkan juara umum pertama, kemudian disusul juara dua yaitu SD N Kanoman, SD Muhammadiyah Banyuraden sebagai juara tiga, dan SD N Patran sebagai juara keempat.

Selanjutnya, terdapat kegiatan rilis majalah KOMA#2 yang mengangkat tema besar kelurahan banyuraden dan permainan tradisional. Majalah ini sebagai bentuk karya tulisan atas tema besar Jentara terkait permainan tradisional. Beberapa rubrik menarik yang tersaji dalam majalah ini antara lain:

  • Sejarah dan filosofi permainan tradisional Nusantara
  • Data dan dokumentasi permainan tradisional di Yogyakarta
  • Profil kebudayaan Kelurahan Banyuraden
  • Wawancara dengan tokoh budaya dan pelaku pelestarian permainan tradisional
  • Liputan mendalam tentang nilai-nilai edukatif dalam permainan tradisional

Majalah ini tidak hanya tersedia dalam bentuk cetak, tetapi juga versi digital yang dapat diakses melalui QR code yang disediakan di area acara. Inovasi ini memudahkan mahasiswa, peserta, dan masyarakat umum untuk mengakses informasi tentang permainan tradisional kapan saja dan di mana saja.

Sebelum memasuki sesi sarasehan, para hadirin dimanjakan dengan penampilan Tari Golek Ayun-Ayun yang ditampilkan oleh penari dari sanggar tari lokal Kanoman yaitu Atika Zahra Garnis Ratifa. Tarian tradisional Jawa ini menggambarkan keanggunan dan kelembutan seorang putri yang sedang berdandan dan bersolek di depan cermin.

Golek Ayun-Ayun merupakan tarian klasik gaya Yogyakarta yang menampilkan gerakan-gerakan lemah gemulai dengan ayunan tubuh yang khas. Tarian ini mengandung makna filosofis tentang kesabaran, ketelitian, dan keindahan dalam setiap gerak kehidupan.

Melalui penampilan ini, panitia ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya terbatas pada permainan tradisional, tetapi juga seni tari yang merupakan bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Nusantara.

Sesi terakhir adalah acara Sarasehan Budaya yang bertajuk Sibujo (Sinau Budoyo Jowo) yang mengambil tema pelestarian permainan tradisional dengan narasumber dari KORMI DIY yaitu Drs. Nuri Hartana. Dalam materinya beliau menyampaikan bagaimana permainan tradisional ini sebagai penggambaran kehidupan masyarakat dikarenakan didalamnya terdapat sebuah kerjasama, kreatifitas, ataupun komunikasi yang terbangun. Tentunya ini menjadi ajang yang tepat untuk memperkenalkan permainan tradisional sebagai hasil dari perlombaan tersebut.

Setelah sarasehan budaya, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba permainan tradisional. Berdasarkan penilaian yang ketat dari dewan juri, hasil lomba adalah sebagai berikut: Juara Umum Pertama: SD N Banyuraden Juara Umum Kedua: SD N Kanoman Juara Umum Ketiga: SD Muhammadiyah Banyuraden Juara Umum Keempat: SD N Patran

Setiap pemenang menerima piala, uang pembinaan, sertifikat, dan hadiah sebagai apresiasi atas partisipasi dan prestasi yang telah diraih. Suasana gembira dan haru terpancar dari wajah para peserta, guru pendamping, dan orang tua yang hadir.

Kegiatan JENTARA (Jejak Nusantara Traditional Arena) yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram ini membuktikan bahwa generasi muda memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa. Melalui pendekatan yang kreatif dan inovatif, permainan tradisional dapat dikemas menjadi kegiatan yang menarik dan relevan bagi anak-anak di era digital.

Acara ini juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau institusi budaya, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan.

Kolaborasi antara universitas, sekolah dasar, dan masyarakat Kelurahan Banyuraden dalam acara ini menjadi contoh baik bagaimana gotong royong dapat mewujudkan pelestarian budaya yang berkelanjutan.

Ketua Pelaksana acara, Rebaudhy Mahardhika Pamungkas, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini. "Kami berharap JENTARA dapat menjadi kegiatan rutin yang terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi pelestarian permainan tradisional di Indonesia. Mari kita jaga warisan budaya kita bersama-sama," ujarnya.

Dengan semangat melestarikan budaya dan menghadapi tantangan modernisasi, JENTARA meninggalkan jejak yang bermakna bagi semua yang terlibat. Acara ini membuktikan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati anak-anak Indonesia, dan dengan upaya yang tepat, warisan budaya ini dapat terus hidup dan berkembang di tengah kemajuan zaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.