Pembangunan tidak selalu soal angka pertumbuhan ekonomi yang melonjak tinggi. Di balik grafik dan statistik, pembangunan sejatinya adalah cerita tentang manusia, lingkungan, dan masa depan yang ingin dijaga bersama.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin menegaskan arah pembangunannya melalui paradigma pembangunan berkelanjutan sebuah pendekatan yang menempatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan setara dengan pertumbuhan ekonomi.
Di titik inilah, investasi daerah memainkan peran penting yang kerap luput dari perhatian.
Bagi Kawan GNFI, investasi daerah mungkin terdengar sebagai istilah teknis yang identik dengan modal besar dan kepentingan korporasi. Namun sesungguhnya, investasi daerah adalah salah satu penggerak utama yang menentukan bagaimana wajah suatu wilayah akan berkembang.
Ketika investasi masuk ke daerah, roda ekonomi mulai bergerak di pabrik beroperasi, sektor jasa tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan aktivitas ekonomi masyarakat meningkat.
Daerah yang mampu mengelola arus investasi dengan baik biasanya memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dibandingkan daerah yang hanya bergantung pada belanja pemerintah atau konsumsi masyarakat.
Investasi daerah, baik yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), bukan sekadar soal besarnya nilai rupiah yang masuk.
Lebih dari itu, investasi menentukan arah transformasi ekonomi suatu daerah. Investasi di sektor industri pengolahan, infrastruktur, pariwisata, pertanian modern, hingga ekonomi kreatif mampu menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan sektor primer tradisional.
Transformasi inilah yang menjadi kunci agar daerah tidak terus-menerus bergantung pada eksploitasi sumber daya alam mentah.
Cerita tentang investasi juga tidak bisa dilepaskan dari kapasitas fiskal pemerintah daerah. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, basis pajak dan retribusi daerah ikut melebar. Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun tumbuh.
Bagi Kawan, ini berarti pemerintah daerah memiliki ruang fiskal yang lebih luas untuk membangun jalan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga pelayanan publik lainnya.
Dalam konteks ini, investasi bukan hanya mesin pertumbuhan, tetapi juga fondasi kemandirian fiskal daerah.
Namun, cerita investasi tidak selalu manis. Sejarah pembangunan di berbagai daerah menunjukkan bahwa investasi yang dikejar tanpa perencanaan matang justru dapat meninggalkan luka sosial dan lingkungan.
Kerusakan ekosistem, konflik lahan, hingga kesenjangan sosial menjadi risiko nyata ketika investasi hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek.
Jika hal ini terjadi, investasi yang semula diharapkan membawa kesejahteraan justru dapat menghambat pembangunan itu sendiri.
Karena itu, pembangunan berkelanjutan menuntut perubahan cara pandang terhadap investasi. Fokusnya bukan lagi sekadar berapa besar investasi yang masuk, melainkan seberapa berkualitas investasi tersebut.
Investasi yang ramah lingkungan, hemat energi, berbasis teknologi, serta melibatkan masyarakat lokal akan memberikan manfaat jangka panjang yang lebih luas.
Pemerintah daerah perlu mendorong investasi di sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, industri hijau, pengolahan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta penguatan UMKM agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati langsung oleh masyarakat setempat.
Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat krusial. Kepastian hukum, konsistensi kebijakan, kemudahan perizinan, dan transparansi tata kelola menjadi faktor utama yang menentukan minat investor.
Reformasi birokrasi dan digitalisasi layanan perizinan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Namun, di saat yang sama, kebijakan investasi juga harus terintegrasi dengan rencana tata ruang, perlindungan lingkungan, dan agenda pembangunan sosial agar pertumbuhan ekonomi tidak dibayar dengan kerusakan jangka panjang.
Kawan GNFI juga perlu melihat bahwa keberhasilan investasi berkelanjutan tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat adalah kunci utama.
Ketika masyarakat lokal dilibatkan sejak tahap perencanaan, tingkat penerimaan sosial terhadap investasi akan meningkat dan potensi konflik dapat ditekan.
Investasi yang membuka ruang bagi peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, transfer teknologi, dan pengembangan kewirausahaan daerah akan menciptakan efek pengganda yang jauh lebih besar bagi perekonomian regional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tantangan perubahan iklim, daerah-daerah di Indonesia justru memiliki peluang besar untuk menjadikan investasi sebagai alat transformasi pembangunan.
Dengan strategi yang tepat, investasi dapat diarahkan untuk mendukung pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan.
Bagi Kawan, ini berarti pembangunan yang tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga tetap relevan dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Pada akhirnya, investasi daerah bukan sekadar soal angka dalam laporan realisasi investasi. Ia adalah cerita tentang pilihan pembangunan yang diambil hari ini dan dampaknya di masa depan.
Ketika investasi dikelola secara bijak dan bertanggung jawab, ia dapat menjadi jembatan menuju pembangunan berkelanjutan pembangunan yang menumbuhkan ekonomi, menjaga lingkungan, dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


