mengenal ogoh ogoh sebagai identitas budaya bali - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Ogoh-Ogoh sebagai Identitas Budaya Bali

Mengenal Ogoh-Ogoh sebagai Identitas Budaya Bali
images info

Mengenal Ogoh-Ogoh sebagai Identitas Budaya Bali


Ogoh-ogoh merupakan salah satu ekspresi kebudayaan Bali yang memiliki kedudukan penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi ini selalu hadir pada malam Pengerupukan dan menjadi penanda transisi menuju hari suci yang sarat dengan nilai pengendalian diri dan refleksi spiritual.

Dalam praktiknya, ogoh-ogoh sering dipahami secara sederhana sebagai patung raksasa yang diarak keliling desa.

Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kedalaman makna ogoh-ogoh sebagai simbol budaya, media pendidikan nilai, dan representasi relasi manusia dengan alam semesta.

Sebagai identitas budaya, ogoh-ogoh tidak lahir secara instan dan tidak berdiri sendiri. Tradisi ini tumbuh dari sistem kepercayaan, struktur sosial, serta dinamika masyarakat Bali yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa melepaskan akar filosofisnya.

baca juga

Makna Filosofis Ogoh-Ogoh

Contoh Ogoh-ogoh | Unsplash/Aditya Nara
info gambar

Contoh Ogoh-ogoh | Unsplash/Aditya Nara


Ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala, yakni simbol energi negatif dan sifat destruktif yang ada dalam diri manusia. Representasi ini mengajarkan bahwa sifat buruk tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi harus dikenali dan dikendalikan secara sadar.

Dalam kosmologi Hindu Bali, Bhuta Kala dipahami sebagai bagian dari keseimbangan alam semesta. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa harmoni hidup tercipta melalui relasi yang seimbang antara manusia, alam, dan Tuhan.

Pengarakan ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi memiliki makna simbolik sebagai proses penyadaran kolektif. Masyarakat diajak untuk menghadapi dan “menundukkan” energi negatif sebelum memasuki fase kesunyian dan pengendalian diri total.

Makna filosofis tersebut menjadikan ogoh-ogoh sebagai sarana refleksi sosial dan spiritual. Tradisi ini berfungsi sebagai media pendidikan nilai moral yang disampaikan melalui simbol visual dan ritual kolektif.

Sejarah dan Proses Pembuatan Ogoh-Ogoh

Secara historis, ogoh-ogoh dalam bentuk patung raksasa mulai berkembang luas di Bali pada akhir dekade 1980-an. Meski demikian, konsep Bhuta Kala telah lama hadir dalam ritual dan kesenian Bali jauh sebelum ogoh-ogoh dikenal secara masif.

Contoh Ogoh-ogoh | Pexels/Damm aaaa
info gambar

Contoh Ogoh-ogoh | Pexels/Damm aaaa


Perkembangan ogoh-ogoh tidak terlepas dari peran sekaa teruna-teruni sebagai penggerak utama di tingkat desa adat. Melalui tradisi ini, generasi muda menyalurkan kreativitas seni sekaligus memperkuat ikatan sosial di lingkungannya.

Proses pembuatan ogoh-ogoh dilakukan secara gotong royong dan melibatkan banyak tahapan. Mulai dari perumusan konsep, penggalangan dana, hingga pengerjaan teknis, seluruh proses mencerminkan nilai kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.

Dalam perkembangannya, bahan pembuatan ogoh-ogoh mengalami perubahan yang signifikan. Kesadaran untuk menggunakan material ramah lingkungan menunjukkan adanya dialog antara tradisi budaya dan isu keberlanjutan lingkungan.

baca juga

Ogoh-Ogoh sebagai Identitas Budaya Bali

Pawai ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan menjadi ruang ekspresi budaya yang bersifat publik dan partisipatif. Tradisi ini mempertemukan seni, ritual, dan kehidupan sosial dalam satu momentum kolektif yang sarat makna.

Di era kontemporer, ogoh-ogoh berkembang menjadi ikon budaya Bali yang dikenal hingga tingkat nasional dan internasional. Kreativitas visual dan inovasi artistik menunjukkan bahwa tradisi mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan tantangan berupa komersialisasi dan kompetisi estetika. Dominasi aspek visual berpotensi menggeser makna filosofis ogoh-ogoh apabila tidak disikapi secara kritis.

Oleh karena itu, pemaknaan ogoh-ogoh sebagai identitas budaya perlu terus dijaga secara sadar oleh masyarakat. Tradisi ini harus tetap dipahami sebagai media refleksi dan pendidikan nilai, bukan sekadar atraksi budaya.

Keberlanjutan tradisi ogoh-ogoh sangat bergantung pada cara masyarakat memaknainya. Selama nilai filosofis dan spiritual tetap menjadi landasan utama, ogoh-ogoh akan terus hidup sebagai identitas budaya Bali yang dinamis dan bermakna.

Dengan demikian, ogoh-ogoh bukan hanya bagian dari perayaan Nyepi, melainkan juga cerminan cara masyarakat Bali membaca dan merespons kehidupan. Tradisi ini menunjukkan bahwa kebudayaan tidak sekadar diwariskan, tetapi juga dirawat melalui kesadaran dan pemaknaan yang terus diperbarui.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.