Jika desa kehilangan nafas, negara akan kehilangan akarnya. Dan pohon tanpa akar, betapapun tinggi gedungnya, akan roboh oleh angin sejarah yang sama—yang selalu kembali, hanya dengan kostum berbeda.
Mengingatkan lagu karya Leo Kristi: Kalau ke kota esok pagi, sampaikan salam dari desa. Bukan salam yang wangi oleh parfum gedung-gedung tinggi, melainkan salam yang berbau tanah basah, keringat, dan waktu yang lama tak dibalas.
Di desa, padi telah kembang. Bulirnya menunduk—seolah tahu bahwa hidup adalah kerja keras yang tak perlu banyak bicara. Ani-ani bergerak pelan di tangan petani, setua doa-doa yang tak pernah dicatat sejarah. Di kejauhan, roda giling berputar siang dan malam, seperti zaman yang tak pernah lelah mengambil. Tapi hasilnya bukan kami punya. Ia pergi ke kota, ke angka-angka, ke laporan yang rapi dan pidato yang penuh kata “kemajuan”.
Sejarah, kata orang, bergerak maju. Tapi bagi desa, ia sering berputar di tempat—seperti roda lori yang mengangkut tebu-tebu putih seluas padang. Manisnya tinggal di pabrik, getirnya pulang ke ladang. Tebu kembang, gula tercetak, dan desa tetap belajar sabar. Kota menyebutnya efisiensi; desa menyebutnya nasib.
Anak-anak kini pandai menyanyikan gema merdeka. Lagu itu mereka hafal lebih cepat daripada nama leluhur mereka sendiri. Mereka menyanyikannya di tanah-tanah gunung, dengan suara jernih dan mata penuh harap. Tapi kemerdekaan itu, lagi-lagi, terasa seperti lagu yang dipinjam: indah, tapi bukan kami punya. Ia datang sebagai kata, bukan sebagai hak.
Baca Selengkapnya

