Menyelam di Indonesia dikenal sebagai salah satu pengalaman terbaik di dunia karena kekayaan terumbu karang yang luar biasa. Namun, semua keindahan bawah laut ini terancam hilang di masa depan seiring dengan rusaknya terumbu karang dan ekosistem laut Indonesia.
Jika kerusakan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin hobi menyelam di perairan Indonesia akan lenyap atau tak lagi diminati banyak orang.

Ikan Badut berenang diantara terumbu karang | Foto: Dokumentasi Pribadi
Indonesia sendiri beradatepat di jantung Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) – kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia - bersama negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Wilayah ini merupakan kawasan laut dengan tingkat keanekaragaman hayati terumbu karang tertinggi di planet bumi. Bayangkan, perairan Indonesia memiliki sekitar 25 ribu km² terumbu karang – kira-kira 10% dari total terumbu karang dunia.
Destinasi seperti Raja Ampat, Komodo, hingga Bunaken lebih dikenal di kalangan penyelam dunia daripada oleh warga Indonesia sendiri. Ironisnya, meski nama Indonesia tersohor sebagai mega-biodiversity di laut, upaya perlindungan terumbu karang di dalam negeri masih minim. Padahal, kekayaan ini adalah warisan alam yang tak ternilai dan menjadi tulang punggung pariwisata serta perikanan bagi masyarakat pesisir.

Terumbu karang di teluk Palu | Foto: Dokumentasi Pribadi
Kondisi Terkini Objek Wisata Menyelam di Indonesia
Status Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut juga dibarengi tanggung jawab besar. Dalam buku berjudul Terumbu Karang Yang Terancam di Asia Tenggara, Lauretta Burke mencatat lebih dari 85 % terumbu karang Indonesia berada dalam kondisi terancam oleh aktivitas manusia.
Angka ancaman ini bahkan lebih tinggi daripada rata-rata global. Banyak terumbu karang kita yang mengalami tekanan hebat, mulai dari pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, hingga dampak perubahan iklim. Dengan kekayaan yang besar, tantangan menjaga kelestariannya pun sangat berat. Jika tidak ada tindakan nyata, predikat “surga bawah laut” bisa berubah menjadi kenangan.
Pada survei di tahun 2017 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di 108 lokasi (1.064 stasiun), hanya sekitar 6,39% terumbu karang Indonesia yang tergolong “sangat baik” (tutupan karang hidup di atas 75%).
Sebaliknya, lebih dari 35% terumbu karang dalam kondisi “buruk” (tutupan karang di bawah 25%), selebihnya masuk kategori cukup atau sedang. Artinya, terumbu karang yang benar-benar sehat dan indah tinggal sedikit sekali. BRIN mencatat kerusakan karang kita dominan disebabkan oleh aktivitas manusia (bukan alam).
Praktik bom untuk menangkap ikan merusak struktur fisik terumbu secara langsung. Menurut laporan Kementrian Koordinator Bidang Politik dan keamanan, ledakan satu bom seberat 250 gram saja dapat menghancurkan terumbu karang seluas ±5,3 m².
Pembangunan pesisir, penebangan hutan bakau, dan kegiatan di darat lainnya sering menyebabkan limpasan sedimen masuk ke laut. Sedimentasi ini mengendap di atas terumbu, menutupi karang dan menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan karang untuk berfotosintesis melalui alga simbiotiknya. Akibatnya, karang stres atau mati karena kekurangan cahaya dan oksigen.
Sedimen dan pencemaran dari aktivitas darat diperkirakan telah mengancam sekitar 21% terumbu karang di kawasan Asia Tenggara. Pemanasan suhu laut akibat perubahan iklim global telah memicu fenomena pemutihan karang. Mongabay.co.id dalam laman nya menyebutkan, ketika suhu air meningkat di atas ambang toleransi, karang mengusir alga zooxanthellae (mikroalga simbiotik) dari jaringannya.
Padahal, alga inilah yang memberi karang warna serta sebagian besar nutrisi. Para ilmuwan mencatat karang dapat mengalami bleaching massal bila suhu naik hanya 1–2 °C di atas rata-rata musimannya. Limbah plastik yang berakhir di laut turut mengancam kelestarian terumbu karang. Potongan plastik dapat menyangkut di struktur karang, menutupi permukaannya, dan menghambat fotosintesis.
Penelitian dalam jurnal Science menemukan bahwa saat karang terpapar sampah plastik, risiko terkena penyakit meningkat drastis – dari kemungkinan sakit 4% menjadi 89%, naik 20 kali lipat.

Penampakan sebagian karang yang rusak | Foto: Dokumentasi Pribadi
Tanpa aksi nyata untuk melindungi dan memulihkan terumbu karang, para ahli memperingatkan skenario masa depan yang suram. Dalam laporannya, United Nations Environment Programme (UNEP) memproyeksikan bahwa tanpa upaya konservasi dan penurunan emisi gas rumah kaca, sekitar 70–90% terumbu karang dunia akan mengalami degradasi parah atau hilang pada tahun 2050.
Bahkan untuk kawasan segitiga karang yang relatif kaya, seperti Indonesia, pemanasan laut yang terus berlanjut dapat menghancurkan sebagian besar terumbu dalam beberapa dekade ke depan. Bagi pecinta hobi menyelam, hal ini berarti berkurangnya lokasi indah untuk dieksplorasi. Generasi mendatang mungkin tidak lagi dapat menyelami taman laut Bunaken, atau menyaksikan megahnya formasi karang dalam kondisi utuh di Bali, Lombok, Raja Ampat, dsb.
Namun, masa depan tersebut bukan tak dapat diubah. Terumbu karang sebenarnya memiliki kapasitas pulih. Menurut laporan Status of Coral Reefs of the World 2020 mencatat bahwa di lokasi-lokasi di mana karang masih beragam dan tertutup rapat, terumbu mampu bangkit kembali ketika kondisi membaik.
Artinya, masih ada harapan selama manusia mengambil tindakan yang tepat sekarang. Masa depan di mana hobi menyelam tetap lestari dapat dicapai jika kita bergerak cepat melindungi yang tersisa dan memulihkan yang rusak.
Agar Generasi Mendatang Tetap Gemar Menyelam
Kerusakan terumbu karang adalah alarm ekologis yang harus ditanggapi dengan kolaborasi semua pihak. Mulai dari pemerintah, peneliti, komunitas lokal, hingga para penyelam dan wisatawan, semua memiliki peran. United Nations Environment Programme (UNEP) menekankan bahwa aksi iklim global harus diiringi pengurangan ancaman lokal untuk menyelamatkan terumbu karang.
Artinya, mitigasi perubahan iklim (misal melalui implementasi Perjanjian Paris untuk menahan kenaikan suhu <1,5 °C) harus berjalan beriringan dengan langkah lokal seperti penghentian polusi dan perusakan habitat. Hanya dengan kombinasi ini terumbu karang dapat bertahan dan tetap menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.
Penyu di pulau Nusa Penida | Foto: Dokumentasi Pribadi
Kelestarian ekosistem laut Indonesia adalah tanggung jawab bersama. Setiap orang dapat berkontribusi, sekecil apapun, untuk mengurangi ancaman terhadap laut – mulai dari bijak menggunakan plastik, mendukung produk laut yang berkelanjutan, hingga ikut dalam kampanye konservasi.
Dengan kesadaran dan aksi kolektif, kita masih punya kesempatan untuk memastikan bahwa menyelam di surga bawah laut Indonesia tidak akan menjadi kenangan semata, melainkan warisan hidup yang terus dapat dinikmati oleh kita dan anak-cucu di masa depan. Mari jaga terumbu karang kita demi keberlanjutan laut dan kesejahteraan bersama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

