ketika kata kata tak lagi menjelaskan fenomena bahasa viral dan cara kita berkomunikasi hari ini - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Kata-Kata Tak Lagi Menjelaskan: Fenomena Bahasa Viral dan Cara Kita Berkomunikasi Hari Ini

Ketika Kata-Kata Tak Lagi Menjelaskan: Fenomena Bahasa Viral dan Cara Kita Berkomunikasi Hari Ini
images info

Ketika Kata-Kata Tak Lagi Menjelaskan: Fenomena Bahasa Viral dan Cara Kita Berkomunikasi Hari Ini


Beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan yang terdengar ringan, santai, dan terasa sangat “kita banget”. Kalimat seperti “adalah pokoknya”, “jangan terlalu di iniin, apa sih namanya?”, “gak semua hal lu harus tau”, “plenger”, “iziin”, “kasih paham bos”, hingga “tenangin diri lo” menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Ia muncul di kolom komentar, video pendek, bahkan obrolan langsung. Kita tertawa, merasa relate, lalu ikut menggunakannya.

Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa bahasa adalah sesuatu yang terus berkembang. Bahasa bisa berubah mengikuti zaman dan cara orang berkomunikasi. Ungkapan-ungkapan tersebut muncul dari kreativitas, kedekatan antarindividu, serta kebutuhan untuk berbicara dengan cara yang lebih santai. Bahasa tidak lagi terasa kaku, melainkan lebih akrab, lebih dekat, dan lebih manusiawi.

Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan yaitu semakin sering kita menggunakan ungkapan-ungkapan yang samar, tidak tuntas, atau menggantung, apakah kita juga mulai terbiasa untuk tidak menjelaskan?

Kalimat seperti “adalah pokoknya” atau “jangan terlalu di iniin, apa sih Namanya?” sering muncul ketika seseorang kesulitan merumuskan pikirannya. Alih-alih mencoba mencari kata yang tepat, kita berhenti dan berharap orang lain mengerti sendiri. Kita mengandalkan intuisi, bukan penjelasan. Kita meminta dipahami tanpa benar-benar menyampaikan.

Begitu pula dengan kalimat “gak semua hal lu harus tau”. Tentu, tidak semua hal memang harus dijelaskan. Ada batas privasi, ada ruang personal. Akan tetapi ketika kalimat ini terlalu sering digunakan, ia bisa berubah fungsinya yang bukan lagi sebagai bentuk menjaga batas pribadi, melainkan sebagai cara cepat untuk menghindari percakapan yang lebih dalam.

Bahasa, pada akhirnya, bukan hanya soal kata. Ia adalah cara kita membangun makna. Ketika kita memilih kata yang samar, kita juga sedang memilih untuk membiarkan makna itu kabur. Ungkapan seperti “kasih paham bos” atau “tenangin diri lo” juga menarik untuk diamati. Sekilas terdengar santai, bahkan lucu.

Namun dalam banyak konteks, kalimat-kalimat ini mengandung nada dominasi. Ia bukan sekadar ajakan berdiskusi, melainkan pernyataan posisi seperti siapa yang lebih tahu, siapa yang dianggap emosional, siapa yang harus “diberi paham”.

Di ruang digital, bahasa sering kali menjadi senjata. Bukan untuk menjelaskan, tetapi untuk memenangkan. Bukan untuk memahami, tetapi untuk menutup. Padahal, esensi komunikasi bukanlah menang, melainkan saling mengerti.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari budaya media sosial. Kita hidup di era serba cepat. Karakter terbatas, video singkat, komentar instan. Kita terbiasa berpikir dalam potongan-potongan pendek.

Kita lebih mengutamakan respons cepat daripada penjelasan yang utuh. Yang penting terdengar, bukan dimengerti. Akibatnya, bahasa kita ikut menyesuaikan. Ia menjadi lebih singkat, lebih emosional, dan sering kali lebih kabur. Kita lebih sering berkata “adalah pokoknya” daripada menjelaskan mengapa. Kita lebih sering meminta orang lain memahami daripada berusaha menjelaskan.

Padahal, menjelaskan adalah bentuk kepedulian. Ia menunjukkan bahwa kita menghargai lawan bicara. Bahwa kita tidak sekadar ingin didengar, tetapi juga ingin dipahami dengan benar. Hal ini bukan berarti kita harus selalu berbicara dengan bahasa baku, panjang, dan formal. Bahasa santai punya tempatnya sendiri.

Slang punya perannya sendiri. Namun, penting untuk menyadari konteks. Ada ruang untuk bercanda, ada ruang untuk berdiskusi. Ada ruang untuk santai, ada ruang untuk serius.

Ketika semuanya disamakan, ketika semua percakapan diperlakukan seperti komentar media sosial, maka makna pun ikut tereduksi. Mungkin, yang perlu kita lakukan bukanlah menghapus ungkapan-ungkapan viral itu, melainkan menggunakannya dengan lebih sadar. Menyadari kapan kita sedang bercanda, kapan kita sedang berdiskusi.

Kapan kita boleh menggantung, kapan kita perlu menjelaskan. Karena bahasa bukan sekadar alat bicara. Ia adalah alat berpikir. Cara kita menyusun kalimat mencerminkan cara kita menyusun pikiran. Dan cara kita menyusun pikiran akan memengaruhi cara kita melihat dunia.

Di tengah dunia yang semakin cepat, mungkin yang kita butuhkan bukan kata-kata yang lebih singkat, melainkan makna yang lebih jujur. Bukan respons yang lebih cepat, tetapi penjelasan yang lebih utuh. Sebab, pada akhirnya, komunikasi bukan tentang siapa yang paling terdengar, tetapi siapa yang paling dipahami.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.