Legenda Fasungka dan Fasungke adalah salah satu cerita rakyat dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang dua orang kakak beradik yang mengalami nasib berbeda.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda Fasungka dan Fasungke tersebut?
Legenda Fasungka dan Fasungke, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara
Dilihat dari buku Cerita Rakyat Wakatobi (Bahasa Wakatobi dan Bahasa Indonesia), pada zaman dahulu hiduplah dua orang bersaudara yang bernama Fasungka dan Fasungke. Kedua gadis ini tinggal bersama sang ibu.
Pada suatu hari kedua bersaudara ini pergi ke tempat seorang kakek tua peramal. Mereka meminta untuk diramal akan masa depannya masing-masing.
Sang kakek kemudian meramalkan masa depan Fasungka yang memiliki sifat sombong. Dia berkata jika Fasungka akan bernasib baik nantinya.
Setelah itu, sang adik Fasungke kemudian juga diramal oleh kakek tua tersebut. Dia berkata jika Fasungke akan bernasib sial dan ditimpa musibah.
Fasungka tentu senang mendengarkan ramalan untuk dirinya. Di sisi lain, Fasungke merasa sedih ketika mendapatkan ramalan buruk akan masa depannya.
Kedua bersaudara ini kemudian pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Fasungka dengan sombongnya memamerkan hasil ramalannya kepada sang ibu.
Setelah mendengarkan ramalah Fasungke, sang ibu berniat untuk membuang anak bungsunya itu. Bersama Fasungka, sang ibu kemudian menyusun rencana untuk membuang Fasungke agar tidak tinggal bersama mereka.
Tepat pada hari yang ditentukan, mereka kemudian mengajak Fasungke untuk pergi jalan-jalan. Sebenarnya sang ibu dan Fasungka berniat untuk meninggalkan Fasungke di tengah jalan nantinya.
Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Setelah melewati sembilan gunung dan lembah, mereka kemudian beristirahat di bawah sebuah pohon besar.
Tidak lama kemudian, sang ibu dan Fasungka langsung meninggalkan Fasungke begitu saja. Mereka hanya meninggalkan sedikit bekal untuk gadis tersebut.
Fasungke tidak bisa berbuat apa-apa melihat perlakuan sang ibu dan kakaknya tersebut. Dia pun merasa ketakutan tinggal seorang diri di sana.
Sebenarnya Fasungke berusaha mencari perkampungan terdekat yang ada di sana. Namun meskipun sudah berjalan selama tujuh hari tujuh malam, Fasungke tetap tidak berhasil menemukannya.
Fasungke akhirnya hanya bisa berpasrah dengan keadaannya. Di sisi lain, sang ibu dan Fasungka sudah hidup bermewah-mewahan tanpa memikirkan nasibnya.
Di tengah rasa bingung dan ketakutan, Fasungke bertemu dengan seorang kakek tua. Sang kakek tersebut menanyakan hendak ke mana Fasungke yang terlihat kebungan.
Fasungke kemudian menjawab bahwa di tidak memiliki rumah untuk berpulang. Karena merasa kasihan, sang kakek kemudian mengajak Fasungke untuk tinggal bersamanya.
Sang kakek kemudian membawa Fasungke ke rumahnya. Alangkah terkejutnya Fasungke ketika memasuki rumah sang kakek karena melihat banyak harta yang ada di dalamnya.
Fasungke kemudian diangkat menjadi anak oleh sang kakek. Dia pun diwarisi semua harta yang dimiliki oleh kakek tua tersebut.
Beberapa waktu kemudian, sang kakek sakit keras dan meninggal dunia. Sesuai wasiatnya, seluruh harta sang kakek kemudian diberikan pada Fasungke.
Meskipun sudah kaya raya, Fasungke tetap menjadi pribadi yang baik hati. Dia suka membantu orang sekitar yang terlihat kesusahan.
Sementara itu, kehidupan sang ibu dan kakaknya justru berkebalikan. Lama-kelamaan semua harta yang mereka miliki habis dan jatuh miskin.
Tidak hanya itu, sang ibu dan Fasungka diusir oleh masyarakat yang tidak tahan dengan sikap sombongnya. Akhirnya sang ibu dan Fasungka pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk meminta-minta.
Suatu hari, sampailah sang ibu dan Fasungka di daerah dekat kediaman Fasungke. Fasungke yang melihat kondisi sang ibu dan kakaknya tersebut kemudian membawa mereka ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, sang ibu dan Fasungka kaget melihat semua harta benda yang dimiliki oleh Fasungke. Mereka kemudian bertanya dari mana asal semua harta benda tersebut.
Fasungke kemudian menjelaskan jika dulu dia diselamatkan oleh seorang kakek tua yang baik hati. Ketika sang kakek meninggal dunia, semua harta kekayaan tersebut diwariskan untuknya.
Namun penjelasan Fasungke ternyata membuat sang ibu dan Fasungka iri. Ketika malam tiba, mereka mengumpulkan semua barang yang dimiliki Fasungke dengan niatan untuk membawanya pergi.
Karena kelelahan, keduanya kemudian beristirahat di atas sebuah kursi. Namun ternyata pantat mereka melekat di sana dan tidak bisa pergi ke mana-mana.
Akhirnya niat jahat sang ibu dan Fasungka tidak terlaksana. Alih-alih mendapatkan harta Fasungke, mereka justru menemui ajal di atas kursi tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


