Asap putih mengepul perlahan dari deretan bambu yang tersusun miring di atas bara api. Aroma santan yang perlahan mendidih, berpadu dengan wanginya daun pisang yang mulai hangus, menyeruak memenuhi pelataran rumah. Di sela-sela suara gemeretak api melahap kayu bakar, terdengar gelak tawa renyah dari para tetangga yang berkumpul melingkar. Malam itu, waktu seolah berhenti berputar.
Tidak ada notifikasi gawai yang mendesak. Tidak ada ketergesaan mengejar tenggat waktu. Hanya ada kehangatan, percakapan ringan, dan penantian panjang akan matangnya pulut di dalam ruas bambu.
Kawan GNFI, di tengah arus modernisasi yang menawarkan segala sesuatu serba cepat dan instan, Mangalomang hadir sebagai antitesis yang menenangkan. Aktivitas memasak lemang tersebut bukan sekadar urusan perut atau kuliner semata. Jauh melampaui itu, prosesi tersebut menyimpan filosofi mendalam tentang kesabaran, ketekunan, dan seni merawat hubungan antarmanusia yang kian hari kian mahal harganya.
Melawan Budaya Instan dengan Bara Api

Ilustrasi pembakaran kayu dalam tradisi
Era digital menuntut manusia untuk bergerak secepat kilat. Makanan bisa datang hanya dengan sekali klik aplikasi sehingga komunikasi bisa terjalin tanpa perlu bertatap muka. Namun, Mangalomang mengajarkan hal berbeda. Proses pembuatan lemang menuntut dedikasi waktu yang tidak sebentar. Mulai dari mencari bambu yang tepat di hutan, menyiapkan daun pisang muda sebagai pelapis, meracik santan kelapa terbaik, hingga proses pembakaran yang memakan waktu berjam-jam.
Praktik tersebut secara tidak langsung melatih mentalitas masyarakat Mandailing untuk menghargai sebuah proses. Kesabaran menjadi kunci utama. Generasi masa kini yang terbiasa dengan budaya sekarang mendapatkan tamparan halus dari sebatang bambu lemang.
Hasil terbaik selalu membutuhkan waktu, ketelatenan, dan pengorbanan. Rasa lezat dari lemang yang dihasilkan bukan berasal dari bumbu penyedap semata, melainkan dari saripati kesabaran yang meresap ke dalam setiap butir beras ketan selama proses pembakaran berlangsung.
Harmoni Sosial dalam Pembagian Peran
Satu hal menarik dari Mangalomang yaitu mustahilnya aktivitas tersebut dilakukan seorang diri. Tradisi tersebut secara alamiah memaksa individu untuk melepaskan ego dan membaur dengan komunitas. Terdapat pembagian peran yang sangat cair namun terorganisir dengan rapi tanpa perlu komando formal layaknya di perusahaan.
Kaum ibu dan perempuan biasanya mengambil peran di dapur atau area persiapan. Sementara itu, kaum bapak atau laki-laki bertanggung jawab atas tugas yang lebih maskulin, yaitu mencari kayu bakar, menyiapkan tungku darurat di halaman, dan menjaga nyala api agar tetap stabil selama proses pembakaran.
Anak-anak pun tidak luput dari peran. Generasi muda biasanya ikut meramaikan suasana, membantu hal-hal kecil, atau sekadar menjadi pendengar setia dari cerita-cerita tetua yang mengalir selama proses menunggu lemang matang. Interaksi lintas generasi tersebut menciptakan transfer pengetahuan dan nilai budaya secara organik.
Momen tersebut menjadi ruang interaksi sosial yang sangat mahal. Tetangga yang jarang bertegur sapa karena kesibukan kerja, akhirnya duduk bersila bersama di depan bara api. Obrolan mengalir mulai dari isu politik terkini, harga komoditas pertanian, hingga kabar sanak saudara di perantauan. Mangalomang menjadi perekat sosial atau social glue yang efektif meruntuhkan tembok individualisme yang sampai sekarang semakin menebal, bahkan di wilayah pedesaan sekalipun.
Mekanisme Jaring Pengaman Sosial

Ilustrasi berbagi dalam tradisi Mangalomang
Nilai kemanusiaan dalam Mangalomang juga tercermin dari konsep berbagi yang melekat erat di dalamnya. Bagi masyarakat Mandailing, perayaan hari besar terasa hambar tanpa kehadiran lemang di meja makan. Namun, tidak semua warga memiliki kemampuan ekonomi atau tenaga yang cukup untuk membuatnya sendiri.
Di sinilah letak keindahan tradisi tersebut. Warga yang tidak sanggup membuat lemang diperbolehkan, bahkan dianjurkan, untuk menumpang masak di bara api milik tetangganya yang lebih mampu. Tidak ada transaksi finansial dalam praktik tersebut. Syaratnya hanyalah kesediaan untuk berbagi cerita dan kebersamaan. Nantinya, setelah lemang matang, hasilnya akan dinikmati bersama atau dibagikan kepada warga sekitar.
Praktik gotong royong tersebut menunjukkan bahwa Mangalomang berfungsi sebagai jaring pengaman sosial non-formal. Tidak boleh ada warga yang merasa sedih atau kelaparan saat hari raya tiba. Rasa peduli ditumbuhkan bukan melalui ceramah atau teori, melainkan melalui tindakan nyata berbagi ruang pembakaran dan berbagi hasil masakan.
Dimensi Spiritual dan Harapan Tolak Bala
Selain sebagai sajian kuliner dan perekat sosial, Mangalomang memiliki varian khusus yang sarat dengan dimensi spiritual, yaitu sebagai sarana tolak bala. Ketika desa sedang dilanda musibah, gagal panen akibat hama, atau ancaman penyakit, masyarakat Mandailing kerap menggelar ritual Mangalomang dengan tata cara yang berbeda dari biasanya.
Varian khusus tersebut mensyaratkan lemang dimasak oleh tujuh orang ibu-ibu yang dipilih secara khusus. Jumlah bambu yang digunakan pun harus ganjil. Bahan yang dimasukkan ke dalam bambu tidak hanya beras ketan dan santan, melainkan ditambahkan udang serta ikan-ikan kecil dari sungai setempat. Perbedaan komposisi bahan tersebut menyimbolkan harapan dan doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta.
Prosesi tersebut biasanya dibarengi dengan doa bersama agar desa terhindar dari segala marabahaya dan malapetaka. Dalam konteks tersebut, Mangalomang bertransformasi menjadi media penyembuhan psikologis kolektif atau collective healing. Warga yang sedang cemas menghadapi ketidakpastian alam atau wabah, menemukan ketenangan melalui ritual memasak bersama. Keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan secara berjamaah melalui perantara tradisi leluhur akan dikabulkan, memberikan kekuatan mental yang luar biasa bagi masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.
Relevansi Tradisi di Masa Depan
Tantangan terbesar sekarang yaitu bagaimana menjaga nyala api Mangalomang agar tidak padam tergerus zaman. Generasi Z dan Milenial yang akrab dengan gaya hidup slow living dan isu keberlanjutan pangan (sustainable food), sesungguhnya memiliki celah besar untuk terhubung kembali dengan tradisi tersebut.
Mangalomang sangat relevan dengan isu kesehatan mental dan mindfulness. Kegiatan tersebut menawarkan jeda dari hiruk-pikuk dunia maya. Duduk memandangi api, menghirup aroma alam, dan berinteraksi secara langsung dengan manusia lain merupakan bentuk detoksifikasi digital yang paling murah dan efektif.
Kawan GNFI, melestarikan Mangalomang bukan berarti seseorang harus menolak kemajuan teknologi. Pelestarian tersebut bermakna seseorang harus bijak memilah. Ada hal-hal yang bisa dipercepat dengan teknologi, namun ada pula nilai-nilai kemanusiaan, kesabaran, dan kebersamaan yang hanya bisa didapatkan melalui proses manual dan tradisional.
Sepotong lemang hangat yang tersaji di piring bukan sekadar olahan beras ketan. Benda tersebut merupakan kristalisasi dari keringat, tawa, doa, dan kesabaran orang-orang yang membuatnya. Mari menjaga tradisi tersebut tetap hidup bukan hanya sebagai ritual masa lalu, tetapi sebagai pengingat bagi manusia modern untuk sesekali melambat, bernapas, dan menikmati kehangatan persaudaraan yang sesungguhnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


