jejak saritem bandung - News | Good News From Indonesia 2026

Peran Nyimas Ayu Permatasari dalam Jejak Sejarah Lokalisasi di Kota Bandung

Peran Nyimas Ayu Permatasari dalam Jejak Sejarah Lokalisasi di Kota Bandung
images info

Peran Nyimas Ayu Permatasari dalam Jejak Sejarah Lokalisasi di Kota Bandung


Hampir setiap kota industri memiliki sisi sejarah yang tumbuh bersama urbanisasi dan mobilitas manusia. Fenomena ini dicatat Haryoto Kunto (1984) dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung berkembang sebagai kota militer, perdagangan, dan transportasi sejak abad ke-19. Rel kereta api, tangsi tentara, dan arus pendatang membentuk wajah sosial kota.

Dalam konteks itulah praktik prostitusi muncul sebagai realitas sejarah. Saritem menjadi salah satu kawasan yang sering disebut. Nama ini kemudian melekat dalam perjalanan panjang Kota Bandung.

Di balik nama Saritem, terdapat sosok perempuan bernama Nyimas Ayu Permatasari. Ia lebih dikenal publik dengan sebutan Nyai Saritem. Kisahnya muncul dalam arsip budaya, tulisan sejarah, dan media daring. Situs Kemendikbud.go.id mencatat Nyai Saritem sebagai perempuan pribumi pada masa kolonial.

Ia hidup ketika sistem pergundikan masih berlangsung di Hindia Belanda. Gelar “Nyai” digunakan untuk perempuan pendamping pria Eropa. Posisi ini menempatkannya dalam ruang sosial yang kompleks dan khas zamannya.

Riwayat hidup Nyimas Ayu Permatasari tidak tercatat secara tunggal dan pasti. Beberapa sumber menyebut ia lahir di Parakanmuncang, Sumedang, sekitar tahun 1840. Informasi ini disampaikan budayawan Budi Dalton (2020) dalam THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW.

Ia digambarkan sebagai gadis Sunda dengan paras menarik. Versi lain menyebut ia pernah berdagang jamu keliling. Pertemuan dengan pejabat militer Belanda mengubah jalan hidupnya. Dari Sumedang, ia kemudian menetap di Bandung.

Jalan Saritem Bandung (Foto: dokumen penulis)

Kehidupan Nyimas Ayu Permatasari berlanjut di kawasan Gardujati. Pada masa itu, wilayah ini merupakan pusat tangsi militer Belanda. Kehadiran ratusan serdadu lajang menciptakan kebutuhan sosial tertentu. Dalam buku Saritem Uncensored, Wakhudin (2016) menjelaskan fenomena ini sebagai awal lokalisasi.

Nyai Saritem disebut berperan dalam pengelolaan perempuan pendamping tentara. Aktivitas ini perlahan terorganisasi. Dari rumah besar yang disediakan, kawasan Saritem mulai terbentuk sebagai ruang sosial khusus.

Peran Nyimas Ayu Permatasari dalam sejarah kawasan Saritem direpresentasikan melalui beragam sudut pandang yang berkembang dalam literatur sejarah dan narasi populer.

Sejumlah sumber menyebut Nyimas Ayu Permatasari yang dalam istilah populer dijuluki “mami”, sebagai pengelola awal atau figur penghubung dalam aktivitas sosial-ekonomi di Saritem. Julukan tersebut merujuk pada perannya sebagai tokoh sentral yang mengatur relasi antarpenghuni kawasan dan pihak luar.

Namun, terdapat pula narasi alternatif yang menampilkan gambaran berbeda. Artikel DetikJabar berjudul “Melacak Jejak Nyai Saritem” (19/9/2022), misalnya, mencatat versi yang menekankan sisi keprihatinan sosial Nyai Saritem, termasuk keterlibatannya dalam membantu perempuan-perempuan yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial.

Perbedaan narasi ini menunjukkan bahwa figur Nyimas Ayu Permatasari tidak dapat dipahami secara tunggal, melainkan sebagai sosok historis yang dimaknai beragam sesuai konteks, sumber, dan kepentingan wacana, dan hingga kini kedua pandangan tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Nama Saritem sendiri memiliki beberapa penafsiran sejarah. Versi paling populer mengaitkannya langsung dengan nama Nyai Saritem. Versi lain menyebut berasal dari sebutan Sari Iteung. Dalam bahasa Sunda, “iteung” berarti gelap atau hitam. Penamaan ini sering dikaitkan dengan julukan sosial.

Seiring waktu, Saritem tidak lagi merujuk pada individu. Nama tersebut menjadi penanda kawasan geografis. Jalan Saritem kemudian tercatat resmi dalam peta dan administrasi Kota Bandung.

Secara geografis, Saritem terletak di antara Jalan Astana Anyar dan Gardujati. Lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Bandung. Kedekatan ini menjadikannya mudah diakses pendatang. Aktivitas ekonomi dan hiburan tumbuh di sekitarnya. Rumah bordil, warung, dan penginapan berkembang dari masa ke masa.

Setelah kemerdekaan, permukiman warga tumbuh mengelilingi kawasan ini. Banyak warga membuka usaha penunjang kehidupan sehari-hari. Saritem menjadi bagian dari denyut kota yang terus bergerak.

Dalam Saritem Uncensored karya Wakhudin (2016 disebut bahwa perjalanan Saritem berlangsung panjang sejak sekitar tahun 1838. Pada masa kolonial, pengelolaan dilakukan secara terbuka.

Setelah Indonesia merdeka, dinamika kawasan mengikuti perubahan sosial. Pemerintah beberapa kali melakukan penertiban. Pada tahun 2000, didirikan Pondok Pesantren Daar Al Taubah. Pendekatan sosial mulai diterapkan.

Penutupan resmi Saritem dilakukan Pemerintah Kota Bandung pada April 2007. Langkah ini disertai program pembinaan melalui Dinas Sosial. Para pekerja diarahkan mengikuti pelatihan keterampilan. Namun, berbagai laporan media menyebut aktivitas masih berlangsung tersembunyi.

DetikJabar mencatat praktik prostitusi masih ditemukan pascapenutupan. Aktivitas dilakukan di rumah-rumah dalam gang sempit. Pola ini berbeda dari masa sebelumnya. Saritem memasuki fase baru dalam sejarahnya.

Hingga kini, Saritem tetap dikenal sebagai kawasan dengan jejak sejarah panjang. Namanya masih sering disebut dalam percakapan warga Bandung. Kisahnya hadir dalam buku, jurnal, dan media daring. Foto-foto yang dikaitkan dengan Nyai Saritem juga beredar luas.

Namun, keaslian foto tersebut masih diperdebatkan. Penelusuran digital oleh detikJabar tahun 2022 menunjukkan foto berasal dari koleksi barang antik. Identitas perempuan dalam foto tersebut belum dapat dipastikan secara akademik.

Pemerintah Kota Bandung terus memantau kawasan Saritem hingga sekarang. Razia dan penertiban dilakukan berdasarkan laporan masyarakat. Beberapa penggerebekan masih dilaporkan media hingga tahun 2023.

Pemerintah juga mendorong perubahan fungsi kawasan. Fasilitas sosial dan pendidikan diperkuat. Pendekatan administratif dan sosial dijalankan bersamaan. Saritem kini menjadi kawasan permukiman padat. Aktivitas ekonomi warga semakin beragam seiring waktu.

Nyimas Ayu Permatasari memang menjadi figur penting dalam sejarah Saritem. Sosoknya hadir melalui arsip, cerita lisan, dan tulisan akademik. Ia mencerminkan kompleksitas kehidupan perempuan pribumi masa kolonial. Perannya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait sistem sosial zamannya.

Saritem sebagai kawasan juga mencerminkan dinamika kota industri. Kisah ini menjadi bagian dari perjalanan Bandung. Sejarah ini menunjukkan realitas sosial masa lalu. Jejaknya masih dapat ditelusuri hingga hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.