Dalam peta terbaru NKRI yang dirilis Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Januari 2025, nama Thailand ditulis Tailan. Sebelumnya, Thailand tetaplah Thailand. Ada perubahaan ejaan nama negara sejak 2025 lalu.
Perubahan ejaan nama negara ini tercantum dalam dokumen resmi bernomor GEGN.2/2025/122/CRP.122, yang dibahas dalam sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New York pada 28 April–2 Mei 2025. UNGEGN adalah badan ahli penamaan geografis PBB.
Dokumen tersebut berjudul “Updated world country names: short and formal names, Submitted by Indonesia”, tertanggal 10 Maret 2025. Dalam dokumen inilah Indonesia mendaftarkan pembaruan ejaan sejumlah nama negara agar selaras dengan kaidah bahasa Indonesia.
Nama Thailand menjadi Tailan hanyalah satu dari banyak perubahan. Beberapa lainnya adalah Afghanistan menjadi Afganistan, Paraguay menjadi Paraguai, Bangladesh menjadi Banglades, Lebanon menjadi Libanon, dan Swiss menjadi Swis.
Proses Panjang Sejak 2019
Sebenarnya, usulan penyesuaian ejaan nama negara ini bukan baru-baru ini. UNGEGN mencatat bahwa Indonesia sudah mengajukan daftar nama negara dan ibu kota dunia sejak 2019, pada sesi perdana keterlibatan Indonesia dalam pembahasan eksonim global.
Daftar tersebut kemudian diperbarui kembali pada 2024, dengan fokus pada ketepatan ortografis dan fonologis. Ortografis berarti kesesuaian sistem ejaan. Fonologis berarti kesesuaian bunyi bahasa dengan cara pelafalan penutur bahasa Indonesia.
Tujuannya agar penulisan nama negara asing lebih mudah dilafalkan, konsisten, dan sesuai lidah Indonesia, tanpa keluar dari daftar resmi negara anggota PBB.
Kolaborasi Bahasa, Diplomasi, dan Geospasial
Dokumen eksonim ini bukan hasil kerja satu lembaga. Prosesnya melibatkan Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai otoritas penamaan geografis nasional, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), Kementerian Luar Negeri, serta para ahli linguistik dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Badan Bahasa membenarkan keterlibatannya dalam proses tersebut.
“Ya, bahwa dalam pembahasan eksonim tersebut, Badan Bahasa dilibatkan,” kata Dr. Dora Amalia, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra BPPB, dikutip dari Kumparan.
Ini menunjukkan bahwa penulisan nama negara bukan sekadar soal peta, tetapi juga soal bagaimana sebuah bahasa memosisikan diri di dunia internasional.
Apa Itu Eksonim, dan Mengapa Penting?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksonim didefinisikan sebagai bentuk asing untuk nama geografis. Contohnya adalah Penang untuk Pulau Pinang di Malaysia.
UNGEGN memberi definisi serupa. Eksonim adalah nama geografis yang berbeda dari nama lokal atau resmi suatu wilayah, tetapi digunakan dalam bahasa tertentu.
Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Indonesia sudah lama menggunakan eksonim. Belanda untuk the Netherlands, Amerika Serikat untuk the United States of America, atau Jepang untuk Nippon. Tailan berada dalam tradisi yang sama.
Kenapa Thailand Menjadi Tailan?
Secara fonologis, bunyi th tidak dikenal dalam sistem bunyi bahasa Indonesia. Dalam ejaan Indonesia, bunyi tersebut diserap menjadi t. Akhiran -land disederhanakan menjadi -lan, mengikuti pola serapan lama dalam bahasa Indonesia.
Prinsip yang sama digunakan pada kata Finlandia, Islandia, atau Polandia dalam konteks tertentu. Tailan bukan pengecualian, melainkan hasil konsistensi kaidah.
BIG menegaskan bahwa penamaan Tailan merujuk pada dokumen eksonim yang telah didaftarkan ke UNGEGN. Tautan dokumen resmi tersebut bahkan disertakan dalam klarifikasi BIG saat isu ini viral.
Menuju Bahasa Indonesia Dikenal Internasional
Daftar perubahan nama negara yang disesuaikan eksonim ini mencakup 194 nama negara dunia. Daftar ini akan menjadi rujukan resmi untuk dokumen kenegaraan, buku teks, materi pendidikan, pemberitaan media massa, hingga konten digital.
Artinya, perubahan ini akan perlahan masuk ke ruang kelas, ruang redaksi, dan ruang publik. Proses adaptasinya tidak instan, tetapi arahnya jelas: konsistensi.
Pembakuan eksonim tidak berdiri sendiri. Langkah ini berkaitan erat dengan upaya internasionalisasi bahasa Indonesia. Pada 20 November 2023, bahasa Indonesia resmi digunakan sebagai bahasa sidang di Sidang Umum UNESCO.
Peneliti linguistik dari Universitas Indonesia, Umrotun Nida, menilai pembakuan eksonim memiliki konsekuensi penting di era globalisasi.
“Penyebutan eksonim menunjukkan kemampuan bahasa Indonesia dalam proses standarisasi dan adaptasi,” tulisnya dalam studi Pembakuan Eksonim Sebagai Bagian dari Langkah Strategis Internasionalisasi Bahasa Indonesia.
Daftar Negara Asia Tenggara Versi Terbaru
Dalam dokumen eksonim tersebut, penamaan negara Asia Tenggara dalam bahasa Indonesia adalah:
- Brunei Darusalam
- Kamboja
- Indonesia
- Laos
- Malaysia
- Myanmar
- Filipina
- Singapura
- Tailan
- Vietnam
- Timor Leste
Bahasa yang Terus Menyesuaikan
Bahasa tidak pernah statis. Ia bergerak mengikuti zaman. Perubahan Thailand menjadi Tailan mungkin terasa janggal hari ini. Namun, seperti Belanda atau Jepang, ia bisa menjadi hal biasa di masa depan.
Yang berubah bukan negaranya, melainkan cara kita menyebutnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


