I Made Andi Arsana adalah seorang akademisi, pakar hukum laut internasional, dan tokoh pendidikan asal Indonesia yang tengah dikenal terutama melalui platform media sosial. Sosoknya kerap muncul dalam sejumlah konten yang membahas isu pendidikan sampai politik luar negeri.
Pria bergelar doktor ini telah menempuh pendidikan tinggi prestisiusnya. Dimulai dari mengambil gelar sarjana Teknik Geodisi di Universitas Gadjah Mada (UGM), lalu dilanjutkannya di University of New South Wales dan University of Wollongong, Australia.
Sosok yang kerap disapa Bli Andi ini kini dikenal pula sebagai dosen di jurusan Teknik Geodisi UGM. Selaku dosen, ia tentu paham bagaimana mahasiswa mesti bersikap. Menurutnya mahasiswa adalah kelompok masyarakat merdeka yang harus berani menyuarakan kegelisahannya terhadap ketidakadilan.
Mahasiswa Itu Merdeka
“Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang paling merdeka. Intelektualitas dia cukup memadai, idealismenya harus utuh, tidak tergerus oleh segala macam. Kepentingannya enggak banyak. Maka menurut saya sangat baik kalau mahasiswa itu peduli pada sosial politik,” kata Bli Andi kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Dari kemerdekaan itu maka timbulah aksi turun ke jalan. Andi sendiri mewajarkan apa bila mahasiswa turun ke jalan untuk menggelar unjuk rasa kepada pihak yang ingin diprotes. Sebab ada masanya ia melakukan hal serupa semasa menjadi mahasiswa beberapa puluhan tahun lalu.
Akan tetapi, Andi tidak bisa setuju dengan anarkisme yang lahir dari aksi turun ke jalan tersebut. Ia merasa kebisingan dari unjuk rasa adalah keniscayaan yang harus ditonjolkan agar suara-suara aspirasi bisa terdengar kepada pihak yang diprotes.
“Gangguan itu memang harus ada di dalam sebuah aktivisme. Cuma gangguan-gangguan seperti apa itu kita bisa bicarakan seperti yang bilang tadi. Jangann merusak sesuatu yang memang berguna buat publik, tapi membuat bising, membuat orang menjadi tidak nyaman – dalam arti pemerintah atau siapapun yang kita lagi tuju. Itu bagian dari perjuangan. I say no to merusak public facilities. Tapi bahwa demo dan gerakan itu pasti menimbulkan kebisingan, itu keniscayaan,” ucapnya.
Hati-hati di Era Teknologi
Selain metode belajar, Bli Andi juga membahas pandangannya tentang masa depan dunia pendidikan Indonesia. Ia meyakini dukungan pemerintah melalui beasiswa pada saat ini akan memengaruhi pertukaran ilmu pengetahuan antarakademisi sehingga riset berkualitas bisa tercipta.
“Karena nanti dengan beasiswa itu tadi berarti dosen-dosen dan penggerak pendidikan harusnya adalah orang-orang yang tidak hanya pintar tapi well exposed oleh dunia luar, sehingga cara belajar, pendekatan riset segala macam semestinya jauh lebih baik,” ujar Andi.
Namun, beasiswa tidak cukup membuat dunia pendidikan Indonesia mumpuni. Pasalnya menurut Andi akses pendidikan belum merata belum lagi ditambah adanya pertambahan penduduk yang menghadirkan ketimpangan. Dari situ, bonus demografi yang diidamkan pemerintah Indonesia pada tahun 2030-an ditakutkan oleh Andi justru berubah menjadi bencana demografi.
“Kalau proporsi orang yang memiliki pendidikan cukup dengan yang mungkin kurang pendidikan itu akan makin lebar gapnya, atau makin buruk proporsinya. Kalau proporsi makin buruk apa yang terjadi? Yang terjadi bonus demografi yang kita idam-idamkan mungkin enggak tercapai. Jadi instead of bonus demography atau demographical bonus, kita mungkin akan menghadapi demographic disasters. Secara jumlah banyak memang (usia) muda, tapi muda dengan kapasitas yang tidak seperti seharusnya,” kata Andi yang berharap hal itu tidak terjadi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

