Mahasiswa KKN Universitas Singaperbangsa Karawang melaksanakan kegiatan penyuluhan briket arang dan pembuatan eco-enzyme di Aula Kantor Desa Sukamurni (14/1/2026). Kegiatan ini menjadi inovasi untuk mengatasi limbah organik yang masih menjadi permasalahan utama di Desa Sukamurni.
Caranya adalah dengan memanfaatkan sekam padi dan sampah organik rumah tangga menjadi sebuah produk yang bernilai jual serta ramah lingkungan.
Perlu Kawan GNFI ketahui bahwa Desa Sukamurni merupakan wilayah yang didominasi oleh sektor pertanian sehingga sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani.
Minimnya pengetahuan tentang pengolahan limbah pasca panen, menyebabkan banyaknya petani yang membakar sekam padi di ruang terbuka secara sembarangan.
Dengan begitu, ini menimbulkan asap yang dapat mencemari udara dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.
Pengolahan Limbah Sekam Padi agar Sustain
Mengacu pada penelitian Sutisna, dkk. (2021), limbah sekam padi yang telah dibakar dapat diolah lebih lanjut dengan menambahkan perekat dan dicetak menjadi briket arang.
Selain dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi sehari-hari, produk briket arang juga dapat dijual untuk menambah peluang ekonomi baru bagi warga desa.
Temuan ini menunjukkan bahwa limbah pertanian seperti sekam padi, jika dikelola dengan tepat, dapat bertransformasi menjadi sumber daya produktif yang berkontribusi pada ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, persoalan limbah juga bersumber dari aktivitas rumah tangga. Sisa makanan dan limbah dapur belum dikelola secara optimal dan masih sering dibakar di ruangan terbuka.
Kondisi ini bukan hanya menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, tetapi juga memicu permasalahan kesehatan serta menurunkan kualitas kebersihan lingkungan permukiman.
Sampah organik yang seharusnya bisa terurai secara alami justru menjadi beban tambahan bagi lingkungan akibat pengelolaan yang belum optimal dan berkelanjutan.
KKN Unsika Lakukan Uji Coba Limbah Alami
Sebelum kegiatan penyuluhan dilaksanakan, kelompok KKN Unsika terlebih dahulu melakukan uji coba pembuatan briket arang dan eco-enzyme secara mandiri.
Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa metode yang disampaikan dapat diterapkan dengan peralatan sederhana dan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Melalui uji coba tersebut, mahasiswa KKN tidak hanya memahami tahapan pembuatan secara teknis, tetapi juga mengidentifikasi kendala yang mungkin dihadapi masyarakat. Dengan demikian, materi penyuluhan dapat disampaikan secara lebih praktis dan sesuai dengan kondisi warga Desa Sukamurni.
Menurut Jelita (2022), sampah organik dapat diolah menjadi sebuah inovasi yang ramah lingkungan tanpa penggunaan bahan kimia serta mudah terurai secara alami. Eco-enzyme muncul sebagai produk hasil fermentasi sampah organik seperti ampas buah dan sayuran dengan menggunakan larutan gula merah atau molase.
Kondisi tersebut mencerminkan persoalan limbah di Desa Sukamurni yang tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan yang belum optimal, tetapi juga masih perlunya penguatan terhadap kesadaran masyarakat dalam memahami dampak lingkungan serta potensi nilai guna dari limbah organik.
Oleh karena itu, kelompok KKN Unsika hadir melalui program penyuluhan pembuatan briket arang dan eco-enzyme sebagai upaya edukatif untuk mendorong pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Warga Desa Sukamurni Dapatkan Penyuluhan Briket Arang
Pada penyuluhan briket arang, warga desa diajak untuk memahami proses pengolahan sekam padi, mulai dari proses pembakaran hingga pencetakan briket siap pakai.
Melalui penjelasan tersebut, warga diperlihatkan proses pembuatan briket arang yang dapat diterapkan secara mandiri dengan menggunakan peralatan sederhana yang mudah diakses sebagai bagian dari upaya pengelolaan limbah pertanian.
Selain itu, warga desa juga diperkenalkan pada pemanfaatan limbah organik rumah tangga melalui proses demonstrasi pembuatan eco-enzyme secara langsung dengan mempraktikkan prosedur pembuatan, mulai dari mencampurkan ampas buah dan sayur dengan larutan gula merah, hingga menjelaskan proses penyimpanan secara detail.
Selama kegiatan penyuluhan berlangsung, warga desa terlibat secara aktif dalam mengajukan berbagai pertanyaan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegunaan serta manfaat dari briket arang dan eco enzyme. Antusiasme tersebut menunjukkan langkah awal warga desa Sukamurni dalam membangun kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan limbah yang lebih bijak.

Penyuluhan Briket Arang dan Eco Enzyme dengan warga Desa Sukamurni
Perwakilan perangkat Desa Sukamurni, Komin Subarnas, S.H selaku Sekretaris Desa, memberikan apresiasi dan respons yang positif terhadap program kerja kelompok KKN Unsika. Ia mengatakan bahwa program ini merupakan inovasi baru dalam pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan masyarakat. Ia berharap, program ini ke depannya dapat dikembangkan dan dikaji lebih lanjut.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa kelompok KKN Unsika berusaha menanamkan bahwa pemberdayaan lingkungan dapat dimulai dari pengelolaan limbah yang mudah ditemui di kehidupan sehari-hari.
Selain sebagai produk alternatif, briket arang dan eco-enzyme juga diperkenalkan untuk menumbuhkan kesadaran warga Desa Sukamurni untuk memanfaatkan limbah organik dengan lebih bijak.
Harapannya, program ini dapat menjadi pemantik bagi warga Desa Sukamurni agar dapat mengelola limbah secara berkelanjutan. Melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara bersama-sama seperti memanfaatkan sekam padi dan sampah dapur, warga desa perlahan dapat membangun lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat.
Selain itu, partisipasi dari pemerintah desa juga sangat diperlukan dalam mendukung program pemberdayaan lingkungan agar memberikan dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari maupun kesejahteraan warga Desa Sukamurni.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


