sebuah sudut ruang di bolo space kembali menjadi ruang temu untuk presentasi karya goni puppet theatre berjudul kapal kertas untuk rumahku - News | Good News From Indonesia 2026

Menemukan "Rumah" dalam Kapal Kertas: Presentasi Karya Goni Puppet Theatre

Menemukan "Rumah" dalam Kapal Kertas: Presentasi Karya Goni Puppet Theatre
images info

Menemukan "Rumah" dalam Kapal Kertas: Presentasi Karya Goni Puppet Theatre


Sebuah sudut ruang di Bolo Space kembali menjadi ruang temu untuk presentasi karya Goni Puppet Theatre berjudul “Kapal Kertas untuk Rumahku".

Acara ini diselenggarakan pada Jumat, 13 Februari 2026. Kapal Kertas untuk Rumahku merupakan karya Teater Boneka terbaru yang saat ini sedang Goni Puppet Theatre kembangkan lewat panggung terbuka. 

Goni Puppet Theatre adalah kelompok teater boneka di Jogja yang lahir sejak 2023. Goni sendiri berfokus pada bidang seni “Teater Boneka dan Teater Objek” di mana menghidupkan puppet atau benda-benda. 

Nama “Goni” diambil dari filosofi karung goni yang fungsional karena dapat digunakan untuk menyimpan apapun.

baca juga

Dari sini, Goni bereksplorasi dengan berbagai macam bahan, gaya, dan kolaborasi multidisiplin seni tanpa ada batasan. 

Karya “Kapal Kertas Untuk Rumahku” merupakan karya project on progress dari Goni Puppet Theatre yang menceritakan tentang seorang anak kecil yang tidak pernah hidup bersama orang tuanya.

Sejak kecil, ia terhanyut bersama sebuah kapal kertas hingga sampai di sebuah pantai. Karya presentasi ini mempertanyakan di mana tempat pulang paling nyaman itu berada? 

Goni Puppet Theatre menyulap ruang tengah Bolo Space menjadi samudera imajinasi yang emosional. Memperkenalkan Bochan, sebuah karakter puppet yang membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan tentang rumah dan pulang.

Karakter yang dibangun Goni bernama Bochan ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang makna kepulangan dan filosofi "rumah" yang kerap terlupakan.

Berawal dari Ironi di Pesisir Gunung Kidul

Lahirnya karya ini bermula dari sebuah perjalanan reflektif tim kreatif ke pesisir pantai Gunung Kidul sekitar dua tahun lalu. Di sana, mereka menemukan pemandangan yang mengusik nurani: kelomang-kelomang yang kehilangan cangkang aslinya dan terpaksa menggunakan sampah sebagai rumah darurat.

"Mereka yang bisa membawa rumah ke mana-mana saja rumahnya bisa rusak. Apalagi yang rumahnya ditinggal merantau, kita tidak tahu keadaannya seperti apa," ujar Goni Puppet Theatre dalam sesi diskusi pasca-pertunjukan.

baca juga

Ironi kehidupan kelomang inilah yang kemudian ditarik menjadi benang merah cerita Bocan—seorang anak pesisir yang mencari arti stabilitas di tengah ketidakpastian.

Inovasi Teknis, Movement sebagai Penggerak Imajinasi

Hal yang membuat pertunjukan ini istimewa adalah keberanian Goni Puppet Theatre untuk keluar dari zona nyaman. Jika biasanya mereka menggunakan boneka ukuran standar, kali ini mereka mengeksplorasi boneka berukuran lebih kecil.

Penggunaan dimensi yang kontras ini bukan tanpa alasan. Ukuran kecil memungkinkan detail gerakan yang lebih luwes dan membuka ruang imajinatif yang lebih lebar bagi penonton.

Tanpa dekorasi panggung yang megah, ruang tengah yang disulap menjadi sebuah rumah, tembok putih, dan pencahayaan berhasil membangun suasana darat dan laut murni melalui movement (gerakan) boneka yang presisi serta dukungan ilustrasi musik yang "tebal".

Penonton tidak hanya melihat benda mati yang digerakkan, tetapi merasakan transisi emosi dari setiap ayunan tangan sang dalang.

Kapal Kertas: Jembatan Pesan Melampaui Jarak

Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah kemunculan kapal kertas. Bagi Goni Puppet Theatre, kapal kertas adalah simbol komunikasi paling jujur bagi seorang anak pesisir.

Ia adalah wadah untuk menuliskan pesan, sebuah medium yang bisa dihanyutkan untuk menghubungkan jarak yang jauh antara perantau dan rumahnya.

Keintiman ini dirasakan langsung oleh audiens. Seorang penonton asal Lombok mengungkapkan bagaimana adegan mengeluarkan makhluk dari cangkangnya membangkitkan memori kolektif masa kecil yang sangat personal.

Pertunjukan tersebut membuktikan bahwa teater boneka memiliki kekuatan universal untuk menyentuh hati siapa saja, lintas usia dan latar belakang.

baca juga

Energi Kolektif di Ruang Alternatif

Meskipun panggung formal seperti Black Box menawarkan teknis yang mapan, pementasan di ruang alternatif seperti ini justru menciptakan energi yang lebih cair dan intim. Interaksi jarak dekat antara penonton dan pemain membuat setiap helaan napas karakter Bocan terasa nyata.

Melalui pementasan ini, kita diingatkan kembali bahwa kreativitas anak bangsa tidak pernah mati. Mereka terus bergerak, bereksplorasi dengan bentuk, dan menyuarakan isu-isu lingkungan serta kemanusiaan melalui cara yang paling puitis: permainan boneka.

Sejak awal berdiri, Bolo Space menjadi wadah yang memposisikan diri sebagai ruang eksplorasi sangat cair dengan adanya proyek presentasi karya serupa—yang masih dalam prosesnya untuk bertumbuh dan berkembang.

Justru di ruang seperti inilah, mereka membuat karya yang jujur, dan bahkan memberikan ruang aman untuk menjadi belum sempurna. 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.