Di balik mashyurnya Kabupaten Jombang yang dikenal sebagai pusat peradaban Pendidikan Agama Islam di Jawa Timur—dibuktikan dengan banyaknya pondok pesantren berdiri—terselip sebuah catatan rasa yang tak lekang oleh zaman.
Nasi kikil bukan sekadar nama makanan, mmelainkan identitas kota dan simbol eksistensi yang disajikan di atas selembar daun pisang. Menikmati sepincuk nasi kikil di sini bukan sekadar urusan memuaskan rasa lapar, melainkan ruang kontemplasi dari sebuah tradisi panjang masyarakat Jombang.
Jika Kawan GNFI tertarik mencoba, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Warung Nasi Kikil yang lokasinya tidak jauh dari Pondok Pesantren Tebu Ireng atau Makam Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang ada di Diwek, Jombang.
Di sini Kawan GNFI, dapat memilih warung nasi kikil yang berbaris berdekatan. Ada Nasi Kikil Bu Tandur, Nasi Kikil Abang Mojosongo, dan Nasi Kikil Kesukaan Gus Dur. Semuanya dengan ciri khasnya masing-masing.
1. Pincuk Daun Pisang dan Kesahajaan Tak Bersekat

Seporsi nasi kikil lauk daging sapi (Foto/Dodik Suprayogi)
Di kesempatan kali ini, saya memilih Warung Nasi Kikil Bu Tandur. Salah satu daya tarik paling organik dari Nasi Kikil Bu Tandur adalah penggunaan pincuk wadah tradisional dari daun pisang yang dilipat dan disematkan lidi.
Di tengah gempuran piring keramik dan melamin yang modern, pincuk tetap dipertahankan bukan karena ketidakmampuan beralih, melainkan sebagai penjaga aroma.
Panas dari nasi yang mengepul saat bersentuhan dengan permukaan daun pisang menciptakan aroma khas yang membangkitkan selera. Berdasarkan perspektif filosofis, pincuk mencerminkan karakter masyarakat Jombang yang religius dan rendah hati.
Di sana, tidak ada strata sosial. Semua orang, dari pejabat hingga rakyat jelata, kaum santri maupun kaum abangan duduk bersama menikmati hidangan yang sama dengan cara yang sama, tidak ada sekat yang membatasi.
Kesederhanaan ini menjadi pengingat bahwa kemewahan sejati sering kali terletak pada kemurnian tradisi yang dijaga dengan penuh ketulusan.
Rombongan bapak-bapak peci hitam dan bersarung menyapa lembut kami yang sedang menyantap nikmat nasi kikil di hari yang menjelang malam, bukti kesahajaan tercipta di sini.
“Saat ini sudah generasi ke-3 yang meneruskan, kalau Bu Tandur sudah meninggal sejak 15 tahunan yang lalu mas”, kami berbincang santai dengan pramusaji yang ternyata adalah cucu dari Bu Tandur, saat berkunjung ke warungnya pada Kamis (26/3).
2. Rempah Pilihan dan Tekstur Kikil yang Legendaris
Daya magis utama dari hidangan ini terletak pada kemahiran mengolah kaki sapi menjadi santapan yang lembut dan gurih. Kikil di warung Bu Tandur dikenal bertekstur yang sangat empuk. Hasil dari proses perebusan berjam-jam dengan teknik yang diwariskan secara turun-temurun.
Tidak ada jejak bau amis atau tekstur liat yang mengganggu, yang ada hanyalah sensasi kenyal saat bertemu indra perasa.
Kuah santannya berwarna kuning kemerahan, kaya akan rempah-rempah tradisional seperti kencur, jahe, dan kunyit yang memberikan kehangatan di kerongkongan.
Perpaduan antara gurihnya santan dan sedikit rasa pedas menciptakan harmoni yang pas. Ditambah dengan kehadiran lodeh pepaya muda yang segar dan lauk pendamping seperti empal goreng, lidah sapi, jeroan, paru-paru atau daging sapi dan sepiring nasi kikil ini menjadi instrumen rasa yang merepresentasikan kekayaan agraris dan peternakan di wilayah Jombang dan sekitarnya.
Ini menjadi kabar baik Indonesia, dengan kekayaan kuliner Nusantara yang beragam dan penuh cita rasa.
Catatan Kaki Gus Dur
Berbicara tentang nasi kikil, tidak lengkap tanpa menyebutkan keterikatannya dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sebagai putra asli Jombang, Gus Dur dikenal sangat menggemari nasi kikil ini. Kabar bahwa kuliner khas Jombang ini merupakan langganan sang Presiden telah memberikan nilai historis dan emosional yang mendalam bagi para pengunjung.
Tokoh sekaliber Gus Dur di warung pinggir jalan ini mempertegas citra Jombang sebagai kota yang inklusif. Warung kikil pun menjadi ruang pertemuan budaya, tempat di mana kenangan tentang sang kiai besar tetap hidup melalui aroma kuah rempah.
Setiap suapan seolah mengajak kita mengenang kembali humor dan kebijaksanaan Gus Dur. Membuat nasi kikil ini lebih dari sekadar makanan, melainkan bagian dari catatan kaki yang menyatukan masyarakat Jombang dalam satu rasa syukur yang sama.
Nasi kikil adalah bukti bahwa kuliner merupakan bahasa universal yang mampu bercerita tentang sejarah, karakter, dan kehangatan sebuah daerah. Jombang, dengan segala dinamika spiritual dan sosialnya, terangkum dengan sempurna dalam setiap kesederhanaan sepincuk nasi kikil.
Jangan sampai terlewat, jika berkunjung ke Jombang luangkan waktu untuk mampir menikmati sepincuk nasi kikil, agar Kawan GNFI Makin Tahu Indonesia. Harganya cukup terjangkau, dijamin tidak akan membuat menyesal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


