Lebaran di setiap daerah di Indonesia selalu punya cerita. Namun di Madura, suasana Idulfitri terasa begitu khas. Terasa hangat, guyub, dan penuh simbol yang dalam. Pulau garam ini bukan hanya dikenal karena budaya yang kuat, tapi juga cara masyarakatnya merayakan hari kemenangan dengan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Mulai dari mudik yang disebut “toron” hingga festival musik yang meriah, berikut lima tradisi Idulfitri di Madura yang menarik untuk Kawan ketahui.
Toron: Pulang Kampung dengan Makna Filosofis
Bagi masyarakat Madura, mudik bukan sekadar pulang kampung—ia punya istilah sendiri: toron, yang berarti “turun”. Istilah ini bukan tanpa alasan.
Secara filosofis, masyarakat Madura memandang pulau mereka sebagai “tanah asal” yang posisinya lebih rendah, sehingga pulang ke kampung halaman diartikan sebagai kembali “turun”.
Tradisi toron menjadi momen yang sangat dinantikan, terutama saat Idulfitri. Para perantau dari berbagai kota akan berbondong-bondong kembali ke Madura untuk berkumpul bersama keluarga besar. Meski toron juga dilakukan saat Idul Adha atau Maulid Nabi, suasana Lebaran tetap menjadi puncaknya.
Di balik padatnya arus mudik, toron menyimpan makna kuat tentang keterikatan emosional dengan tanah kelahiran. sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, rumah tetap jadi tempat pulang.
Tellasan Topak: Lebaran Kedua yang Tak Kalah Meriah
Jika di banyak daerah Lebaran usai di hari pertama, di Madura perayaan justru berlanjut hingga hari ke delapan Syawal melalui tradisi Tellasan Topak, atau dikenal sebagai Lebaran Kecil (Lebaran Keni’).
Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi juga simbol pengakuan kesalahan dan penguatan silaturahmi setelah menjalankan puasa Syawal.
Pada hari tersebut, masyarakat secara gotong royong membuat ketupat dan berbagai hidangan khas. Salah satu menu andalan adalah topak ladeh, kuah santan pedas dengan bumbu khas Madura yang menggugah selera.
Ada yang unik, yaitu para perempuan biasanya mengantarkan hidangan ke rumah orang yang lebih tua dengan cara menjunjung nampan di atas kepala. Bahkan, ada pula tradisi mengalungkan ketupat pada sapi atau kerbau sebagai bentuk rasa syukur dan doa keselamatan.
Arebbe Bengaseppo: Mengingat Leluhur di Hari Kemenangan
Di tengah suasana Lebaran yang penuh kegembiraan, masyarakat Madura juga menyempatkan diri untuk merenung dan mengenang leluhur melalui tradisi Arebbe Bengaseppo.
Tradisi ini dilakukan dengan membawa nasi, air, dan jajanan khas Lebaran ke masjid atau musala untuk didoakan bersama. Makanan tersebut sering dikemas dalam kaleng biskuit yang diisi dengan camilan tradisional seperti rengginang. Detail kecil yang justru terasa begitu akrab dan membumi.
Arebbe Bengaseppo menjadi jembatan antara generasi masa kini dengan mereka yang telah tiada. Di sini, Lebaran tak hanya soal merayakan kemenangan, tapi juga tentang menghormati asal-usul dan menjaga hubungan spiritual dengan leluhur.
Ter-Ater: Berbagi yang Jadi Tradisi
Salah satu tradisi yang paling terasa hangat adalah ter-ater, yaitu kebiasaan berbagi makanan kepada tetangga dan kerabat. Tradisi ini bukan sekadar memberi, tapi menjadi simbol kebersamaan yang sudah mengakar kuat di masyarakat Madura.
Biasanya, setiap keluarga akan memasak hidangan spesial. Mulai dari nasi putih, ayam atau daging, hingga bihun kecap dan serundeng. Menariknya, banyak keluarga yang menyembelih ayam atau bebek peliharaan sendiri sebagai bentuk kesungguhan dalam berbagi.
Ter-ater tidak hanya dilakukan saat Idulfitri, tapi pada momen penting lainnya. Namun, saat Lebaran, tradisi ini terasa lebih istimewa karena menjadi wujud nyata dari rasa syukur setelah sebulan berpuasa.
Festival Daul: Irama Lebaran yang Penuh Energi
Lebaran di Madura juga diwarnai dengan kemeriahan seni melalui Festival Daul, terutama di wilayah Sampang. Berasal dari musik tong-tong tradisional, Daul berkembang menjadi pertunjukan musik perkusi yang dinamis dan atraktif.
Setiap kelompok musik tampil dengan formasi lengkap, dekorasi menarik, dan sound system yang megah. Bahkan, biaya yang dikeluarkan untuk satu penampilan bisa mencapai puluhan juta rupiah—menunjukkan betapa seriusnya masyarakat dalam melestarikan tradisi ini.
Festival Daul bukan hanya hiburan, tapi juga ruang ekspresi dan kreativitas yang memperkuat identitas budaya Madura di tengah arus modernisasi.
Beragam tradisi Idulfitri di Madura menunjukkan bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, tapi juga ruang untuk menjaga nilai-nilai budaya. Semuanya menggambarkan betapa kuatnya ikatan komunitas di pulau ini.
Tradisi-tradisi ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah sesuatu yang layak dirawat, dan Lebaran adalah salah satu momen terbaik untuk melakukannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


