mengenal sosok kh idham chalid ulama politikus dan pahlawan di uang kertas rp 5000 - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Tokoh K.H. Idham Chalid: Ulama, Politikus, & Pahlawan di Uang Kertas Rp5.000

Mengenal Tokoh K.H. Idham Chalid: Ulama, Politikus, & Pahlawan di Uang Kertas Rp5.000
images info

Mengenal Tokoh K.H. Idham Chalid: Ulama, Politikus, & Pahlawan di Uang Kertas Rp5.000


Uang kertas baru pecahan Rp5.000 memiliki nilai lebih dari sekadar alat transaksi. Di atas lembarannya, terpampang wajah seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh bangsa, yaitu KH Idham Chalid. Penggambarannya di uang tersebut bukan tanpa alasan.

Sosok ini dikenal sebagai ulama besar, pemimpin organisasi keagamaan, sekaligus negarawan yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. Dedikasinya pada pendidikan, agama, dan pemerintahan menjadikannya teladan bagi banyak generasi.

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

KH Idham Chalid sebagaimana dikutip dari laman ikpni.or.id lahir pada 27 Agustus 1921 di Satui, Kalimantan Selatan. Ia merupakan anak sulung dari lima bersaudara dan tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Ayahnya, H. Muhammad Chalid, merupakan seorang penghulu di Amuntai. Sejak kecil, Idham menunjukkan kecerdasan dan ketekunan yang luar biasa. Saat bersekolah di Sekolah Rakyat (SR), ia langsung duduk di kelas dua karena kemampuannya di atas rata-rata anak seusianya.

Bakatnya dalam berbicara di depan umum juga sudah terlihat sejak dini. Ia dikenal pandai berpidato dan berani mengemukakan pendapat di hadapan orang banyak. Sifat ini kelak menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya di bidang sosial, pendidikan, dan politik.

baca juga

Perjalanan Pendidikan dan Pembentukan Karakter

Pendidikan Idham Chalid berawal dari madrasah Ar-Rasyidiyyah di Amuntai, tempat ia memperdalam ilmu agama. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di pesantren tersebut, wawasan dan pandangannya semakin luas. Ia tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mempelajari berbagai bahasa asing seperti Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Prancis.

Kemampuan berbahasa ini membuatnya mampu berinteraksi dengan berbagai kalangan dan memahami dunia luar. Dari lingkungan Gontor yang disiplin dan modern, terbentuk karakter Idham Chalid sebagai seorang pemimpin yang terbuka, berpandangan luas, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Kiprah di Dunia Pendidikan dan Perjuangan Kemerdekaan

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Idham Chalid kembali ke Kalimantan Selatan dan mengabdikan diri sebagai pendidik. Ia memimpin beberapa lembaga pendidikan dan berperan dalam membina generasi muda di daerahnya.

Namun, perjuangannya tidak berhenti di dunia pendidikan. Pada masa pendudukan Belanda, Idham Chalid aktif dalam gerakan kemerdekaan. Dikutip dari laman tempo.co Ia terlibat dalam Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK) bersama tokoh militer Hasan Basri, serta turut mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan. Perjuangan ini membuatnya sempat ditangkap oleh Belanda pada tahun 1949, namun dibebaskan beberapa bulan kemudian.

Pengalaman tersebut semakin memperkuat tekadnya untuk mengabdi kepada bangsa melalui jalur pendidikan, organisasi, dan pemerintahan.

baca juga

Perjalanan Politik dan Kepemimpinan Nasional

Nama Idham Chalid semakin dikenal luas setelah aktif di Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Pada tahun 1952, ia bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor, lalu dua tahun kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PBNU.

Kepemimpinannya yang cerdas dan bijak membuatnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada tahun 1956. Jabatan tersebut diemban hingga tahun 1984, menjadikannya salah satu pemimpin NU dengan masa kepemimpinan terlama. Di bawah arahannya, NU berkembang pesat dan memainkan peran penting dalam kehidupan sosial-politik Indonesia.

Selain di organisasi keagamaan, Idham Chalid juga terjun ke dunia politik nasional. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Selain itu, ia juga pernah menjadi Menteri Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial ad interim serta Ketua DPR/MPR RI. Karier politik yang panjang ini menunjukkan kemampuan diplomasi dan kepemimpinannya yang luar biasa di tengah dinamika politik Indonesia.

Pada tahun 2016, Bank Indonesia meluncurkan seri uang kertas baru dengan menampilkan wajah para pahlawan nasional. Salah satu di antaranya adalah KH Idham Chalid yang diabadikan dalam pecahan Rp5.000.

Pencantuman wajahnya bukan sekadar penghargaan simbolis. Hal ini mencerminkan pengakuan negara atas jasa-jasanya di bidang agama, pendidikan, dan pemerintahan. Uang kertas tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat bagi masyarakat Indonesia bahwa perjuangan dan pengabdian seorang ulama bisa memberikan dampak besar bagi bangsa.

Setiap kali uang itu berpindah tangan, wajah KH Idham Chalid seakan menjadi pengingat bahwa nilai sejati dari perjuangan tidak diukur dari jabatan, tetapi dari dedikasi yang tulus untuk rakyat.

Teladan Kehidupan

Bagi Idham Chalid, seorang ulama harus mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa tanpa kehilangan jati diri keagamaannya. Prinsip ini tetap relevan hingga kini, terutama di tengah tantangan sosial dan politik modern yang membutuhkan kebijaksanaan, toleransi, dan kepemimpinan yang berintegritas.

Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011 melalui Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011.

KH Idham Chalid bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan simbol dari perjuangan yang menyatukan nilai keagamaan dan kenegaraan. Sosoknya mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengabdi tanpa pamrih, berpikir luas tanpa kehilangan akar, dan berjuang tanpa lelah untuk kemaslahatan umat.

Dengan diabadikannya wajahnya di uang Rp5.000, namanya akan selalu hidup di ingatan masyarakat. Lembaran itu bukan hanya alat tukar, melainkan simbol keteladanan seorang ulama besar yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.