Kondisi likuiditas atau perputaran uang di tanah air masih menunjukkan tren yang sehat. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 telah menembus angka psikologis baru, yakni Rp10.089,9 triliun.
Meski secara persentase tumbuh 8,7 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibanding Januari yang mencapai 10 persen, angka ini, sebagaimana dikatakan BI, masih tergolong stabil secara ekonomi.
Perlambatan pertumbuhan ini disebut sebagai hal yang lumrah dalam dinamika ekonomi bulanan. Yang perlu digarisbawahi adalah struktur uang beredar ini masih didominasi oleh uang sempit (M1) yang tumbuh cukup tajam sebesar 14,4 persen.
Hal ini menandakan bahwa masyarakat dan dunia usaha masih memegang likuiditas yang cukup tinggi untuk keperluan transaksi sehari-hari.
“Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas tumbuh positif pada Februari 2026,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.
Uang Tunai di Tangan Masyarakat Makin Banyak
Satu fenomena menarik terlihat pada komponen uang kartal, uang kertas dan logam yang beredar di luar bank.
Jumlahnya mencapai Rp1.159,9 triliun, tumbuh 15 persen dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi riil di tingkat akar rumput masih berjalan seperti sebelumnya.
Selain uang tunai, giro rupiah dan tabungan yang bisa ditarik sewaktu-waktu juga tumbuh masing-masing 23,5 persen dan 7,4 persen.
Kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana di perbankan dalam bentuk yang mudah diakses tetap tinggi, yang pada gilirannya masih menjaga kelancaran sistem pembayaran nasional.
Pemerintah dan Kredit Jadi Mesin Penggerak
Apa yang memicu pertumbuhan uang itu?
Faktor utamanya adalah peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit.
Tagihan bersih kepada pemerintah tercatat melonjak 25,6 persen (yoy), lebih tinggi dari posisi Januari. Aktivitas fiskal ini cukup ekspansif untuk menggerakkan roda ekonomi.
Di sisi lain, fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan meski ritmenya sedikit melambat. Penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh 8,9 persen.
Walaupun pertumbuhan ini tidak sekencang bulan sebelumnya, perbankan masih tetap menyalurkan modal ke dunia usaha, yang menunjukkan kalau sektor produktif masih terus bergerak meski dengan laju yang lebih moderat.
“Perkembangan M2 dipicu oleh peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit,” jelas Denny.
Melihat angka-angka tersebut, Bank Indonesia menilai kondisi likuiditas saat ini masih sangat memadai untuk mendukung seluruh aktivitas ekonomi. Akselerasi pada uang primer (M0) yang tumbuh 18,3 persen juga memberikan bantalan yang cukup kuat bagi sistem keuangan nasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


