Di selatan Jawa Barat, tepatnya di kawasan Pangandaran, tersembunyi sebuah lanskap alam yang seolah diukir dengan kesabaran waktu. Namanya Cukang Taneuh, yang lebih populer dengan sebutan Green Canyon.
Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang perjumpaan antara keindahan, geologi, dan petualangan. Memiliki aliran sungai berwarna hijau toska, tebing karst menjulang, serta suasana hening yang menenangkan, Cukang Taneuh menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan.
Memiliki Arti "Jembatan Tanah"
Nama “Cukang Taneuh” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “jembatan tanah”. Istilah ini merujuk pada jembatan alami yang dahulu membentang di atas Sungai Cijulang. Jembatan tersebut terbentuk dari batuan kapur yang menghubungkan dua sisi ngarai.
Namun, seiring waktu, proses erosi menggerus bagian atasnya hingga runtuh. Yang tersisa adalah ngarai terbuka dengan aliran sungai di bawahnya. Menciptakan lanskap dramatis yang kini kita kenal.
Sementara itu, nama “Green Canyon” muncul pada awal 1990-an, ketika seorang wisatawan asal Prancis terpukau oleh warna air sungai yang hijau jernih. Julukan ini kemudian melekat dan dikenal luas, bahkan hingga mancanegara.
Keindahan Geologis Bernuansa Magis
Cukang Taneuh terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, sekitar 30 kilometer dari pusat wisata Pantai Pangandaran. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu kurang lebih satu jam, melewati lanskap pedesaan yang asri.
Secara geologis, kawasan ini merupakan bagian dari bentang alam karst di selatan Jawa Barat. Ngarai ini terbentuk dari proses erosi Sungai Cijulang selama jutaan tahun. Aliran air secara perlahan mengikis batuan kapur, menciptakan tebing curam, gua-gua kecil, hingga formasi stalaktit dan stalagmit.
Hal pertama yang mencuri perhatian di Cukang Taneuh adalah warna airnya, hijau toska yang tampak berkilau saat terkena cahaya matahari. Warna ini berpadu kontras dengan tebing batu kapur berwarna kelabu dan vegetasi hijau yang menjuntai dari atas.
Suasana di dalam ngarai terasa magis. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tebing menciptakan permainan bayangan yang menenangkan sekaligus memukau. Tak heran jika banyak yang menyebut tempat ini sebagai “lukisan alam hidup”.
Pengalaman Kunjungan yang Bisa Dilakukan
Menjelajahi Cukang Taneuh tidak hanya soal melihat, tetapi juga merasakan. Aktivitas utama di sini adalah menyusuri Sungai Cijulang menggunakan perahu ketinting. Perjalanan ini biasanya memakan waktu 30–45 menit, dengan panorama tebing di kanan-kiri yang terus berganti.
Di beberapa titik, pengunjung dapat melihat lorong-lorong alami bekas gua purba. Atap gua yang runtuh menciptakan ruang terbuka, sementara dindingnya tetap membentuk koridor sempit yang dramatis.
Bagi pencari adrenalin, body rafting menjadi pilihan favorit. Wisatawan akan menyusuri sungai dengan pelampung, melewati jeram kecil, berenang, bahkan melompat dari tebing rendah. Sensasinya seru, tapi tetap aman karena didampingi pemandu profesional.

Aktivitas body rafting di Green Canyon | Wikimedia Commons: Ocyid X
Sementara itu, bagi yang ingin menikmati suasana santai, tersedia area untuk berjalan kaki, berfoto, atau sekadar duduk menikmati udara segar. Setiap sudutnya terasa “fotogenik”, cocok untuk mengabadikan momen.
Fasilitas Pendukung dan Aksesibilitas
Sebagai destinasi unggulan, kawasan Green Canyon telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Mulai dari area parkir luas, loket tiket, ruang tunggu, hingga pusat informasi tersedia untuk kenyamanan pengunjung. Fasilitas umum seperti toilet, musala, warung makan, dan kios oleh-oleh juga mudah ditemukan.
Akses menuju lokasi pun relatif mudah. Dari pusat Pangandaran, wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum menuju Terminal Cijulang, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek atau kendaraan sewa menuju dermaga Green Canyon.
Bagi wisatawan dari luar daerah, tersedia banyak pilihan penginapan di sekitar Pangandaran dan Cijulang. Adapun waktu kunjungan terbaik adalah saat musim kemarau, ketika air sungai lebih jernih dan arus tidak terlalu deras.
Cukang Taneuh bukan hanya tentang keindahan visual. Di tengah geliat pariwisata, Cukang Taneuh tetap berdiri sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Sebuah mutiara hijau yang terus memikat siapa saja yang datang. Keberadaannya semakin mengukuhkan Pangandaran sebagai salah satu kawasan wisata alam terkemuka di Jawa Barat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


