Kilang minyak menjadi jantung industri pengolahan minyak mentah untuk diproduksi sebagai bahan bakar minyak (BBM), petrokimia, dan produk strategis lainnya. Keberadaan kilang minyak sangat penting karena merupakan tulang punggung ketahanan energi sebuah negara.
Di Asia Tenggara, sektor energi terus mengalami transformasi besar seiring dengan meningkatnya kebutuhan mobilitas dan industri di kawasan ini. Demi mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi lokal, negara-negara di ASEAN mulai membangun kilang minyaknya sendiri demi mendukung swasembada energi.
Kira-kira, apa saja kilang minyak dengan kapasitas besar yang ada di ASEAN? Adakah Indonesia di dalamnya?
10 Kilang Minyak Terbesar di ASEAN
Merangkum data Seasiastats yang dihimpun oleh Goodstats, berikut adalah 10 kilang minyak terbesar di ASEAN berdasarkan kappasitasnya:
Peringkat | Nama Kilang | Lokasi (Negara) | Kapasitas (bph) |
1 | ExxonMobil Singapore | Singapura | 605.000 |
2 | Shell Energy & Chemicals Park Bukom | Singapura | 500.000 |
3 | Balikpapan | Indonesia | 360.000 |
4 | Cilacap | Indonesia | 348.000 |
5 | PRefChem RAPID | Malaysia | 300.000 |
6 | SRC Jurong Island | Singapura | 290.000 |
7 | IRPC | Tailan | 280.000 |
8 | Thai Oil Siracha | Tailan | 275.000 |
9 | Nghi Son | Vietnam | 200.000 |
10 | Petron Bataan | Filipina | 180.000 |
Kilang Minyak Balikpapan
Kilang minyak Balikpapan merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia saat ini. Kilang minyak yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (PT KPB) yang juga merupakan anak perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).
Kilang minyak ini bisa memproduksi sekitar 360 ribu barel minyak per hari, atau sama dengan 22-25 persen (seperempat persen) kebutuhan nasional. Kilang minyak Balikpapan berdiri di atas lahan seluas lebih dari 280 hektare.
Awalnya, kapasitas pengolahan kilang ini adalah 260 ribu barel per hari. Namun, ditingkatkan menjadi 360 barel per hari. Jumlah ini menjadikan kilang minyak Balikpapan sebagai salah satu kilang minyak dengan kapasitas produksi terbesar di Asia Tenggara.
Selain itu, produksinya juga menggunakan standar EURO 5 yang bertujuan untuk menjaga kualitas udara dan lingkungan agar tetap bersih. Hal ini sejalan dengan target Net Zero Emission Indonesia.
Tak hanya itu, kilang yang baru diresmikan pada 12 Januari 2026 ini juga akan meningkatkan produksi bahan bakar dengan Research Octane Number (RON) 92, 5, dan 98. Ini dilakukan agar Indonesia tak bergantung pada impor.
Ada berbagai jenis produk yang bisa diproduksi di kilang minyak Balikpapan, seperti bahan bakar minyak (BBM), LPG, sampai petrokimia. Bahkan, kilang ini disebut-sebut bisa menghemat devisa negara senilai lebih dari Rp60 triliun per tahun karena mengurangi impor BBM jenis solar.
Kawan GNFI, keberadaan kilang minyak Balikpapan merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Kilang Minyak Cilacap
Sebelum kilang minyak Balikpapan ada dan diresmikan, kilang minyak Cilacap adalah kilang minyak terbesar di Indonesia dilihat dari kapasitasnya, yakni 348.000 barel per hari. Kilang ini bernilai strategis karena memasok setidaknya 34 persen kebutuhan BBM nasional.
Kilang minyak ini dibangun di tahun 1974 dan diresmikan pada 1976. Kapasitas awalnya masih sebesar 100 ribu barel per hari.
Disadur dari situs Pemerintah Kabupaten Cilacap, kilang minyak Cilacap menjadi produsen avtur tertinggi di Indonesia, yakni 18,44 juta barel per tahun. Bahkan, kilang ini juga sukses mengekspor avtur sebesar 400 ribu barel pada Juli 2019.
Hal menarik lainnya dari kilang minyak Cilacap adalah kilang ini menjadi kilang pertama yang memproduksi Bahan Bakar Khusus (BBK) ramah lingkungan, Pertalite dengan RON 90. Lifting perdananya dilakukan pada Januari 2021.
Di sisi lain, kilang minyak terbesar kedua di Indonesia ini juga sukses memproduksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel atau PertaminaSAF. Produk ini adalah sejenis BBM ramah lingkungan yang memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakunya.
Bahkan, SAF yang berhasil diproduksi itu pernah dipakai dalam joy flight pada penerbangan komersial Garuda Indonesia tujuan Jakarta-Solo tahun 2023 silam. SAF juga sukses menggondol sertifikasi internasional; nternational Sustainability and Carbon Certification-Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (ISCC-CORSIA) di tingkat regional Asia Tenggara pada tahun 2024. Top!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


