bukan horor para perasuk tawarkan realita dari sebuah obsesi - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Horor, "Para Perasuk" Tawarkan Realita dari Sebuah Obsesi

Bukan Horor, "Para Perasuk" Tawarkan Realita dari Sebuah Obsesi
images info

Bukan Horor, "Para Perasuk" Tawarkan Realita dari Sebuah Obsesi


Wregas Bhanuteja kembali hadir dengan film ketiganya yang berjudul Para Perasuk. Sutradara yang sebelumnya melakukan debut layar lebar lewat Penyalin Cahaya ini kembali membawa warna baru dalam karya terbarunya.

Berbeda dari dua karya sebelumnya, yaitu Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti yang lebih banyak mengangkat realita sosial dalam balutan drama, kali ini Wregas menghadirkan pendekatan yang lebih luas.

Para Perasuk tetap berangkat dari realita sosial, tetapi dipadukan dengan berbagai elemen lain seperti budaya, komedi, hingga supranatural, yang membuatnya tampil dengan nuansa yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.

Film ini diproduksi oleh Rekata Studio dan diproduseri oleh Iman Usman, Sierra Tamihardja, dan Amalia Fitriani Rusdi. Naskahnya ditulis langsung oleh Wregas Bhanuteja bersama Defi Mahendra dan Alicia Angelina.

Menjelang perilisannya pada 23 April 2026 di bioskop, Para Perasuk menggelar press conference dan media screening pada Selasa (14/04/2026) di XXI Epicentrum. Acara ini dihadiri oleh jajaran produser, sutradara, serta para pemain seperti Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, dan Indra Birowo.

Dalam kesempatan tersebut, para produser, sutradara, dan para pemain turut berbagi cerita mengenai proses produksi film, mulai dari tahap pra-produksi hingga pascaproduksi.

Sinopsis

Para Perasuk berlatar di Desa Latas, sebuah desa yang dikenal dengan tradisi pesta kerasukan bernama Pesta Sambetan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun, tidak hanya sebagai hiburan bagi warga, tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian sekaligus bagian penting dari pelestarian budaya setempat.

Konflik mulai muncul ketika sumber mata air keramat di desa tersebut yang selama ini digunakan para perasuk untuk mencari roh dalam Pesta Sambetan terancam digusur oleh perusahaan air minum. Warga Desa Latas pun berjuang mempertahankan mata air tersebut dengan menggelar pesta sambetan akbar.

Dalam perayaan itu, dibutuhkan sosok perasuk baru. Dari sinilah kisah Bayu, yang diperankan oleh Angga Yunanda, menjadi sorotan. Ia digambarkan sebagai pemuda yang memiliki ambisi besar untuk menjadi seorang perasuk, hingga rela menempuh berbagai cara demi mewujudkan mimpinya.

Film ini juga menampilkan deretan pemain lain seperti Maudy Ayunda sebagai Laksmi, Chicco Kurniawan sebagai Pawit, Bryan Domani sebagai Ananto, serta Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri yang memimpin jalannya Pesta Sambetan.

Para Perasuk Bukan Film Horror

Jika dilihat dari judulnya, banyak orang mungkin akan mengira bahwa Para Perasuk merupakan film horor seperti pada umumnya yang mengangkat tema kerasukan. Namun, meskipun mengusung judul tersebut, film ini bukanlah film horor. Tidak ada jumpscare, tidak ada sosok hantu, dan tidak ada elemen horor konvensional di dalamnya.

Hal ini juga ditegaskan langsung oleh sang sutradara, Wregas Bhanuteja, yang menjelaskan bahwa film ini lebih berfokus pada tema obsesi dan ambisi manusia terhadap mimpi.

“Jadi ini film bukan film horor. Ini film tentang obsesi manusia, apalagi yang diwakilkan oleh tokoh Bayu ini yang berambisi untuk menjadi perasuk terbaik,” ujar Wregas.

Ia juga menambahkan bahwa film ini lahir dari berbagai hal yang ia temui di sekitarnya. Unsur supranatural yang hadir dalam cerita terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya, terutama dari sosok sang adik yang pernah memiliki kemampuan sebagai paranormal dan dipercaya bisa berinteraksi dengan roh.

Sementara itu, tema obsesi dalam film ini juga berangkat dari pengalaman pribadi Wregas sendiri. Ia mengaku bahwa sejak remaja sudah memiliki ketertarikan dan dorongan kuat terhadap dunia film.

“Umur 14 tahun itu pertama kali saya merasakan kenikmatan membuat film. Tapi, setelahnya jadi obsesi,” jelas Wregas.

Perasaan tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam karakter Bayu yang diperankan oleh Angga Yunanda. Melalui Bayu, ia menggambarkan bagaimana obsesi terhadap mimpi dapat membuat seseorang begitu fokus hingga tanpa sadar menjauh dari orang-orang terdekat.

“Dengan obsesi ini, banyak sekali aku meninggalkan orang-orang terdekat, keluarga, teman, dan lain-lain. Nah makanya aku menuangkan itu ke Bayu,” tambahnya.

baca juga

Proses Produksi yang Kolaboratif

Di balik film Para Perasuk yang sukses menarik perhatian hingga ke ranah internasional, tersimpan proses produksi yang tidak sederhana. Film ini dibangun melalui skala kerja besar yang melibatkan banyak pihak dengan pendekatan kolaboratif di setiap tahap produksinya.

Produser Iman Usman mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam produksi film ini terletak pada anggaran yang harus disesuaikan untuk mewujudkan visi kreatif sutradara Wregas Bhanuteja.

“Jadi tantangan utama to be really honest adalah budget,ya. Karena film-filmnya seperti yang bisa dilihat, skala produksinya cukup besar. Tantangannya mungkin jauh lebih besar dibandingkan film-film Wregas sebelumnya. Jadi bagaimana kemudian kita mencoba untuk mewujudkan itu semua,” ujar Iman.

Namun, ia menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak hanya pada aspek finansial, melainkan juga pada bagaimana membangun sinergi antara seluruh elemen produksi. Menurutnya, tanpa kolaborasi yang kuat antara pemain dan kru, proses kreatif akan sulit berjalan maksimal.

Menariknya, Para Perasuk justru banyak mengedepankan elemen co-creation atau kolaborasi lintas peran. Pendekatan ini membuat proses produksi terasa lebih menyenangkan.

Salah satu contohnya terlihat dalam adegan mantra yang melibatkan Anggun C. Sasmi, di mana ia turut merancang hingga 20 mantra yang digunakan dalam film. Adegan tersebut bahkan dilakukan secara one take dan bersifat improvisasi.

“Jadi kita melibatkan Mbak Anggun yang kemudian harus come up dengan 20 mantra-nya itu seperti apa. Dan itu semua one take, diambil secara impromptu,” jelas Iman.

Contoh lain juga terlihat pada Maudy Ayunda yang terlibat langsung dalam pengembangan koreografi bersama Siko Setyanto, koreografer untuk film ini.

baca juga

Mendapatkan Hati di Kancah Internasional

Sebelum resmi tayang pada 23 April 2026, Para Perasuk telah lebih dulu melakukan world premiere di Sundance Film Festival dan berhasil mendapatkan standing ovation. Capaian ini menjadi sesuatu yang tidak disangka oleh para pemain maupun kru.

“Padahal awalnya kita khawatir apakah penonton internasional ini paham tentang budaya kerasukan di Indonesia, ternyata mereka relate karena nggak cuma budaya kerasukan, melainkan tentang obsesi diri sendiri dan mimpi memaafkan masa lalu itu juga connect ke mereka,” ujar Wregas Bhanuteja.

Film ini juga akan melanjutkan perjalanannya ke sejumlah festival internasional lain seperti Miami Film Festival, Brazil Fantaspoa Film Festival, Minneapolis–Saint Paul Film Festival, hingga MOOOV Film Festival.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa cerita yang berangkat dari budaya lokal Indonesia mampu diterima dan diapresiasi di panggung global.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.