Kabar membanggakan datang dari industri perfilman tanah air melalui karya terbaru sutradara berbakat, Wregas Bhanuteja. Film terbarunya yang bertajuk Para Perasuk baru saja menggelar acara press screening dan press conference yang berlangsung meriah di Epicentrum XXI pada Selasa (14/04/2026).
Karya ini menjadi salah satu film yang paling dinantikan oleh Kawan GNFI karena membawa premis yang unik dan mendalam. Film tersebut dijadwalkan akan segera menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia pada 23 April 2026 setelah menyelesaikan rangkaian festival internasional.
Sinopsis Film Para Perasuk
Film Para Perasuk menelusuri kisah Bayu, seorang remaja di desa yang memandang kerasukan sebagai bagian dari identitas sosial. Sebagai salah satu "Perasuk" di sanggar seni lokal, Bayu menjadi pusat perhatian dalam "Pesta Sambetan", sebuah upacara besar yang merayakan masuknya roh ke tubuh manusia.
Bagi warga setempat, peristiwa kerasukan bukanlah gangguan gaib yang menakutkan, melainkan bentuk hiburan rakyat dan kebanggaan spiritual. Pesta ini dipenuhi suka cita, di mana tubuh-tubuh perasuk menjadi perantara antara dunia nyata dengan energi supranatural yang dipercaya membawa berkah.
Namun, di balik kemeriahan ritual tersebut, desa mereka terancam oleh rencana pembangunan hotel megah yang mengincar mata air utama. Proyek komersial ini mengancam kedaulatan warga karena dapat mengeringkan sawah-sawah yang menjadi jantung penghidupan masyarakat sejak turun-temurun.
Sadar akan ancaman kehilangan tanah warisan dan terpinggirkan ke kota, warga menjadikan Pesta Sambetan sebagai garda pertahanan terakhir. Melalui festival mistis tersebut, mereka menggalang donasi dari pengunjung sebagai modal kolektif untuk mempertahankan mata air desa dari tangan pengembang.
Inspirasi dari Pengalaman Pribadi Sang Sutradara

Sutradara Wregas Bhanuteja di Press Conference Film "Para Perasuk" (14/04/2026) | Sumber: Dokumentasi Pribadi @Revaldy Latumeten
Dalam sesi konferensi pers, Wregas Bhanuteja mengungkap bahwa naskah film ini berakar dari pengalaman pribadinya bersama sang adik yang memiliki kemampuan paranormal. Kenangan masa kecil ini menjadi fondasi kuat dalam membangun atmosfer mistis dalam film.
Kisah bermula saat adiknya mengaku melihat dan menemani sosok roh kucing putih di loteng rumah mereka. Keberadaan makhluk tak kasat mata tersebut kemudian divalidasi oleh paman Wregas yang juga seorang paranormal, sehingga membentuk perspektif Wregas terhadap dunia supranatural.
Seiring waktu, sang adik menjadi semakin aktif mencari dan membawa pulang berbagai entitas roh lainnya. Aktivitas itu sempat memicu kekhawatiran keluarga karena rumah mereka menjadi penuh dengan energi dari dimensi lain yang tidak biasa.
Namun, perjalanan spiritual tersebut menemui titik balik saat sang adik memutuskan menjadi dokter. Karena intensitas bekerja di ruang mayat, ia merasa tidak sanggup jika harus terus-menerus melihat fenomena gaib di tengah tugas profesionalnya.
Akhirnya, sang adik memilih menutup "indra keenamnya" secara permanen demi fokus pada pengabdian medis. Transformasi emosional inilah yang kemudian diadaptasi Wregas sebagai ruh utama dalam pengembangan karakter dan konflik di film Para Perasuk.
Daftar Pemeran yang Memukau

Potret Pemeran Film "Para Perasuk" Bersama Sutradara Wregas Bhanuteja pada Press Screening (14/04/2026) | Sumber: Dokumentasi Pribadi @Revaldy Latumeten
Keberhasilan film ini tidak lepas dari totalitas para pemainnya, terutama Angga Yunanda yang didapuk sebagai pemeran utama. Angga berhasil menampilkan transformasi karakter Bayu yang kompleks, mulai dari seorang remaja biasa hingga menjadi pusat dari ritual mistis yang emosional.
Selain Angga, sinema itu juga diperkuat oleh Maudy Ayunda yang memerankan karakter "Pelamun", seorang tokoh yang rentan mengalami fenomena kerasukan. Kehadiran Bryan Domani, Chicco Kurniawan, Ganindra Bimo, serta aktor senior Indra Birowo dan Anggun C. Sasmi semakin menambah kedalaman akting dalam cerita ini.
Para pemain film ini melakukan riset mendalam untuk memastikan penggambaran fenomena kerasukan terlihat sangat nyata dan natural. Wregas sangat menekankan pada aspek visual dan audio untuk memberikan pengalaman menonton yang imersif bagi penonton.
Karya ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru bagi Kawan GNFI mengenai hubungan manusia dengan tradisi dan hal gaib. Para Perasuk bukan sekadar film horor biasa, melainkan sebuah refleksi budaya yang dikemas dengan kualitas sinematografi tinggi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


