Dani Suryadi adalah analis sepak bola asal, Bandung, Indonesia. Ia bukanlah analis sembarangan karena buktinya klub Liga Italia Serie A, Como 1907 memakai jasanya.
Sudah lebih dari empat tahun Dani di sana. Tugasnya yaitu meliputi menganalisa permainan sepak bola melalui tayangan video. Tentu ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Dani mengingat ia melamar pekerjaan di menit akhir penutupan.
“Awalnya di 2021 saya melihat kesempatan bergabung dengan Como. It was open for public. Terus last minute saya apply, terus kayak nothing to lose saya apply. Ternyata sangat cepat sekali prosesnya,” kata Dani kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Proses penerimaan menjadi staf di Como rupanya hanya dua bulan saja. Dani lantas dipanggil kembali untuk seleksi tahap lanjut dan mengetahui kompetitornya banyak. Setelah mengeluarkan potensinya di seleksi, ia akhirnya diterima bekerja pada 2022.
“Jadi semuanya sangat clear, transparan, dan tidak seperti banyak gosip di Indonesia. It was fair clear. Hadi beneran saya mengikuti seleksi sesuai aturan mainnya,” ungkapnya.
Lingkungan Sepak Bola Eropa
Setelah bertahun-tahun di tanah Eropa di mana sepak bola berkembang pesat, Dani menjadi mengetahui seluk beluk bagaimana sepak bola didesain sedemikian rupa. Seperti pembibitan dan pembinaan pemain lebih lanjut dan menyeluruh dilihatnya Eropa melakukannya lebih maju ketimbang Indonesia.
Dani menegaskan ada banyak riset untuk membentuk pemain hebat dan berstandar Eropa yang sudah diketahuinya. Dari banyak faktor, ia menyebut lingkungan tempat pemain bertumbuh menjadi yang berpengaruh.
“Lingkungannya seperti apa? Lingkungannya sesehat apa? Saya kira itu yang membentuk atletism. Saya kira itu yang yang dimiliki Jay Idzes yang bermain di Eropa termasuk Emil Audero. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan dan mereka tahu seperti apa karena lingkungannya support dengan itu,” ucap Dani.
Bagi Dani sendiri lingkungan para pemain hidup memang di luar teknis dari berlatih. Dari situ para pemain pun mendapat sesuatu dari kehidupan sehari-hari yang berharga saat bermain di dalam lapangan pertandingan.
“Bukan teknikal saja, tapi ada hal-hal tidak terlihat yang harus dilatih dan mereka melakukan itu belasan tahun, puluhan tahun di lingkungan yang tepat dan membentuk mereka menjadi seperti apa,” ujarnya lagi.
Kesan Kerja di Sepak Bola Italia
Dari empat tahun perjalanan kariernya bekerja sekaligus menimba ilmu pengetahuan sepak bola di Italia, tidak bisa dipungkiri Dani mendapat sejumlah kesan. Salah satu kesan awal yang didapatkannya ialah ia menyadari kompetisi sepak bola di negeri pizza sangatlah hidup.
“Saya sangat terkejut in good ways kalau mereka itu memperlakukan sepak bola seperti hal-hal yang sangat normal. Di sini negara hadir, (untuk pemain) dari usia 8 tahun sampai usia 21 tahun. Kompetisinya hidup, masyarakatnya appreciate dengan itu,” ucap Dani.
Dengan kompetisi yang berjalan di level usia tentu budaya bermain sepak bola menjadi masyarakat. Dani pun melihat itu di keseharian orang Italia di mana orang tua turut mendukung jika anaknya ingin berlatih sepak bola.
“Setiap weekend bapak ibu mengantarkan anaknya untuk bertanding sepak bola itu hal yang biasa. Bermain bola budayanya seperti itu. Mereka menjadi biasa dengan sepak bola dan menjadi mendarah daging, menjadi aktivitas weekend sebuah keluarga dan menjadi menyenangkan. Itu yang jarang bahkan sulit saya lihat di Indonesia terutama di kota-kota besar,” katanya lagi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

