Penelitian yang dilakukan oleh dosen Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) mengungkap keberadaan tanaman yang dikategorikan sebagai tumbuhan dari zaman prasejarah di kawasan Geopark Ijen, khususnya di wilayah Erek-erek Geoforest, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Fokus utama penelitian ini adalah tumbuhan paku dari marga Cyathea, yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 65 juta tahun lalu.
Di lokasi tersebut, tim peneliti menemukan dua jenis paku pohon, yaitu Cyathea contaminans dan Cyathea orientalis. Kedua spesies ini tumbuh di kawasan dengan ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut. Lingkungan Erek-erek Geoforest yang masih alami menjadi faktor penting yang mendukung keberadaan tumbuhan ini. Kondisi kelembaban yang tinggi, kanopi hutan yang rapat, serta ketersediaan sumber air yang melimpah memungkinkan paku pohon tumbuh subur.
Beberapa individu paku pohon bahkan ditemukan memiliki tinggi antara enam hingga 10 meter, menyerupai ukuran pohon kelapa. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekologis kawasan ini sangat mendukung pertumbuhan optimal tumbuhan purba tersebut. Keberadaan spesies ini memberikan indikasi bahwa kawasan Erek-erek menyimpan karakteristik lingkungan yang relatif stabil dalam jangka waktu panjang.
Erek-erek Geoforest Masih Lestari
Kelestarian Erek-erek Geoforest tidak terlepas dari kondisi topografi dan bentang alam di sekitarnya. Wilayah ini secara alami dilindungi oleh struktur geologi seperti Gunung Rante, yang diduga berperan sebagai penghalang terhadap dampak letusan Gunung Ijen purba pada masa lalu. Faktor ini membuat kawasan tersebut relatif tidak terganggu oleh aktivitas vulkanik besar, sehingga ekosistemnya tetap terjaga.
Para peneliti mencatat bahwa kondisi hutan di Erek-erek memiliki kemiripan dengan lingkungan hutan purba, baik dari segi struktur vegetasi maupun komposisi flora. Keberadaan paku pohon sebagai salah satu jenis tumbuhan yang hampir tidak mengalami perubahan bentuk sejak zaman prasejarah menjadikannya sebagai indikator penting dalam studi evolusi tumbuhan.
Penelitian awal yang dilakukan tim Unej juga menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, tidak hanya dari sisi tumbuhan, tetapi juga fauna dan kondisi lingkungannya. Hal ini menjadikan Erek-erek Geoforest sebagai lokasi yang penting untuk pengembangan penelitian ilmiah di bidang biologi dan ekologi.
Dikenal 'Fosil Hidup'
Penelitian lanjutan dilakukan untuk mendeskripsikan karakter morfologi paku pohon secara lebih rinci. Beberapa aspek yang dikaji meliputi tinggi batang, warna dan struktur sisik, bentuk spora, serta mekanisme reproduksi. Kajian ini bertujuan untuk memperkuat identifikasi spesies sekaligus memahami karakteristik biologisnya.
Tumbuhan paku berkembang biak menggunakan spora, bukan biji, yang menjadi salah satu ciri khas kelompok tumbuhan ini. Struktur dan bentuk spora menjadi elemen penting dalam klasifikasi dan penentuan hubungan kekerabatan antarspesies. Dengan mempelajari morfologi secara detail, para peneliti berharap dapat memperkaya data ilmiah terkait tumbuhan paku pohon yang sering disebut sebagai “fosil hidup”.
Istilah tersebut digunakan karena bentuk morfologi paku pohon relatif tidak mengalami perubahan signifikan sejak jutaan tahun lalu. Oleh karena itu, keberadaannya menjadi penting untuk memahami proses evolusi tumbuhan darat.
Menjaga kelestarian ekosistem
Erek-erek Geoforest dikategorikan sebagai kawasan dengan nilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV). Penetapan ini didasarkan pada pentingnya kawasan tersebut dalam menjaga keanekaragaman hayati, fungsi ekosistem, serta nilai sosial dan budaya yang melekat.
Kawasan dengan status HCV memerlukan perlindungan yang ketat agar tidak mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia. Dalam konteks ini, penelitian yang dilakukan oleh Unej tidak hanya berfungsi untuk menambah pengetahuan ilmiah, tetapi juga sebagai dasar dalam upaya pelestarian lingkungan.
Selain tumbuhan paku, penelitian di kawasan ini juga mencakup berbagai aspek lain, termasuk kondisi lingkungan dan keberadaan fauna. Potensi riset yang luas menjadikan Erek-erek Geoforest sebagai laboratorium alami yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Keberadaan tumbuhan prasejarah seperti Cyathea di Geopark Ijen menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap. Oleh karena itu, upaya pelestarian kawasan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan keberlanjutan ekosistem dan manfaat ilmiahnya di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


