Bendung Walahar adalah sebuah bendung peninggalan Belanda yang berada di Karawang, Jawa Barat. Bendung sendiri merupakan infrastruktur sumber daya air yang berperan untuk mengatur aliran air, khususnya pada sistem irigasi.
Kawan GNFI, bendung berbeda dengan bendungan. Jika bendungan bisa menampung banyak debit air dalam skala yang sangat besar, bendung umumnya lebih sederhana dan skalanya jauh lebih kecil. Bentuknya hanya berupa bangunan melintang di sungai yang ditujukan untuk menahan sebagian aliran, sehingga air bisa dialirkan ke saluran irigasi tanpa harus menunggu aliran sungai utama.
Bendung Walahar dibangun di era pemerintah kolonial Belanda. Disadur dari situs resmi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bendung Walahar selesai dibangun pada 1925. Pembangunannya sendiri sudah dilakukan dua tahun sebelumnya dan mulai difungsikan di akhir tahun 1925.
Pintu-pintu airnya dibuat dari beton tebal, lengkap dengan tuas besi yang kokoh. Jembatan penghubungnya menggunakan pola balustrade klasik. Sementara itu, ruang mesinnya dibuat dengan dinding lengkung yang khas.
Meskipun sudah berusia seabad, bendung ini berperan penting dalam menyokong ketahanan pangan di Jawa Barat, khususnya daerah Karawang dan sekitarnya.
Jasa Bendungan Walahar dalam Menyokong Ketahanan Pangan
Bendung Walahar sangat berjasa dalam membantu terwujudnya ketahanan pangan lokal. Bendung Walahar membentuk waduk seluas kurang lebih 15 hektare.
Di salah satu sudutnya, ditulis jika sudah ada kurang lebih 87.396 hektare sawah yang dialiri air dari bendung ini. Air yang dialirkan itulah mendukung terwujudnya swasembada pangan.
Di sisi lain, Jasa Tirta menuliskan, Bendung Walahar turut berperan penting dalam pengelolaa air di wilayah Citarum. Bendung ini berjasa dalam mengatur debit air Sungai Citarum. Artinya, Bendung Walahar ikut membantu meminimalkan risiko banjir.
Kawan GNFI, Belanda sengaja memilih membangun Bendung Walahar di Kampung Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang karena berada di jalur vital Sungai Citarum. Sejak dahulu, sungai terpanjang sekaligus terbesar di Jawa Barat ini dijadikan sebagai sumber air vital masyarakat.
Bendung Walahar sudah menjadi tulang punggung irigasi Karawang sejak pertama kali dioperasikan. Air yang dihasilkan juga berhasil menghidupi sawah-sawah, industri perikanan, sampai pariwisata.
Bendung yang pembangunannya diawasi oleh ahli hidrologi Belanda, C. Swan-Koopman, ini juga dikenal sebagai Parisdo. Saat ini, diperkirakan sudah ada kurang lebih 105.000 hektare sawah yang hidup dan produktif berkat aliran dari Bendung Walahar.
Melalui ANTARA, tahun 2024 lalu, nilai panen yang bergantung pada irigasi yang bersumber dari Bendung Walahar mencapai Rp7,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa bendung tersebut membantu petani untuk terus produktif dalam menjaga sawah tetap hijau.
Warisan Kuno yang Jadi Cagar Budaya
Bendung Walahar ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010 pada 22 Juni 2010. Status ini didasarkan atas nilai sejarah, teknologi, dan budaya pada Bendung Walahar. Selain itu, manfaat bendung ini juga banyak dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Struktur bendungannya tidak berubah. Panjangnya 150 meter dan memiliki lebar 12 meter. Desainnya pun sangat khas selayaknya bangunan peninggalan Belanda pada umumnya yang populer di awal abad ke-20-an.
Kawan GNFI, baik di masa lalu atau pun masa kini, Karawang tetap hidup sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia. Di balik itu semua, Bendungan Walahar menjadi saksi bisu yang memasok kebutuhan air demi terwujudnya ketahanan pangan yang menyejahterakan masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


