Halo, Kawan GNFI!
Kelompok hibah Japrak Kampus mengajar dari Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP Universitas Sebelas Maret mengikuti kegiatan dalam rangka Hari Kartini di Sekolah Luar Biasa (SLB) d/d1 YPAC Surakarta.
Acara ini dijalankan dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2026. Kegiatan diawali dengan apel yang diikuti oleh seluruh murid, guru, dan kelompok hibah Japrak Kampus Mengajar.
Mengusung tagline “Kartini masa kini berani mandiri dan istimewa”, aktivitas tersebut bermakna mendalam tentang perempuan Indonesia modern untuk melanjutkan semangat emansipasi R.A. Kartini.
Perempuan harus berani memiliki mimpi besar, berani menyuarakan pandangan dan opini, dan berani melawan stereotip atau label gender yang membatasi potensinya.
Perempuan mandiri yang berdaya secara ekonomi dan sosial, tidak akan bergantung penuh pada orang lain dan mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri serta keluarganya.
Perempuan istimewa yang berkualitas, kreatif, inovatif, dan mampu memberikan dampak positif yang dapat menginspirasi lingkungan sekitarnya, baik dalam peran domestik maupun ruang publik.
Peringatan Hari Kartini di SLB d/d1 YPAC Surakarta menegaskan bahwa setiap anak, terlepas dari keterbatasan fisiknya, memiliki hak dan potensi yang sama untuk belajar, berkarya, dan berprestasi.
Murid SLB dilatih untuk berani tampil di depan umum. Dengan demikian, akan tumbuh rasa percaya diri, menjadi mandiri, serta menanamkan nilai-nilai kegigihan R.A. Kartini agar tetap tangguh dalam menghadapi tantangan hidup di dunia modern.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan mengadakan lomba-lomba yang diikuti para murid. Tujuannya agar rasa percaya diri meningkat, bakat seni mengembang dengan baik, dan kemampuan motorik murid berkebutuhan khusus (ABK) tuna daksa dapat terlatih.

Dalam gelaran ini, berbagai lomba dilaksanakan, seperti tari, karate, nyanyi, fashion show, baca puisi, dan membaca cerita. Umumnya disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing peserta.
Aktivasi tersebut penting untuk menciptakan lingkungan inklusif, mengurangi rasa rendah diri, dan meningkatkan kepercayaan diri pada penyandang tuna daksa.
Dalam pelaksanaan lomba, pihak penyelenggara menyesuaikan berbagai aspek kegiatan, mulai dari durasi, prosedur penilaian, hingga tingkat kesulitan materi. Misalnya, cabang seperti tari dan fashion show dapat diadaptasi melalui pemilihan gerak yang sesuai, penggunaan properti pendukung, serta penataan panggung yang ramah mobilitas.
Cabang lain seperti karate, nyanyi, baca puisi, dan membaca cerita juga dapat disesuaikan melalui teknik latihan yang bertahap, dukungan penguatan mental, serta bimbingan agar peserta tetap mampu menunjukkan karya terbaik tanpa merasa tertinggal.

Kegiatan ini juga diharapkan berdampak langsung pada peningkatan kemandirian dan rasa percaya diri para murid. Melalui kesempatan tampil di hadapan dewan juri dan penonton, murid tuna daksa belajar bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, dukungan, dan kesempatan yang setara.
Selain itu, keberhasilan program turut menjadi langkah nyata untuk membangun budaya sekolah yang menerima perbedaan, menumbuhkan empati, dan mengurangi stigma terhadap disabilitas.
Aktivitas ini juga dilancarkan melalui keterlibatan mahasiswa sebagai bagian dari dukungan pengabdian dan kepedulian sosial. Para mahasiswa berperan dalam berbagai kebutuhan teknis maupun pendampingan, seperti membantu koordinasi peserta, menyiapkan perlengkapan lomba, serta memberikan asistensi selama kegiatan berlangsung.
Dengan adanya mahasiswa di lokasi, pelaksanaan acara menjadi lebih tertib dan responsif terhadap kebutuhan murid. Ini mewujudkan rasa kenyamanan, terutama bagi murid tuna daksa yang memerlukan dukungan mobilitas dan pengarahan yang lebih spesifik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


