tradisi nusantara dalam menyambut hari besar dalam islam - News | Good News From Indonesia 2026

8 Tradisi Nusantara dalam Menyambut Hari Besar dalam Islam

8 Tradisi Nusantara dalam Menyambut Hari Besar dalam Islam
images info

8 Tradisi Nusantara dalam Menyambut Hari Besar dalam Islam


Menjelang hari-hari besar Islam seperti Idulfitri, Iduladha, Ramadan, hingga Maulid Nabi, di berbagai daerah Nusantara mempunyai kearifan lokal tradisi khas yang dilakukan secara turun-temurun.

Hal ini menunjukan bahwa menjadi Muslim di Indonesia dapat merayakan dengan caranya sendiri. Tentunya dengan penuh warna, kehangatan, kebahagiaan, kebersamaan, serta kedamaian.

Nah, Kawan GNFI, untuk mengenal lebih jauh, berikut 8 tradisi Nusantara dalam menyambut hari besar dalam Islam!

8 Tradisi Nusantara Sambut Hari Besar Islam

Samba Surau

Masyarakat Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang kerap menyebutnya Samba Surau. Makanan ini merupakan gulai yang dimasak mirip dengan kalio daging.

Ketika Iduladha tiba, hewan qurban akan diolah menjadi menu masakan, lalu dibagikan kepada warga setempat setelah adzan Ashar. Hal unik dari tradisi tahunan tersebut, yang memasak hanya kaum laki-laki, sedangkan perempuan cukup menyiapkan bumbu masakan.

Malamang

Di tanah Minang, terdapat tradisi Malamang dilakukan secara turun-temurun dan masih ada hingga saat ini. Lamang sendiri merupakan hidangan berbahan dasar beras ketan yang diolah bersama santan, kemudian dimasukan ke dalam ruas bambu sebagai wadah, selanjutnya dimasak di atas api unggun selama 2 jam.

Di Minangkabau sendiri terdapat beberapa jenis lamang, antara lain lamang puluik, lamang pisang, lamang ubi, serta lamang kuning. Makanan ini biasa disajikan ketika menyambut hari-hari penting seperti Maulid Nabi, Hari Raya Idulfitri, dan bulan Ramadan.

baca juga

Apitan

Menyambut Hari Raya Iduladha, masyarakat Jawa Tengah masih melestarikan tradisi Apitan. Ini merupakan bentuk rasa syukur berupa hasil bumi yang melimpah dari Tuhan. Bentuk pelaksanaan pun cukup beragam, mulai dari pengajian, arak-arakan, hingga tasyakuran di balai desa atau mesjid.

Jika di Kabupaten Grobongan tradisi Apitan dilakukan dengan menyembelih kerbau sebagai sedekah bumi, berbeda dengan di Demak. Masyarakat di sana akan membawa hasil bumi seperti buah-buahan, lauk pauk, hingga nasi yang akan dilombakan serta kegiatan karnaval.

Mepe Kasur

Kearifan lokal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi menjelang Iduladha masyarakat sudah turun-temurun melakukan tradisi Mepe Kasur. Secara serentak warga menjemur kasur pada pagi hari hingga menjelang sore. Masyarakat membaca doa dan memercikan air bunga sebagai harapan terhindar dari penyakit dan marabahaya.

Molabe

Tradisi Molabe dilakukan secara turun-temurun oleh suku Kaili, Sulawesi Tengah menjelang Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha dengan memanjatkan doa keselamatan.

Tradisi tersebut digelar secara berjamaah di mesjid. Dalam pelaksanaannya, masyarakat mengantar makanan memakai wadah atau baki yang diisi dengan makanan berupa beras yang telah dimasak dengan daun kelapa, pisang satu sisir, serta sepiring daging.

Haroana Maludhu

Tradisi ini masih dipertahankan oleh masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara. Salah satu keistimewaan dari Haroana Maludhu adalah dengan hadirnya suasana kesetaraan yang mempererat ajang silaturahmi yang iisi dengan kegiatan gotong royong menyusun “Tala”.

Tala berisi aneka makanan sesuai kemampuan masing-masing. Seluruh hidangan tersebut disantap oleh seluruh warga yang menghadiri perayaan.

Haroana Maludhu dimulai sejak malam hari sebelum puncak acara. Tahap pertama adalah “Antokiana Haroa Rasulu”, yaitu persiapan ritual untuk pelaksanaan keesokan harinya yang diiringi doa bersama oleh tokoh adat setempat.

Proses dilanjutkan dengan “Panimpa” pelaksanaan nazar bagi yang bernazar. Terakhir adalah “Tapayana Maludhu Wolio” pembacaan syair lagu Maulid sebagai wujud harapan akan keberkahan dari Allah SWT.

Roah

Tradisi yang satu ini merupakan warisan leluhur yang telah dijaga oleh penduduk setempat. Menjelang bulan suci Ramadan, warga desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Nusa Tenggara Barat melaksanakan tradisi Roah. Acaranya terdiri dari silaturahmi, tausiah dari tokoh agama, santap makan bersama, dan ziarah kubur.

Adapun filosofi dari tradisi ini yakni kesetaraan yang dibangun antarmasyarakat yang diwujudkan dengan makan bersama dalam satu nampan.

baca juga

Hanta U'a Pua

Untuk pertama kalinya upacara Harta U’a Pua dilaksanakan pada Senin, 1 Oktober 1659 dalam penanggalan Hijriah jatuh pada 15 Rabiulawal 1070. Kala itu, kegiatan tersebut dipimpin oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin Kesultanan Bima, setelah Islam mulai mengakar di wilayah tersebut.

Tradisi diselenggarakan untuk memperingati Maulid Nabi serta merayakan masuknya Islam ke Bima yang dibawa oleh para Dai dari tanah Melayu dan menghormati perjuangan para ulama yang telah berjasa menyebarkan agama Islam.

Hanta U’a Pua dimeriahkan oleh iring-iringan yang melewati beberapa kampung menuju Istana Kesultanan Bima, lalu ditampilkan berbagai tarian klasik seperti tari Karangnta, Katubu, Lenggo U’a Pua, Lenggo Siwe, Toja, Lengsara, serta Mpa’a Sampari

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.