ikan sapu sapu masalah ekosistem atau peluang bagi pemulihan sungai - News | Good News From Indonesia 2026

Ikan Sapu-Sapu, Masalah Ekosistem atau Peluang bagi Pemulihan Sungai?

Ikan Sapu-Sapu, Masalah Ekosistem atau Peluang bagi Pemulihan Sungai?
images info

Ikan Sapu-Sapu, Masalah Ekosistem atau Peluang bagi Pemulihan Sungai?


Beberapa waktu belakangan ini, ramai diberitakan bahwa populasi ikan sapu–sapu telah mengalami lonjakan yang sangat tinggi di Jakarta.

Kabar ini menjadi sorotan masyarakat setelah operasi penangkapan gabungan besar-besaran yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta pada Jumat (17/4/2026). Dalam proses pengurangan populasi ikan sapu-sapu, mereka berhasil mengamankan sekitar 6,98 ton ikan di saluran air lima wilayah kota.

Mengenal Ikan Sapu-Sapu

Ikan sapu–sapu atau Hypostomus Plecostomus merupakan ikan yang hidup di air tawar. Hewan ini memiliki ciri–ciri tubuh yang ditutupi sisik yang keras, tetapi fleksibel, bentuk kepala yang pipih seperti ikan lele, dan pola titik-titik putih besar di bagian perut.

Ikan ini juga memiliki mulut penghisap yang terletak di bagian bawah kepala berfungsi untuk menyedot makanan dan membersihkan permukaan yang ditempati.

Ikan sapu–sapu adalah hewan omnivora yang memakan alga, ikan-ikan kecil, dan tanaman air. Ikan ini bahkan dijuluki “Janitor Fish” karena kemampuannya untuk membersihkan akuarium dari ganggang dan kotoran yang menempel di dinding kaca.

'Predator' tersebut punya kemampuan adaptasi yang sangat tinggi, yakni mampu hidup hingga 30 jam di luar air jika memiliki cadangan oksigen yang cukup di perutnya. Beberapa ada yang menganggap ikan ini sebagai ikan hama. Padahal, manfaatnya sebagai pembersih dan sumber nutrisi mulai banyak dilirik.

Di balik itu semua, ikan ini bersifat yang invasif dan mampu bereproduksi dengan cepat, loh! Seekor ikan sapu-sapu betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur, plus berkembang biak beberapa kali dalam setahun dengan tingkat penetasan mencapai 90 persen.

baca juga

Tentunya, apabila dibiarkan di perairan yang kotor, maka ikan ini bisa menguasai ekosistem perairan tersebut karena mampu beradaptasi dan bereproduksi dengan cepat.

Tidak tidak heran apabila salah satu ciri kondisi perairan mengalami degradasi adalah apabila banyak terdapat ikan sapu–sapu yang hidup di sana.

Menariknya, Kawan GNFI perlu tahu bahwa ikan ini bukan spesies ikan asal Indonesia. Ikan sapu-sapu berasal dari perairan Amerika Selatan, khususnya wilayah Sungai Amazon. Dalam klasifikasi ilmiah, ikan ini termasuk dalam keluarga Loricariidae dengan genus seperti Pterygoplichthys dan Hypostomus.

Hewan tersebut bisa masuk ke Indonesia karena sebelumnya pernah diperdagangkan sebagai ikan hias akuarium. Namun, karena dilepas ke alam bebas, populasinya berkembang tanpa kendali.

Mengapa Populasi Ikan Sapu-Sapu Bisa Melonjak Drastis di Perairan Sungai Jakarta?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ikan ini memiliki ketahanan fisik yang tinggi dan merupakan predator oportunis, yakni memakan segala hal, mulai dari alga, detritus, hingga sisa organik di dasar sungai.

Dengan demikian, makhluk tersebut berdaya toleransi yang jauh lebih tinggi ketimbang ikan lain yang hidup di ekosistem air yang sama.

Di sisi lain, sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas sungai-sungai di Jakarta itu benar-benar tercemar. Dilansir dari Kompas, berdasarkan riset Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (LEMTEK UI) terhadap 5 sungai utama di Jakarta, ditemukan mayoritas limbah grey water atau limbah dari mencuci, mandi, dan memasak langsung dibuang ke sungai tanpa diolah lagi.

Akibatnya, sungai yang tercemar berbagai macam limbah akan merusak ekosistem yang ada di sungai tersebut. Spesies ikan dan tumbuhan yang tidak dapat beradaptasi perlahan akan berkurang, bahkan menghilang.

Selain itu, minimnya predator alami di perairan tersebut membuat populasi ikan ini semakin sulit dikendalikan. Jadi, Kawan GNFI, lonjakan populasi ikan sapu-sapu bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari kombinasi antara kemampuan adaptasi spesies tersebut dan kondisi lingkungan yang sudah mengalami tekanan.

baca juga

Ikan Sapu-Sapu, Solusi Pemulihan Kondisi Sungai?

Di balik dampak negatif yang ditimbulkan akibat overpopulasi dan juga sentimen negatif soal ikan sapu-sapu, perannya sebagai “pembersih alami” cenderung luput dari perhatian.

Kemampuannya dalam mengonsumsi sisa bahan organik, alga, detritus di dasar perairan sebetulnya berpotensial membantu untuk mengurangi penumpukan limbah-limbah organik.

Bagi sunga-sungai yang tercemar di Jakarta seperti Sungai Ciliwung, ini dapat memberikan dampak awal dalam memperlambat penurunan kualitas air.

Pendekatan tersebut membuka ruang untuk melihat ikan sapu-sapu sebagai alat untuk membantu ekosistem beradaptasi terhadap tekanan pencemaran lingkungan.

Namun, perlu ditekankan bahwa peran ini bersifat sementara dan terbatas. Menimbang kecepatan reproduksinya, 'alat' yang seharusnya membantu dalam menangani pencemaran lingkungan, bisa menjadi pedang bermata dua dan berisiko menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem. Jadi, perlu ada kajian mendalam agar tidak berisiko menimbulkan masalah ekologis baru.

Oleh karena itu, pendekatan yang mungkin lebih baik untuk diambil adalah sebagai berikut:

  1. Melindungi dan memulihkan populasi predator lokal yang sudah ada
  2. Mengembalikan kualitas habitat agar rantai makanan dapat terbentuk kembali secara alami
  3. Memperkuat pengelolaan limbah dan menjaga kebersihan ekosistem sungai
  4. Meningkatkan kesadaran masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai

Fenomena ikan sapu–sapu di sungai Jakarta pada akhirnya bukan sekadar persoalan predator sungai yang invasif atau bukan. Ia adalah cerminan kondisi lingkungan yang mengalami tekanan pencemaran.

Sampai kita bisa menemukan cara untuk mengontrol populasi ikan sapu–sapu agar bisa digunakan untuk membersihkan limbah sungai, ada baiknya kita fokus memulihkan sungai agar kembali menjadi ekosistem yang seimbang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.