Akhir-akhir ini, ikan sapu-sapu kembali ramai diperbincangkan seiring dengan adanya upaya pemusnahan di sejumlah daerah. Ikan sapu-sapu adalah salah satu ikan air tawar yang cukup mudah ditemukan di sungai dan danau.
Ciri khasnya terletak pada bentuk tubuh yang pipih dan keras serta mulutnya yang terlihat seperti penghisap, yang membuatnya mampu menempel di kaca akuarium atau dasar perairan. Karena kebiasaannya memakan lumut dan sisa makanan di lingkungannya, ikan ini sering disebut sebagai “ikan pembersih”.
Meski terlihat dapat membantu menjaga kebersihan ekosistem kecil seperti akuarium, keberadaan ikan sapu-sapu di alam liar sering kali dianggap berlebihan dan dianggap menjadi hama karena populasinya yang mudah berkembang dan dapat merusak ekosistem makhluk hidup lain di perairan bebas.
Dari sinilah muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas, karena hidup liar dan sering memakan sisa-sisa makanan, apakah ikan sapu-sapu bisa dimakan? Maka dari itu, yuk, Kawan GNFI simak penjelasannya sampai akhir, ya!
Secara Biologis Tidak Beracun
Jika dilihat dari sisi biologis, ikan sapu-sapu sebenarnya tidak termasuk ikan yang beracun. Artinya, secara dasar, ikan ini tidak memiliki kandungan racun alami dari tubuhnya langsung yang berbahaya bagi manusia.
Dalam kondisi tertentu, misalnya jika dibudidayakan di lingkungan yang bersih dan terkontrol, ikan ini secara teori masih bisa dikonsumsi. Kandungan proteinnya pun tidak jauh berbeda dengan ikan air tawar lainnya.
Melansir dari Halodoc, ikan sapu-sapu memiliki kandungan gizi seperti protein, kalsium, posfor, vitamin D, hingga omega 3. Namun, fakta ini sering disalahartikan. Banyak orang menganggap karena tidak beracun, maka ikan sapu-sapu aman dimakan dari sembarang tempat. Padahal, faktor lingkungan hidupnya justru menjadi penentu utama apakah ikan ini layak untuk dimakan.
Risiko dari Lingkungan Hidupnya
Masalah utama ikan sapu-sapu bukan terletak pada ikannya, melainkan pada habitatnya. Ikan ini hidup di dasar perairan dan cenderung memakan material yang menempel di lumpur atau bebatuan di dasar air.
Ikan sapu-sapu sering ditemukan di banyak sungai dan saluran air terbuka, area tersebut juga sering menjadi tempat berkumpulnya limbah rumah tangga maupun industri. Kondisi ini membuat ikan sapu-sapu berisiko menyerap zat berbahaya dari lingkungannya.
Beberapa zat yang bisa terakumulasi dalam tubuh ikan ini adalah logam berat seperti merkuri dan timbal. Zat-zat tersebut tidak mudah hilang dan dapat bertahan di dalam jaringan tubuh ikan.
Dapat Berbahaya jika Dikonsumsi
Jika ikan yang sudah terkontaminasi dikonsumsi manusia, dampaknya bisa cukup serius, terutama dalam jangka panjang. Paparan logam berat dapat mengganggu sistem saraf, merusak organ seperti ginjal dan hati, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti kanker.
Karena alasan inilah, ikan sapu-sapu yang berasal dari alam liar atau perairan tercemar sangat tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. Selain faktor kesehatan, ikan sapu-sapu juga tidak populer sebagai bahan pangan karena dagingnya relatif sedikit, teksturnya keras, dan habitatnya yang berada di perairan dasar membuatnya kurang menarik untuk diolah.
Akibatnya, ikan ini lebih dikenal sebagai ikan pembersih akuarium atau bahkan dianggap sebagai hama di beberapa ekosistem perairan.
Jadi secara keseluruhan, Ikan sapu-sapu memang tidak beracun secara alami dan secara teori bisa dimakan dalam kondisi tertentu. Namun, dalam praktiknya, ikan ini tidak layak dikonsumsi terutama jika berasal dari alam liar.
Risiko pencemaran lingkungan dan kandungan zat berbahaya jauh lebih besar dibandingkan manfaat gizinya. Karena itu, ikan sapu-sapu lebih aman dibiarkan berperan dalam ekosistemnya, dengan catatan harus tetap dipantau dan dikendalikan, daripada dijadikan bahan makanan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


