aiesec in universitas brawijaya angkat tren baru wisata pemuda berbasis dampak dan pengalaman bermakna - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Universitas Brawijaya Angkat Tren Baru Wisata Pemuda Berbasis Dampak dan Pengalaman Bermakna

AIESEC in Universitas Brawijaya Angkat Tren Baru Wisata Pemuda Berbasis Dampak dan Pengalaman Bermakna
images info

AIESEC in Universitas Brawijaya Angkat Tren Baru Wisata Pemuda Berbasis Dampak dan Pengalaman Bermakna


Perjalanan kini terasa berbeda dari sebelumnya. Jika dulu bepergian identik dengan mengunjungi sebanyak mungkin tempat dan mengabadikannya dalam foto, hari ini makna tersebut perlahan berubah. Banyak orang, terutama generasi muda, mulai mempertanyakan kembali tujuan mereka bepergian. Apakah sekadar untuk melihat, atau untuk benar-benar mengalami dan memberi makna?

Gambaran wisatawan berpose di depan landmark ikonik seperti Menara Eiffel, Colosseum, atau Machu Picchu memang masih sering ditemui. Namun, foto-foto tersebut kini tidak lagi menjadi ukuran utama dari sebuah perjalanan. Ada pergeseran cara pandang yang cukup signifikan, di mana perjalanan tidak lagi dinilai dari seberapa banyak destinasi yang dikunjungi, melainkan dari pengalaman serta dampak yang ditinggalkan.

Perubahan ini tidak hanya dirasakan secara subjektif, tetapi juga terlihat dari data. Laporan Booking.com tahun 2023 menunjukkan bahwa 76% wisatawan global ingin melakukan perjalanan yang lebih berkelanjutan, dan lebih dari setengahnya secara aktif mencari pengalaman yang memberikan manfaat bagi komunitas lokal. Selain itu, riset Skift tahun 2024 menemukan bahwa bagi generasi Z, meaningful experiences dan cultural immersion kini lebih diprioritaskan dibandingkan sekadar sightseeing atau kemewahan. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan mulai dipahami sebagai proses yang lebih dalam dan penuh kesadaran.

baca juga

Namun, di balik perubahan ini, ada juga refleksi terhadap dampak negatif dari pariwisata yang tidak bertanggung jawab. Pariwisata memang sering dianggap membawa dampak positif, seperti peningkatan ekonomi dan pertukaran budaya. Akan tetapi, realitas di lapangan tidak selalu sesederhana itu. Fenomena over-tourism di kota-kota seperti Amsterdam, Barcelona, dan Kyoto menjadi bukti bahwa lonjakan wisatawan dapat memberikan tekanan besar terhadap lingkungan dan masyarakat lokal.

Kondisi tersebut melahirkan istilah empty tourism, yaitu praktik bepergian tanpa benar-benar terhubung dengan tempat yang dikunjungi. Wisatawan hadir, tetapi tidak berkontribusi secara berarti, bahkan dalam beberapa kasus justru menambah beban bagi komunitas setempat. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya.

Sebagai respons, muncul pendekatan baru dalam dunia perjalanan yang dikenal sebagai impact-driven travel. Pendekatan ini tidak menuntut setiap perjalanan menjadi proyek besar, melainkan dimulai dari perubahan cara pandang. Wisatawan diajak untuk melihat destinasi sebagai komunitas yang hidup, bukan sekadar objek wisata.

Langkah sederhana seperti memilih akomodasi milik lokal, mendukung usaha kecil, hingga mempelajari bahasa setempat dapat menjadi bentuk kontribusi nyata. Dalam konteks yang lebih luas, perjalanan juga bisa menjadi ruang untuk terlibat langsung dalam aktivitas yang memberikan dampak positif. Di sinilah program Global Volunteer dan International Exchange dari AIESEC memiliki peran penting.

Melalui program tersebut, pemuda dari berbagai negara diberikan kesempatan untuk terlibat dalam proyek nyata di bidang pendidikan, lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga pengembangan komunitas. Pengalaman ini tidak hanya memberikan international exposure, tetapi juga membentuk pemahaman lintas budaya serta memperluas perspektif peserta.

Konsep ini sejalan dengan nilai World Citizen yang diusung AIESEC, yaitu individu yang mampu melihat dunia tanpa batas dan memahami bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada identitas nasional. Dengan perspektif ini, setiap perjalanan menjadi kesempatan untuk belajar, berempati, dan berkontribusi.

baca juga

Pada akhirnya, perjalanan bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi, tetapi bagian dari proses pengembangan diri. Foto di depan landmark mungkin tetap ada, namun maknanya telah berubah. Pertanyaan yang relevan saat ini bukan lagi “ke mana kamu pergi?” melainkan “apa yang kamu tinggalkan?”

Generasi yang memilih untuk bepergian dengan tujuan, yang mengutamakan kedalaman dibandingkan jumlah destinasi, secara tidak langsung sedang membangun empati, kesadaran, dan tanggung jawab global. Perubahan ini bukanlah kehilangan, melainkan sebuah peningkatan dalam cara kita memaknai perjalanan.

Bagi pemuda yang ingin merasakan pengalaman tersebut, berbagai program AIESEC dapat menjadi langkah awal untuk menjelajahi dunia dengan cara yang lebih bermakna, sekaligus memberikan dampak positif bagi komunitas global.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.