aiesec in universitas brawijaya dorong pengembangan diri pemuda melalui pengalaman menghadapi homesickness di luar negeri - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Universitas Brawijaya Dorong Pengembangan Diri Pemuda Melalui Pengalaman Menghadapi Homesickness di Luar Negeri

AIESEC in Universitas Brawijaya Dorong Pengembangan Diri Pemuda Melalui Pengalaman Menghadapi Homesickness di Luar Negeri
images info

AIESEC in Universitas Brawijaya Dorong Pengembangan Diri Pemuda Melalui Pengalaman Menghadapi Homesickness di Luar Negeri


Homesickness sering kali dianggap sebagai kondisi yang harus segera dihindari atau diatasi. Perasaan rindu rumah dipandang sebagai tanda ketidakmampuan untuk beradaptasi. Namun, dalam konteks pengalaman global saat ini, pandangan tersebut mulai bergeser. Homesickness bukan sekadar emosi sementara, melainkan respons alami yang menunjukkan bahwa seseorang sedang berada dalam proses adaptasi yang mendalam.

Secara psikologis, homesickness berkaitan dengan hilangnya rasa familiar terhadap lingkungan. Journal of Environment and Behavior menyebutkan bahwa lingkungan yang dikenal memberikan apa yang disebut sebagai cognitive security, yaitu kondisi di mana otak dapat bekerja lebih efisien karena tidak perlu terus-menerus beradaptasi. Ketika seseorang menjalani program pertukaran atau tinggal di negara lain, rasa aman tersebut hilang, sehingga otak dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Menariknya, proses ini justru membawa dampak positif. Data dari Erasmus Impact Study menunjukkan bahwa tantangan psikologis seperti adaptasi budaya dan homesickness dapat meningkatkan soft skills hingga 118% dibandingkan individu yang tidak memiliki pengalaman internasional. Hal ini terjadi karena otak membangun pola pikir baru yang lebih adaptif dan solutif dalam menghadapi situasi yang kompleks.

baca juga

Seiring berjalannya waktu, pengalaman ini perlahan berubah. Momen sederhana seperti berbagi makanan, berbincang dengan orang baru, atau menjalin pertemanan menjadi langkah kecil yang membantu membangun rasa memiliki. Interaksi tersebut mengingatkan bahwa meskipun jauh dari rumah, koneksi tetap dapat terbentuk. Dari sini, pengalaman yang awalnya terasa berat mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

Dalam proses ini, penting untuk tidak terjebak pada hal-hal yang ditinggalkan. Kebiasaan seperti terus melihat kehidupan di rumah melalui media sosial justru dapat memperkuat rasa rindu dan membuat jarak terasa semakin nyata. Tanpa disadari, hal tersebut bisa menciptakan perbandingan yang tidak sehat antara kehidupan lama dan realitas baru yang sedang dijalani. Sebaliknya, pendekatan yang lebih efektif adalah dengan mulai membangun keterikatan di lingkungan baru, atau yang dikenal sebagai social embedding. Artinya, seseorang secara aktif melibatkan dirinya dalam komunitas di sekitarnya dan perlahan menciptakan rasa “rumah” di tempat yang sebelumnya terasa asing.

Proses ini tidak selalu instan. Ada fase di mana seseorang masih merasa canggung, tidak percaya diri, atau kesulitan untuk membuka diri. Namun, justru melalui interaksi-interaksi kecil itulah rasa keterhubungan mulai terbentuk. Langkahnya pun tidak harus besar atau drastis. Hal-hal sederhana seperti mempelajari beberapa kata dalam bahasa lokal, mencoba makanan khas, menemukan tempat favorit untuk beraktivitas, hingga memulai percakapan ringan dengan orang baru dapat menjadi awal yang signifikan. Seiring waktu, kebiasaan-kebiasaan kecil ini membangun rutinitas baru yang perlahan menggantikan rasa asing menjadi rasa familiar.

Alih-alih terus berfokus pada apa yang dirindukan, seseorang dapat mulai menggeser perspektifnya menjadi apa yang bisa diberikan kepada lingkungan barunya. Misalnya, berbagi cerita tentang budaya asal, memperkenalkan makanan khas, atau sekadar membawa sudut pandang baru dalam percakapan sehari-hari. Dalam proses ini, individu tidak lagi hanya menjadi pengamat yang pasif, tetapi mulai menjadi bagian aktif dari lingkungan tersebut. Dari sinilah muncul rasa memiliki yang tidak dipaksakan, melainkan tumbuh secara alami.

Pengalaman ini juga sejalan dengan nilai World Citizen yang diusung AIESEC, yaitu individu yang mampu beradaptasi, memahami perbedaan, serta berkontribusi di lingkungan global. Menjadi World Citizen bukan berarti meninggalkan identitas diri, tetapi justru memperluasnya dengan memahami dan menghargai perspektif lain. Dalam konteks ini, homesickness bukanlah hambatan yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kedewasaan emosional.

Pada akhirnya, homesickness bukan sesuatu yang harus dilawan, tetapi sesuatu yang perlu dipahami dan dilalui. Perasaan tersebut mengajarkan bahwa “rumah” bukan hanya tentang tempat asal, melainkan sesuatu yang dapat dibangun melalui hubungan, keberanian, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru. Rumah bisa hadir di mana saja, selama ada koneksi yang tulus dan rasa nyaman yang diciptakan bersama.

baca juga

Perjalanan global memang tidak selalu mudah di awal. Bahkan, sering kali dimulai dengan rasa tidak pasti, kesepian, dan keraguan. Namun, seiring waktu, pengalaman yang diperoleh, baik dalam bentuk pembelajaran maupun hubungan yang terjalin akan meninggalkan dampak jangka panjang. Ketahanan diri, empati, serta kemampuan beradaptasi yang terbentuk dari proses ini menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia yang semakin terhubung dan dinamis.

Karena pada akhirnya, pertumbuhan tidak selalu terasa nyaman. Ia sering datang dalam bentuk tantangan, ketidakpastian, dan perasaan tidak aman. Namun justru dari rasa tidak nyaman itulah seseorang benar-benar belajar, berkembang, dan menemukan versi terbaik dari dirinya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.