Crocodile Tears menjadi film panjang pertama karya sutradara Tumpal Tampubolon yang siap tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Film ini resmi diperkenalkan ke publik Indonesia melalui pre-screening dan press conference pada Selasa, 28 April 2026 di XXI Epicentrum.
Diproduseri oleh Mandy Marahimin, film ini mengangkat drama keluarga dengan balutan ketegangan psikologis yang kuat. Karya ini sekaligus menjadi langkah baru Tumpal dalam format film panjang setelah dikenal lewat sejumlah film pendeknya.
Crocodile Tears menghadirkan jajaran pemain yang dikenal dengan kualitas aktingnya, seperti Marissa Anita sebagai Mama, Yusuf Mahardika sebagai Johan, serta Zulfa Maharani sebagai Arumi.
Sebelum tayang di Indonesia, Crocodile Tears telah lebih dulu berkeliling dunia melalui berbagai festival film bergengsi. Film ini melakukan pemutaran perdana di Toronto International Film Festival 2024.
Perjalanannya berlanjut ke Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, serta sejumlah festival lainnya di berbagai negara. Kehadirannya di puluhan festival menjadi bukti bahwa film ini mendapat apresiasi luas dari penonton global.
Sinopsis Crocodile Tears
Film ini mengisahkan Mama, seorang ibu tunggal yang berusaha melindungi anaknya, Johan, dari dunia luar yang ia anggap berbahaya. Keduanya menjalani kehidupan yang tenang dan cenderung tertutup di sebuah penangkaran buaya.
Situasi berubah ketika Arumi hadir dalam kehidupan Johan. Kehadirannya perlahan mengubah dinamika hubungan ibu dan anak tersebut. Ketegangan demi ketegangan mulai muncul hingga membawa Mama pada keputusan besar yang menentukan arah cerita.
Inspirasi di Balik Crocodile Tears
Di balik cerita yang dihadirkan dalam Crocodile Tears, Tumpal Tampubolon mengungkap bahwa film ini lahir dari kerinduannya melihat gambaran keluarga yang jarang dimunculkan di layar perfilman Indonesia.
Ia ingin menghadirkan potret keluarga yang lebih jujur, bahkan cenderung rumit dan penuh luka, tetapi justru terasa lebih dekat dengan realitas banyak orang. Tumpal mengaku melihat sebuah kutipan yang juga menjadi inspirasinya
“Jadi ada kutipan, semua keluarga bahagia itu mirip satu sama lain, tapi setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing. Nah, keluarga di Crocodile Tears ini tidak bahagia dengan caranya yang unik, yaitu di taman buaya, akhirnya melibatkan buaya-buaya,” ucap Tumpal.
Dari pemikiran tersebut, Tumpal membangun dunia dalam Crocodile Tears sebagai ruang untuk mengeksplorasi hubungan keluarga yang tidak sempurna, sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk merasa dipahami melalui pengalaman yang mungkin jarang diangkat.
Menariknya, inspirasi film ini juga datang dari hal yang tidak biasa. Tumpal mengaku tergerak setelah menonton dokumenter tentang buaya, khususnya cara induk buaya melindungi anaknya dengan memasukkannya ke dalam rahang.
“induk buaya itu melindungi anaknya, menyelamatkan anaknya dari predator lain dengan dimasukin ke rahangnya. Jadi induk buaya kan rahangnya gede banget, terus tajam-tajam gitu, terus dia serok anaknya dimasukin ke rahangnya,” ungkap Tumpal.
Kemudian ia menambahkan, walau hal itu terlihat ngeri dan menakutkan, tetapi sebenarnya sang induk sedang melindungi anaknya. Dari sana sang sutradara menyadari bahwa ada bentuk cinta yang seperti itu.
“Tapi habis itu, lembut banget, dipegang anaknya, di tengah rahang-rahang yang kuat dan taring-taring yang tajam itu, ada bagian yang lembut juga. Jadi ada sesuatu yang terpantik dalam hati saya, pikiran saya, kayak, oh bisa begitu ya cinta itu,” tambah Tumpal.
Dari momen tersebut, ia melihat sebuah metafora tentang cinta yang kompleks tidak selalu tampak lembut dari luar, tetapi memiliki sisi perlindungan yang kuat di dalamnya. Inilah yang kemudian diangkat sebagai representasi hubungan Mama dan Johan dalam film ini.
Proses Produksi Bertahun-Tahun dan Kolaborasi Lintas Negara
Di balik lahirnya Crocodile Tears, tersimpan proses panjang yang tidak instan. Film debut panjang Tumpal Tampubolon ini telah dikembangkan sejak 2017 dan baru menjalani proses syuting pada 2023, melibatkan perjalanan kreatif yang cukup kompleks.
Produser Mandy Marahimin mengungkap bahwa proses pengembangan film ini memakan waktu lama karena banyaknya tahapan yang harus dilalui, mulai dari penulisan hingga pencarian pendanaan.
Proses panjang tersebut tidak lepas dari pendekatan yang sangat detail dalam penulisan cerita, di mana setiap revisi didiskusikan secara mendalam untuk menyesuaikan visi kreatif dengan realitas produksi.
“Karena memang pertama, skenario itu ditulis dengan sangat detail dan teliti oleh Tumpal. Bahkan draft-nya tuh mencapai 17 draft. Jadi di setiap draft itu, kita diskusi, kita lihat realita, kadang-kadang ada adegan yang Tumpal tulis yang saya bilang kayaknya kemahalan deh, nggak mungkin saya bikin ini. Ini bukan film Hollywood gitu misalnya ya. Jadi yaudah ditulis ulang, kita diskusi lagi, sehingga mencapai 17 draft,” jelas Mandy.
Selain itu, perjalanan film ini juga melibatkan berbagai forum internasional yang membuka jalan bagi kolaborasi lintas negara. Dari sana, tim produksi berhasil mendapatkan dukungan dan pendanaan dari beberapa negara yaitu dari Prancis, Jerman, dan Singapura.
Tak hanya dari sisi penulisan dan pendanaan, proses casting pun menjadi bagian yang memakan waktu cukup panjang. Tim produksi tidak hanya mencari aktor, tetapi juga kolaborator yang memiliki keterlibatan kreatif dalam film ini.
Keseluruhan proses tersebut menunjukkan bahwa Crocodile Tears lahir dari perjalanan panjang yang penuh pertimbangan, menjadikannya karya yang tidak hanya matang secara cerita, tetapi juga kuat dari sisi kolaborasi dan produksi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


