legenda asal usul kampung blunyah cerita rakyat dari yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Asal Usul Kampung Blunyah, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Legenda Asal Usul Kampung Blunyah, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
images info

Legenda Asal Usul Kampung Blunyah, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Blunyah merupakan salah satu kampung yang ada di daerah Yogyakarta. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang menceritakan tentang legenda asal usul dari nama Kampung Blunyah tersebut.

Dalam legendanya, asal usul nama kampung ini berkaitan dengan ucapan seorang istri pengusaha Belanda yang kesal dengan kondisi yang dialami dulunya. Berikut kisah lengkap dari legenda asal usul Kampung Blunyah yang ada di Yogyakarta tersebut.

Legenda Asal Usul Kampung Blunyah, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada zaman dahulu terdapat perjanjian jangka pendek atau Korte Verklaring antara Sultan dengan pihak kompeni Belanda. Perjanjian ini membuat banyak pengusaha dari kalangan orang-orang Belanda yang membuka usaha dagang di Yogyakarta.

Akibatnya mulai banyak orang-orang Belanda dan Eropa yang mulai berdatangan ke Yogyakarta. Terdapat beberapa jenis usaha yang mulai dijalankan oleh para pengusaha Belanda ini, seperti pabrik gula, rokok cerutu, pengecoran besi dan baca, penerbitan, dan lainnya.

Banyaknya usaha baru yang ada ini membuat para pengusaha membutuhkan tenaga atau buruh kasar sebagai para pekerjanya. Tanpa adanya tenaga kerja ini, maka aktivitas produksi yang ada di setiap pabrik tersebut bisa terhambat.

baca juga

Para buruh pun didatangkan dari daerah pedesaan. Umumnya para buruh ini merupakan petani yang memanfaatkan waktu luang sembari menunggu masa panen tiba.

Buruh dari pedesaan ini datang bergerombolan dan menetap di sebuah tempat. Lama kelamaan terbentuklah sebuah kampung di tempat bermukim tersebut.

Para pengusaha Belanda suka memakai para buruh ini karena bisa dibayar murah. Untuk beberapa posisi strategis, seperti mandor, tenaga ahli, dan lainnya biasanya berasal dari kalangan orang Belanda dan mendapatkan upah yang lebih besar.

Namun seiring berjalannya waktu, ada juga orang-orang pribumi yang mulai diangkat menjadi mandor. Mandor inilah yang nantinya mengatur para buruh yang bekerja di pabrik tersebut.

Pada suatu masa, para buruh ini meminta izin untuk kembali ke kampung mereka. Hal ini disebabkan karena masa panen sudah tiba.

Para buruh ini berjanji akan kembali ketika musim panen usai. Mandor pribumi yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa membiarkan para buruh kembali ke daerah asal mereka.

Perginya para buruh ini membuat aktivitas produksi di pabrik menjadi terhambat. Pengusaha Belanda kemudian menanyakan mengapa hal ini bisa terjadi pada sang mandor pribumi.

Pada awalnya, pengusaha Belanda mengira jika para buruh kabur karena mendapatkan upah yang kecil. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari sang mandor, dirinya baru paham jika para buruh ini hanya pergi untuk sementara waktu.

Beberapa bulan kemudian, situasi yang ada masih tetap sama. Pengusaha Belanda ini kemudian bertanya apakah para buruh sudah kembali dari kampung mereka pada sang mandor.

Namun jawaban yang diterima tetap sama. Lama kelamaan pengusaha itu mulai menyerah dengan kondisi yang ada.

Dirinya kemudian meminta istrinya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Begitu tiba di lokasi pabrik, istri pengusaha ini kemudian menemui mandor pribumi dan menanyakan apakah para buruh sudah kembali.

Mandor pribumi hanya bisa menjawab, "Belum, Nyah!" Jawaban yang sama terus dia berikan berulang kali.

baca juga

Hal ini ternyata juga membuat istri pengusaha tersebut marah. Dirinya kesal karena jawaban yang dia dengar hanya, "Belun, Nyah" saja berulang kali.

Sejak saat itu, mandor pribumi tersebut kemudian dikenal dengan nama Pak Belunyah. Kelak ketika dirinya meninggal, nama kampung tempat para buruh bermukim ketika datang untuk bekerja di pabrik tersebut kemudian dikenal dengan nama Belunyah atau Blunyah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.