lebaran depok tradisi betawi yang tetap hidup di tengah modernisasi - News | Good News From Indonesia 2026

Lebaran Depok, Tradisi Betawi yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Lebaran Depok, Tradisi Betawi yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi
images info

Lebaran Depok, Tradisi Betawi yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi


Di tengah laju pembangunan kawasan penyangga ibu kota, masyarakat Betawi di Depok masih mempertahankan satu warisan budaya yang terus diwariskan lintas generasi, yakni Lebaran Depok.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan cerminan cara masyarakat Betawi menjaga nilai kebersamaan, spiritualitas, dan gotong royong dalam menyambut Ramadan hingga Idul Fitri.

Lebaran Depok dikenal sebagai festival budaya khas Betawi Tengah yang rutin digelar menjelang hari jadi Kota Depok pada April hingga Mei. Namun, di balik kemeriahan festival, terdapat akar tradisi yang tumbuh dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Berbagai kebiasaan seperti ngubek empang, ngaduk dodol, nyorog, hingga kebo andilan menjadi simbol kuat bagaimana budaya lokal tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Tokoh masyarakat Betawi, Nuroji, menyebut Lebaran Depok sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi masyarakat Betawi dalam menyambut puasa dan Lebaran. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan hiburan budaya, tetapi juga mengandung nilai sosial yang masih relevan hingga sekarang.

Tradisi Menyambut Ramadan yang Sarat Nilai Spiritual

Rangkaian Lebaran Depok sejatinya dimulai jauh sebelum Idul Fitri tiba. Masyarakat Betawi Depok memiliki tradisi Rowahan yang dilaksanakan pada bulan Sya’ban atau bulan Rowah. Tradisi ini menjadi momen doa bersama untuk leluhur sekaligus bentuk persiapan batin menjelang Ramadan.

Dalam pelaksanaannya, warga berkumpul sambil menikmati hidangan khas Betawi seperti semur kebo, sayur godog, dan ayam bekakak. Kegiatan tersebut bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi antarwarga dan keluarga besar.

Tradisi Rowahan memperlihatkan bagaimana masyarakat Betawi memadukan nilai spiritual dengan budaya kebersamaan.

Setelah Rowahan, masyarakat melanjutkan tradisi munggahan sebagai penanda dimulainya ibadah puasa.

Munggahan biasanya diisi dengan makan bersama keluarga dan rasa syukur menyambut Ramadan. Tradisi ini menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga momentum mempererat hubungan keluarga.

Selain itu, masyarakat Betawi Depok juga mengenal tradisi abugan menjelang akhir Ramadan. Pada malam-malam ganjil seperti tanggal 23, 25, atau 27 Ramadan, warga membuat berbagai kue tradisional seperti kue abug, kue pisang, dan kue unti untuk dibagikan kepada kerabat dan tetangga. Tradisi berbagi makanan tersebut menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus memperkuat hubungan antarwarga.

Gotong Royong Lewat Kebo Andilan dan Ngubek Empang

Salah satu tradisi paling khas dalam Lebaran Depok adalah kebo andilan atau sistem patungan membeli kerbau. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan masih dipertahankan hingga kini. Warga biasanya mulai menabung bersama sejak selepas Lebaran tahun sebelumnya untuk membeli kerbau yang akan disembelih menjelang Idul Fitri.

Kerbau dipilih bukan tanpa alasan. Dalam budaya Betawi, semur kebo menjadi hidangan wajib saat Lebaran. Karena itu, daging kerbau memiliki nilai simbolik yang kuat dalam tradisi masyarakat Betawi Depok.

Menariknya, pembagian hasil sembelihan dilakukan secara merata, mulai dari daging hingga jeroan, sehingga seluruh peserta andilan mendapatkan bagian yang adil.

Tradisi lain yang tidak kalah menarik adalah ngubek empang

Dalam kegiatan ini, warga bersama-sama menangkap ikan di empang atau kolam milik warga. Suasana penuh canda dan kebersamaan menjadi ciri khas tradisi tersebut. Setelah ikan didapatkan, hasilnya dibagikan kepada tetangga dan masyarakat sekitar.

Ngubek empang bukan sekadar kegiatan mencari ikan, melainkan simbol solidaritas sosial masyarakat Betawi. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana hasil panen atau rezeki tidak dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, dalam festival Lebaran Depok modern, masyarakat juga disuguhkan beragam pertunjukan budaya seperti Reog, Barongsai, hingga Tari Kecak. Kehadiran kesenian dari berbagai daerah menunjukkan bahwa Lebaran Depok berkembang menjadi ruang budaya yang inklusif tanpa meninggalkan identitas Betawinya.

Nyorog dan Makna Lebaran Depok di Era Modern

Puncak tradisi Lebaran Depok berlangsung saat Idul Fitri melalui budaya nyorog atau rantangan. Tradisi ini dilakukan dengan membawa makanan menggunakan rantang untuk diberikan kepada anggota keluarga yang lebih tua.

Selain menjadi simbol penghormatan kepada orang tua, nyorog juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarkeluarga.

Biasanya, keluarga yang dikunjungi akan memberikan uang atau hadiah kepada anak-anak yang datang bersilaturahmi. Tradisi sederhana ini memperlihatkan kuatnya nilai kekeluargaan dalam budaya Betawi Depok.

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat urban, Lebaran Depok menjadi pengingat bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial. Nilai gotong royong, berbagi, menghormati orang tua, dan menjaga hubungan antarsesama tetap relevan di era sekarang.

Lebaran Depok bukan hanya festival budaya tahunan, melainkan identitas masyarakat yang terus hidup. Tradisi ini membuktikan bahwa budaya lokal tidak harus hilang diterpa zaman, tetapi dapat beradaptasi dan tetap menjadi perekat sosial bagi generasi masa kini maupun mendatang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.