Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanen perdana benih penjenis (breeder seed) varietas padi unggul yang dikembangkan melalui teknik pemuliaan mutasi iradiasi di Subang, Jawa Barat.
Hal ini menjadi salah satu strategi utama dalam memacu swasembada pangan nasional. Melalui varietas hasil pemuliaan tersebut, hal ini diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman serta produktivitas gabah per hektare secara signifikan.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi nuklir melalui radiasi sinar gamma (Co-60) bukan lagi sebatas riset di atas kertas. Energi radiasi diberikan dalam dosis tertentu pada benih padi untuk memicu perubahan struktur DNA, yang kemudian diseleksi secara ketat oleh para pemulia tanaman.
Metode tersebut digunakan untuk memperbaiki karakter tanaman yang memiliki kelemahan, seperti batang yang terlalu tinggi atau umur panen yang terlalu panjang.
Berbeda dengan produk rekayasa genetika (Genetically Modified Organism/GMO), pemuliaan mutasi iradiasi tidak memasukkan gen asing ke dalam struktur tanaman. Hal ini membuat benih hasil iradiasi sepenuhnya aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat serta ramah terhadap ekosistem lingkungan persawahan.
Kemitraan Strategis dengan Industri Swasta
Agar hasil riset tidak berhenti di tingkat laboratorium, BRIN menjalin kerja sama strategis dengan sektor swasta seperti CV Fiona Benih Mandiri dan PT Sipetapa.
Dengan skema lisensi Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), industri perbenihan nasional diberikan akses untuk memperbanyak dan mendistribusikan benih hasil teknologi nuklir ini ke pasar yang lebih luas.
Perbanyakan benih di Subang dilakukan pada benih penjenis berlabel kuning dengan tingkat kemurnian genetik mendekati 100 persen. Proses perbanyakan ini diawasi langsung oleh tim peneliti dari Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN.
Pengawasan ketat dilakukan melalui proses roguing, yakni pembersihan tanaman menyimpang untuk menjaga kualitas genetik benih inti sebelum disalurkan ke industri perbenihan.
"Varietas unggul hasil iradiasi ini menjadi instrumen penting untuk meningkatkan indeks pertanaman dan hasil per hektare secara signifikan," ungkap Arif Satria dalam keterangannya di Subang pada akhir April 2026.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, mengapresiasi dukungan dari para mitra industri. Kerja sama ini dinilai sangat penting agar benih inti yang dihasilkan dapat segera diproduksi massal hingga sampai ke tangan para petani di berbagai daerah lumbung pangan.
Karakteristik Tiga Varietas Padi Unggul
Terdapat tiga varietas unggul hasil mutasi iradiasi BRIN yang dipanen dan dikembangkan dalam program kerja sama ini:
Sidenuk (Sintanur Dedikasi Nuklir): Memiliki umur tanam sangat genjah (sekitar 103 hari), berstruktur batang kokoh sehingga tahan terhadap risiko rebah, serta memiliki potensi hasil panen mencapai 9,1 ton per hektare.
Tropiko: Merupakan Padi Tipe Baru (PTB) dengan potensi hasil tinggi hingga 10,53 ton per hektare, menghasilkan tekstur nasi yang pulen, serta memiliki ketahanan terhadap serangan hama wereng cokelat.
Bestari: Memiliki keunggulan pada jumlah anakan produktif yang banyak serta daya tahan yang tinggi terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB).
Pengembangan ketiga varietas tersebut ditujukan untuk memecahkan masalah petani, mulai dari kerugian akibat tanaman yang roboh sebelum panen hingga ancaman gagal panen akibat serangan penyakit tanaman.
Melalui perbanyakan berjenjang, benih penjenis ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan tanam di ribuan hektare sawah dalam beberapa musim ke depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


