profesor ui ubah limbah pertanian untuk pembuatan baterai biomassa lokal berpotensi besar - News | Good News From Indonesia 2026

Profesor UI Ubah Limbah Pertanian untuk Pembuatan Baterai, Biomassa Lokal Berpotensi Besar

Profesor UI Ubah Limbah Pertanian untuk Pembuatan Baterai, Biomassa Lokal Berpotensi Besar
images info

Profesor UI Ubah Limbah Pertanian untuk Pembuatan Baterai, Biomassa Lokal Berpotensi Besar


Pemanfaatan energi baru dan terbarukan di Indonesia membutuhkan sistem penyimpanan yang andal guna mengatasi sifat intermiten dari sumber energi seperti angin dan matahari.

Menanggapi tantangan tersebut, Guru Besar Tetap Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Prof. Bambang Priyono, menghadirkan riset mengenai pengembangan baterai sekunder litium-ion berbasis biomassa lokal.

Penggunaan bahan terbarukan ini ditujukan untuk menekan ketergantungan industri terhadap impor bahan tambang mineral.

Dalam penelitiannya, Prof. Bambang memanfaatkan limbah biomassa seperti sekam padi (rice husk) dan cangkang telur ayam (chicken eggshell) sebagai material aktif serta bahan dopan untuk komponen anoda dan katoda baterai.

Metode ini tidak hanya menekan biaya produksi material baterai, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi yang tinggi bagi sumber daya alam dan limbah domestik yang melimpah di dalam negeri.

Pemanfaatan limbah pertanian ini dipadukan dengan penguasaan teknologi flash-joule yang mampu menghasilkan grafena multi-lapis (multi-layer graphene) dari biomassa secara cepat.

Grafena yang dihasilkan dari proses ramah lingkungan tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas elektroda, sehingga hantaran listrik pada baterai menjadi lebih optimal dan memiliki aplikasi yang luas pada berbagai perangkat elektronik.

 

Efisiensi Baterai dan Transisi ke Sodium-Ion

Pengembangan material maju ini diarahkan untuk mendukung sistem penyimpanan energi berskala besar (battery energy storage atau BES).

Baterai litium-ion yang dioptimalkan dengan material lokal ini tercatat memiliki efisiensi coulombic (Coulombic Efficiency/CE) rata-rata mencapai 95 persen dengan masa pakai operasional yang mampu melampaui 8 tahun, menjadikannya solusi penyimpanan energi yang semakin kompetitif dan ekonomis.

Selain berfokus pada litium-ion, cakupan riset Prof. Bambang diperluas ke pengembangan teknologi baterai sodium-ion. Jenis baterai ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Indonesia karena ketersediaan bahan baku sodium yang melimpah di wilayah perairan nasional.

Hal tersebut menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang untuk mengurangi penggunaan litium yang pasokannya terbatas di pasar global.

“Kemandirian energi bangsa hanya dapat dicapai bila kita mampu mengembangkan teknologi baterai dengan bahan baku terbarukan yang berlimpah di Indonesia, sehingga aplikasinya berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Bambang dalam pidato pengukuhannya di Balai Sidang UI.

Pemanfaatan sodium-ion dan inovasi grafena dari biomassa diharapkan mampu mempercepat transisi energi bersih di Indonesia, sekaligus menempatkan para periset dalam negeri pada posisi strategis dalam pengembangan teknologi penyimpanan daya generasi terbaru.

 

Hilirisasi Riset Melalui Kerja Sama Industri

Agar inovasi material maju ini tidak berhenti di tingkat laboratorium akademik, Prof. Bambang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara akademisi dan pelaku industri manufaktur. Kolaborasi ini diperlukan untuk memvalidasi kelayakan teknis dan ekonomi dari penerapan baterai berbasis biomassa sebelum masuk ke tahap produksi massal.

Lewat kemitraan strategis, hasil riset katoda NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan anoda berbasis biomassa mulai diujicobakan untuk melihat performa ketahanannya pada skala industri. Pengujian tersebut mencakup analisis siklus pengisian daya serta stabilitas termal baterai saat dioperasikan pada kondisi beban tinggi.

Ekosistem riset yang terhubung langsung dengan kebutuhan pasar menjadi upaya yang diperlukan dalam menciptakan produk komersial yang kompetitif.

Pengembangan teknologi penyimpanan daya berbasis sumber daya lokal ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi bagi permasalahan polusi udara dan krisis energi, tetapi juga menjadi fondasi bagi Indonesia untuk menjadi produsen mandiri di rantai pasok baterai global.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.