tanaman rami dari wonosobo ini jadi serat kain hingga home decor pasarnya sampai amerika - News | Good News From Indonesia 2026

Tanaman Rami dari Wonosobo Ini Jadi Serat Kain hingga Home Decor, Pasarnya Sampai Amerika

Tanaman Rami dari Wonosobo Ini Jadi Serat Kain hingga Home Decor, Pasarnya Sampai Amerika
images info

Tanaman Rami dari Wonosobo Ini Jadi Serat Kain hingga Home Decor, Pasarnya Sampai Amerika


“Tanam pohon, tumbuh baju,” katanya

Wibowo Ahmad memilih menanam rami dan menggunakannya sebagai serat pakaian saat kain sintetis mendominasi dan impor kapas nyaris tak terbendung. Menurutnya, rami bukan lah tanaman serat biasa. Rami adalah tanaman yang menurutnya bisa menjadi jawaban bagi masa depan sandang Indonesia.

Rami bukan tanaman populer seperti padi atau jagung. Bentuknya mirip jelatang. Nah yang dicari dan dimanfaatkan dari tanaman ini adalah kulit batangnya. Kulit itu nantinya menjadi bahan baku tekstil atau produk dekorasi rumah.

“Rami semua bagiannya bisa dipakai,” ujarnya.

Dari batang tanaman setinggi dua meter, Wibowo mengambil kulitnya. Kulit itu dipisahkan, direndam, dijemur, lalu diolah menjadi serat. Dari serat itulah nantinya diproses jadi benang, kain, sampai pakaian.

“Jadi dari tanaman rami ini, kulitnya kita ambil, kita ambil seratnya. Serat itu kemudian didekortikasi, lalu dihasilkan inagres,” ujar Wibowo.

Di Wonosobo, Jawa Tengah, ia juga membangun pertanian rami yang terintegrasi dengan peternakan domba. Daun rami dimanfaatkan untuk pakan ternak, kemudian limbahnya jadi pupuk. Nah, batangnya ini lah yang diolah jadi serat tekstil. Karena itulah ia menyebut sistem ini sebagai integrated farming atau pertanian terintegrasi.

“Daunnya ini mengandung 23 persen protein. Sehingga daun rami ini kita gunakan juga untuk pakan ternak kambing dan domba kami,” kata Wibowo.

Wibowo mengaku sudah memulai perjuangan uji coba rami sejak 1999. Hampir 25 tahun hidupnya habis untuk mempertahankan rami di Indonesia.

“Dimulai dari tahun 1999 sampai 2026. Dalam rentang waktu itu, riak gelombangnya perjuangan di serat alam ini sangat luar biasa,” katanya.

Atas kerja kerasnya itu, Wibowo kini punya julukan unik, yakni “Samurai Rami of Indonesia”.

Dua Bulan, Sudah Bisa Dipanen

Di Wonosobo, rami tumbuh cepat. Dalam dua bulan, tingginya bisa mencapai dua meter. Tapi, dalam kurun waktu tersebut, tanaman belum bisa dipanen saat awal tanam.

Empat bulan pertama dipakai untuk memperkuat akar dan memperbanyak tunas. Setelah itu baru dilakukan panen rutin setiap dua bulan sekali.

“Sekali nanam bisa lima sampai sepuluh tahun,” kata Wibowo.

Ada beberapa tanda sebelum rami siap dipanen. Bunganya mulai muncul, batang bagian bawah berubah kecokelatan, dan ujung daun terasa keras saat dipatahkan.

Jika ciri-ciri itu sudah terlihat, batang dipangkas rata dengan tanah agar tunas baru bisa tumbuh lebih baik.

Setelah dipanen, batang langsung dibawa ke tempat pengolahan.

Dari Batang Jadi Serat

Di unit pengolahan, batang rami dimasukkan ke mesin dekortikator untuk memisahkan kulit serat dari batangnya. Setelah itu, serat direndam selama satu hingga dua hari, diperas, lalu dijemur sekitar tiga hari.

“Rata-rata dari panen sampai jadi serat itu enam sampai tujuh hari,” ujar Wibowo.

Hasil akhirnya disebut serat inagres. Serat ini digunakan untuk dua kebutuhan utama, yakni bahan tekstil dan kerajinan home decor interior.

Yang menarik, pasar terbesar justru datang dari luar negeri. Menurut Wibowo, sekitar 95% produknya dijual ke pasar ekspor. Pembelinya datang dari China, Malaysia, Amerika Serikat, hingga Italia.

“Karena dia biodegradable,” kata Wibowo.

Biodegradable berarti material tersebut bisa terurai alami di tanah tanpa meninggalkan pencemaran jangka panjang.

Menurutnya, isu global warming, perubahan iklim, dan carbon footprint membuat banyak perusahaan luar negeri mulai melirik serat alam sebagai alternatif bahan tekstil.

Berbeda dengan polyester yang berbahan dasar plastik, rami berasal langsung dari tanaman. Selain itu, seratnya juga dikenal kuat.

“Kekuatan seratnya di atas rata-rata serat alam lain,” ujar Wibowo.

Ia menyebut daya serap rami lebih tinggi dibanding kapas, sehingga kain berbahan rami terasa lebih adem dan nyaman dipakai.

Pernah Diteliti untuk Rompi Antipeluru

Tak banyak yang tahu, serat rami ternyata juga pernah diteliti untuk kebutuhan militer.

Menurut Wibowo, rami memiliki tensile strength atau kuat tarik lebih dari 800 MPa. Karena itulah beberapa penelitian mencoba memanfaatkannya sebagai bahan body armor atau rompi antipeluru pengganti kevlar.

“Sudah sampai tahap peluru tumpul,” katanya.

Meski belum diproduksi massal, penelitian itu menunjukkan bahwa potensi rami jauh lebih luas dibanding sekadar bahan pakaian.

Saat ini, Wibowo mengelola sekitar 25 hektare lahan rami di Wonosobo. Separuhnya merupakan lahan milik petani mitra.

Ada sekitar 80 petani yang menyetorkan serat rami ke tempatnya.

“Hampir 35 desa terlibat,” ujar Wibowo.

Mulai dari proses penyambungan serat, penganyaman, hingga pengerjaan produk interior dilakukan warga sekitar. Secara keseluruhan, hampir seribu orang ikut terlibat dalam rantai produksi tersebut.

Meski begitu, tantangan mengembangkan rami masih besar. Biaya tanam satu hektare bisa mencapai Rp80 juta hingga Rp100 juta. Sementara modal biasanya baru kembali setelah sekitar dua setengah tahun.

Karena itu, Wibowo memilih mengembangkan usahanya secara perlahan.

“Kami bertumbuh secara organik. Bukan dari utang,” katanya.

Ia percaya Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama serat alam dunia. Iklim tropis membuat rami bisa dipanen hingga lima kali setahun, jauh lebih sering dibanding negara subtropis seperti China atau Jepang.

Bahkan menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi lumbung serat alam dunia.

“Karena semua jenis serat alam itu ada di Indonesia,” kata Wibowo.

Mulai dari rami, kenaf, kapas, serat daun nanas, sutra, hingga wool.

“Rami adalah rahmat Allah milik Indonesia.”

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.