hari perawat sedunia our nurses our future empowered nurses save lives - News | Good News From Indonesia 2026

Hari Perawat Sedunia, Sejarah hingga Tema yang Diangkat Tahun Ini

Hari Perawat Sedunia, Sejarah hingga Tema yang Diangkat Tahun Ini
images info

Hari Perawat Sedunia, Sejarah hingga Tema yang Diangkat Tahun Ini


Hari Perawat Sedunia atau International Nurses Day setiap tahunnya dirayakan pada tanggal 12 Mei, bertepatan dengan hari lahir Florence Nightingale. Menjadi momen untuk memberikan perhatian lebih bagi para perawat yang bekerja dengan sepenuh hati setiap harinya. 

Yuk, simak mengenai awal ditetapkannya Hari Perawat Sedunia, sejarah Florence Nightingale, hingga tema yang telah ditetapkan tahun ini.

Hari Perawat Sedunia

Melansir dari situs American Nurses Association, “Hari Perawat” pertama kali dicetuskan oleh Dorothy Sutherland dari Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan Amerika serikat, pada tahun 1953. Saat itu ia mengirim proposal kepada Presiden Dwight D. Eisenhower untuk menetapkan hari perawat. Namun, tidak ada tindakan selanjutnya.

Pada tahun 1965, International Council of Nurses (ICN) telah merayakan “International Nurses Day” atau Hari Perawat sedunia. Hari lahir Florence Nightingale, yaitu 12 Mei, dipilih dan ditetapkan sebagai Hari Perawat Internasional pada tahun 1974. Sebagai penghormatan dan mengenang jasa-jasa, dedikasi, serta perannya bagi keperawatan modern.

Perayaan Hari Perawat Sedunia juga menjadi penghargaan dan apresiasi untuk seluruh perawat di dunia. Setiap kerja keras, kontribusi, dan pengorbanan mereka dalam memberikan perawatan kesehatan sangat berharga.

Dengan Hari Perawat Sedunia, suara-suara untuk kesejahteraan dan perlindungan perawat dapat lebih kuat terdengar.

baca juga

Florence Nightingale: The Lady with the Lamp

Florence Nightingale menjadi dasar dari hadirnya Hari Perawat Internasional. Ia membawa perubahan dan kemajuan dalam dunia keperawatan. Meningkatkan sanitasi dan kebersihan rumah sakit hingga mengubah pandangan dunia terhadap perawat, menjadikan perawat sebagai profesi yang mulia dan profesional.

Melansir dari situs National Women History Museum, Florence Nightingale lahir di Florence, Italia pada tanggal 12 Mei 1820. Meski berasal dari keluarga Inggris yang kaya, sejak kecil ia sering membantu orang miskin dan sakit di desa yang dekat dengan perkebunan keluarganya. Ia percaya bahwa membantu orang miskin dan sakit adalah panggilan hidupnya.

Tumbuh dalam didikan ayahnya yang mengharapkan dirinya menikah di usia muda, membuat keputusannya untuk menjadi perawat sempat ditentang. Orang tuanya ingin ia menikah dan berkeluarga. Namun, Florence tetap kuat menolak pernikahan dan ingin menjadi perawat.

Hingga akhirnya, ayahnya memberinya izin untuk belajar ke Jerman selama 3 bulan. Setelah itu, Florence ke Paris untuk mengikuti pelatihan tambahan. Pada umur 33 tahun, ia sudah dikenal di komunitas keperawatan dan kembali ke inggris tahun 1853. Menjadi pengawas dan manajer di sebuah rumah sakit untuk “gentlewomen” di London.

Ketika Perang Krimea berlangsung, Inggris tidak siap menghadapi banyaknya tentara yang terluka dan sakit. Kurangnya persediaan medis serta kondisi yang tidak higienis memperparah keadaan.

Florence bersama 38 perawat lainnya berangkat rumah sakit sementara barak militer Inggris di Scutari. Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan, Florence dengan seluruh timnya melakukan pembersihan, mengatur ulang ventilasi, dan pemeliharaan sanitasi. Ia juga menekankan para perawat untuk sering mencuci tangan.

Florence mencatat informasi mengenai pasien. Dengan demikian, tingkat kematian dan perawatan kesehatan menjadi statistik yang mudah dipahami. Berdasarkan hasil statistiknya, dapat diketahui bahwa sebagian besar kematian disebabkan penyakit yang dapat dicegah, bukan cedera akibat perang.

Ia mengerti bahwa kebersihan yang baik diperlukan untuk menjaga keselamatan pasien dan menerapkannya. Berkat kerja keras tersebut, angka kematian turun dari yang sebelumnya mencapai 42% menjadi 2% dalam waktu 6 bulan.

Florence dijuluki sebagai “The Lady with the Lamp”, karena di malam hari ia sering berkeliling memeriksa para tentara yang terluka dengan membawa lampu di tangannya.

baca juga

Perjuangan Florence tidak berhenti setelah perang. Ia menulis buku dengan judul “Notes on Nursing: What it is, and What it is Not". Pada tahun 1860, ia mendirikan sekolah keperawatan profesional pertama di dunia, di Rumah Sakit St.Thomas di London.

Reputasi keperawatan naik menjadi profesi yang memiliki dampak besar. Hingga saat ini, hasil perjuangannya tetap hidup dan mengakar kuat untuk menolong sesama.

Tema Hari Perawat Sedunia 2026

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ICN juga telah menetapkan tema yaitu “Our Nurses. Our Future. Empowered Nurses Save Lives”. Tema ini membawa pesan bahwa untuk memaksimalkan penyelamatan nyawa, perawat harus berdaya. Baik dengan lingkungan kerja yang aman dan adil, serta praktik, pengaruh, hingga kepemimpinan keperawatan yang penuh.

Di tengah tekanan dan tantangan global saat ini, perawat terus memberikan perawatan terbaik, melindungi masyarakat, serta menjaga sistem kesehatan tetap berjalan. Namun, dukungan dan perhatian bagi perawat tidak sepenuhnya diberikan.

Maka melalui tema kali ini, tercermin komitmen untuk memastikan perawat memiliki wewenang, sumber daya, serta kondisi kerja yang sesuai dan dibutuhkan. Mencapai pemberdayaan berarti menghilangkan hambatan sekaligus menciptakan jalan untuk pengetahuan, keterampilan serta suara para perawat demi masa depan keperawatan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Alsha Nuraini lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Alsha Nuraini.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.