Sam Ratulangi, atau lengkapnya Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Sulawesi Utara. Ia berasal dari keluarga terpelajar dan terpandang di Minahasa. Ayahnya, Jozias Ratulangi, merupakan seorang guru yang pernah menempuh pendidikan di Belanda, sedangkan ibunya, Augustina Gerungan, berasal dari keluarga pemimpin lokal. Lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan membuat Sam tumbuh menjadi pribadi cerdas dan berwawasan luas.
Pendidikan dasarnya dikutip dari laman Ikpni.or.id dimulai di Europeesche Lagere School (ELS) di Tondano, kemudian dilanjutkan ke sekolah menengah Hoofden School, hingga akhirnya ke Sekolah Teknik Koningin Wilhelmina di Jakarta. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membawanya jauh menyeberangi lautan menuju Eropa. Sam melanjutkan studi di Universitas Amsterdam dan kemudian di Universitas Zurich, Swiss, tempat ia meraih gelar doktor dalam bidang ilmu pasti dan alam pada tahun 1919.
Selama masa studinya di luar negeri, Sam mengalami langsung diskriminasi yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap kaum pribumi. Meskipun berprestasi dan berpendidikan tinggi, ia kerap diperlakukan berbeda dibandingkan orang Eropa. Pengalaman itu menumbuhkan kesadaran nasional dalam dirinya bahwa bangsa Indonesia harus bangkit dan berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Menanamkan Nilai Kemanusiaan dan Nasionalisme
Sekembalinya ke tanah air, Sam Ratulangi tidak hanya berfokus pada karier pribadi. Ia merasa terpanggil untuk berjuang bagi rakyat yang masih terbelenggu oleh penjajahan dan kemiskinan. Sebagai seorang intelektual, ia percaya bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilakukan tanpa kemanusiaan.
Dikutip dari laman Tirto.id filosofinya yang paling terkenal Sam Ratulangiberbunyi “Si tou timou tumou tou”, sebuah ungkapan dari bahasa Minahasa yang berarti “manusia hidup untuk memanusiakan manusia.” Bagi Sam, nilai kemanusiaan adalah dasar dari semua perjuangan. Pendidikan, ekonomi, dan politik harus diarahkan untuk memanusiakan rakyat, bukan menindas mereka.
Pada tahun 1924, Sam menjabat sebagai Sekretaris Minahasa Raad, lembaga perwakilan lokal di Sulawesi Utara. Dalam jabatan ini, ia menolak keras praktik kerja paksa (rodi) dan memperjuangkan penghapusan sistem ijon yang mencekik petani.
Ia juga mendirikan yayasan beasiswa bagi anak-anak miskin agar bisa memperoleh pendidikan yang layak. Upayanya ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, melainkan dengan keberanian memperjuangkan keadilan sosial.
Selain di bidang sosial, Sam juga aktif dalam memperjuangkan ekonomi rakyat. Ia mendirikan Serikat Penanaman Kelapa dan Rumah Gadai Pemerintah untuk membantu masyarakat agar terlepas dari jeratan utang para tengkulak. Langkah-langkah tersebut mencerminkan pandangan visioner bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya berarti lepas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari kemiskinan dan kebodohan.
Pejuang di Ranah Politik dan Pemikir Kebangsaan
Selain dikenal sebagai pendidik dan aktivis sosial, Sam Ratulangi juga terjun dalam dunia politik. Ia bergabung dengan Volksraad, lembaga perwakilan yang dibentuk oleh Belanda, bersama tokoh-tokoh nasionalis seperti M.H. Thamrin. Di sana, Sam memperjuangkan hak politik rakyat Indonesia dan menentang diskriminasi terhadap kaum pribumi.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah memperkenalkan penggunaan nama “Indonesia” secara resmi jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928. Sekitar tahun 1917, Sam mendirikan perusahaan asuransi bernama Levensverzekering Maatschappij Indonesia. Melalui langkah sederhana itu, istilah “Indonesia” mulai dikenal luas dan menjadi simbol kebanggaan nasional.
Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Sam Ratulangi turut mengumandangkan semangat kemerdekaan di wilayah timur Nusantara. Ia kemudian diangkat sebagai Gubernur Sulawesi pertama, yang bertugas mempersatukan masyarakat di tengah ancaman kembalinya penjajahan Belanda.
Sam juga menyuarakan aspirasi rakyat Sulawesi dan Indonesia Timur ke dunia internasional. Ia pernah mengajukan Petisi Ratulangi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menegaskan bahwa Sulawesi dan wilayah sekitarnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Tindakan ini memperlihatkan pandangan diplomatisnya bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya melalui senjata, tetapi juga lewat diplomasi dan pengetahuan.
Perjuangan panjang Sam Ratulangi tidak lepas dari risiko besar. Saat terjadi agresi militer Belanda dan perpecahan politik pasca-Perjanjian Renville, Sam ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Serui, Papua. Dalam pengasingan, kesehatannya menurun drastis akibat kondisi yang keras dan terbatas. Namun semangatnya tidak pernah padam.
Pada 30 Juni 1949, Sam Ratulangi menghembuskan napas terakhir di Jakarta, tidak lama setelah dibebaskan dari pengasingan. Meski wafat dalam masa sulit, semangat perjuangannya tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia.
Atas jasa besar dalam memperjuangkan kemerdekaan, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 590 Tahun 1961. Namanya diabadikan di berbagai tempat penting, seperti Bandar Udara Sam Ratulangi di Manado dan Universitas Sam Ratulangi yang menjadi salah satu pusat pendidikan di Sulawesi Utara.
Pemikiran dan semangatnya juga terus dikenang melalui motto “Si tou timou tumou tou,” yang menjadi falsafah hidup masyarakat Minahasa hingga kini. Nilai-nilai tersebut mengingatkan bahwa manusia sejati adalah mereka yang memberi manfaat bagi sesamanya.
Gambar Sam Ratulangi juga diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp20.000, sebagai bentuk penghargaan nasional terhadap perjuangannya. Pengakuan itu menegaskan bahwa perjuangan dari ujung utara Indonesia memiliki makna penting bagi tegaknya persatuan bangsa.
Makna dan Inspirasi bagi Generasi Kini
Kisah hidup Sam Ratulangi mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan di medan perang. Melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan keberanian moral, ia menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pikiran yang jernih dan hati yang tulus.
Semangatnya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti kebebasan politik, tetapi juga kemerdekaan untuk hidup bermartabat, berpendidikan, dan sejahtera. Dari Tondano hingga Zurich, dari ruang kuliah hingga pengasingan, Sam Ratulangi menorehkan perjalanan hidup yang menginspirasi banyak generasi untuk terus berjuang demi kemanusiaan dan keadilan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


