ikan purba yang lolos dari kepunahan 66 juta tahun lalu ini ada di laut indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu, Ikan Purba Ini Masih Hidup di Laut Indonesia!

Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu, Ikan Purba Ini Masih Hidup di Laut Indonesia!
images info

Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu, Ikan Purba Ini Masih Hidup di Laut Indonesia!


Indonesia menjadi salah satu wilayah penting bagi keberadaan coelacanth, ikan purba yang selama puluhan tahun dianggap telah punah. Sebelum ditemukan kembali pada abad ke-20, kelompok ikan ini diyakini menghilang sekitar 66 juta tahun lalu, bersamaan dengan kepunahan dinosaurus. Penemuan coelacanth di Indonesia kemudian mengubah pemahaman ilmuwan tentang sejarah evolusi vertebrata laut dan menunjukkan bahwa laut dalam Indonesia masih menyimpan banyak spesies yang belum sepenuhnya dipahami.

Spesies coelacanth Indonesia dikenal dengan nama Latimeria menadoensis. Ikan ini pertama kali menarik perhatian dunia pada 1997 setelah ahli biologi laut Mark Erdmann melihat seekor ikan aneh dijual di pasar ikan Manado Tua, Sulawesi Utara. Bentuk tubuhnya sangat mirip dengan coelacanth Afrika Selatan, Latimeria chalumnae, yang sebelumnya ditemukan pada 1938. Namun, ikan di Manado memiliki warna tubuh berbeda, yaitu cokelat keemasan, sedangkan spesies Afrika berwarna biru keabu-abuan.

Penemuan tersebut kemudian dikonfirmasi pada 1998 ketika nelayan lokal berhasil menangkap spesimen lain yang dapat diteliti lebih lanjut. Dari penelitian itu, ilmuwan memastikan bahwa ikan tersebut merupakan spesies baru. Penemuan Latimeria menadoensis menjadi salah satu temuan paling penting dalam biologi kelautan modern karena membuktikan bahwa coelacanth tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berevolusi menjadi garis keturunan berbeda di wilayah Indonesia.

Ciri Unik Coelacanth ‘Lolos’ dari Kepunaan

Coelacanth memiliki morfologi yang sangat berbeda dibandingkan ikan modern pada umumnya. Ikan ini termasuk kelompok ikan bersirip lobus atau sarcopterygian, yang dianggap memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan tetrapoda, kelompok vertebrata berkaki empat yang kemudian berevolusi menjadi amfibi, reptil, burung, dan mamalia.

Ukuran tubuh coelacanth tergolong besar. Panjangnya dapat mencapai dua meter dengan berat sekitar 100 kilogram. Siripnya berbentuk membulat dan bergerak menyerupai gerakan anggota tubuh vertebrata darat. Struktur tubuh seperti ini membuat coelacanth menjadi salah satu spesies penting dalam penelitian evolusi.

Habitat utama ikan ini berada di laut dalam, terutama di kawasan terumbu karang mesofotik dan gua bawah laut pada kedalaman sekitar 150 hingga 200 meter. Karena hidup di area yang gelap dan sulit dijangkau manusia, dokumentasi langsung terhadap coelacanth masih sangat terbatas. Penelitian biasanya membutuhkan teknologi khusus seperti kapal selam mini atau kendaraan bawah laut yang dioperasikan dari jarak jauh atau ROV.

Menurut peneliti BRIN, Kunto Wibowo, coelacanth termasuk predator laut dalam yang memangsa ikan berukuran lebih kecil. Namun, ikan ini berenang lambat dan tidak agresif sehingga lebih sering berdiam di celah terumbu karang atau gua bawah laut. Kandungan lemak tubuhnya yang sangat tinggi juga membuat ikan ini tidak dikonsumsi masyarakat karena rasanya dianggap tidak enak.

Baca juga Ikan Invasif Tak Hanya Sapu-sapu, Masih Ada 14 Spesies Lainnya

Coelacanth di Laut Indonesia

Awalnya, Latimeria menadoensis diduga hanya hidup di perairan Sulawesi Utara. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebaran ikan purba ini lebih luas dari perkiraan. Selain di Manado, spesies yang sama kini juga ditemukan di Maluku Utara dan Biak, Papua.

Pada April 2025, jurnal Scientific Reports menerbitkan laporan ilmiah tentang penemuan coelacanth di Maluku Utara oleh tim peneliti internasional. Pengamatan dilakukan menggunakan kapal selam dan ROV pada kedalaman sekitar 150 meter. Penelitian tersebut memperkuat dugaan bahwa coelacanth tidak hanya hidup di Sulawesi, tetapi juga menyebar di berbagai wilayah Indonesia timur yang terhubung dengan Samudra Pasifik.

BRIN juga menduga coelacanth kemungkinan terdapat di kawasan lain yang terhubung dengan arus laut besar Indonesia atau Arlindo, yaitu sistem arus yang mengalirkan air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia. Dugaan tersebut membuat kawasan timur Sumatera dan selatan Jawa dinilai berpotensi menjadi habitat tersembunyi ikan purba ini. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan karena habitatnya berada di laut dalam yang sulit dijangkau.

Penelitian genetika menunjukkan bahwa coelacanth Indonesia dan Afrika memiliki perbedaan signifikan meskipun secara fisik terlihat mirip. Bahkan, studi yang dilakukan Kadarusman dan tim pada 2020 menemukan bahwa dua garis keturunan coelacanth di Indonesia telah terpisah selama sekitar 13 juta tahun. Temuan itu membuka kemungkinan adanya spesies coelacanth lain yang belum ditemukan di perairan Indonesia.

Melindungi Sang Ikan Purba

Keberadaan coelacanth kini mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi laut. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Latimeria menadoensis sebagai spesies yang dilindungi penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi. Perlindungan tersebut melarang penangkapan dan pemanfaatan spesies ini di alam.

Secara global, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan coelacanth Indonesia dalam kategori Rentan atau Vulnerable. Selain itu, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) menempatkannya dalam Appendix I, yang berarti perdagangan internasional hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian.

Para peneliti menilai perlindungan habitat laut dalam menjadi langkah penting untuk menjaga kelangsungan hidup coelacanth. Aktivitas manusia seperti penangkapan ikan dengan alat tangkap tidak ramah lingkungan dapat merusak ekosistem terumbu karang dalam yang menjadi tempat hidup spesies ini. Karena itu, penelitian dan konservasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melibatkan masyarakat lokal dalam pelestarian laut.

Keberadaan coelacanth di Indonesia menunjukkan bahwa perairan Nusantara masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Penemuan ikan purba ini tidak hanya penting bagi ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa banyak spesies laut dalam yang belum sepenuhnya terungkap keberadaannya.

Baca juga Bintan Jadi Rumah 425 Spesies Ikan Karang, BLUD Dibentuk buat Melindunginya

https://www.youtube.com/watch?v=V92lIZzAhkw&pp=ygUcaWthbiBnb29kbmV3cyBmcm9tIGluZG9uZXNpYQ%3D%3D

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.