Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar guna mendukung kebutuhan energi nelayan. Teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif energi sekaligus membantu mengurangi limbah plastik.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan teknologi yang dikembangkan bernama Liquid Fuel from Plastic Waste with Advanced Pyrolysis System for Industrial Scale. Sistem ini dirancang untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk nelayan.
"Sampah plastik yang selama ini sebagian tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi bahan bakar untuk nelayan," kata Arif saat Konferensi Internasional Sustainable Development Goals (SDGs) dalam rangkaian Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar, Senin (8/6/2026).
Menurut Arif, pemanfaatan energi berbasis sampah plastik berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar solar. Ia menyebut sektor energi masih memiliki banyak peluang pengembangan, baik melalui teknologi sederhana maupun teknologi berteknologi tinggi.
BRIN, lanjutnya, juga mengembangkan berbagai inovasi di bidang pengolahan sampah. Salah satu teknologi pengelolaan sampah yang dikembangkan lembaga tersebut saat ini telah diterapkan di Mataram, Lombok.
Dalam kesempatan yang sama, Arif menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Ia mengatakan penelitian perlu diarahkan untuk menghasilkan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan.
Konferensi internasional yang dihadiri peneliti dari berbagai negara tersebut diharapkan dapat memperluas pertukaran gagasan dan perspektif terkait upaya pencapaian SDGs.
Arif menambahkan bahwa setiap langkah dan kebijakan yang diambil dalam mendukung pembangunan berkelanjutan perlu didasarkan pada bukti ilmiah serta data yang kuat guna memastikan akuntabilitas dan efektivitas implementasinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


