“Cuma satu batang aja”
Kalimat seperti ini mungkin sudah sering terdengar di lingkungan sekitar kita. Mulai dari nongkrong bersama teman, berkumpul di warung kopi, hingga saat sedang stres atau banyak pikiran, rokok sering kali dianggap sebagai hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Padahal, dampak rokok terhadap kesehatan tidak bisa dianggap sepele. Rokok diketahui menjadi salah satu faktor risiko berbagai penyakit serius seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pernapasan kronis.
Menurut data World Health Organization (WHO), penggunaan tembakau masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia.
WHO mencatat bahwa tembakau menyebabkan lebih dari 7 juta kematian setiap tahun, sementara sekitar 80% dari 1,3 miliar pengguna tembakau dunia berada di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Di Indonesia, situasinya juga memprihatinkan. Laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan dan WHO menunjukkan bahwa 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau.
Angka tersebut didominasi oleh laki-laki, dengan prevalensi penggunaan tembakau mencapai 65,5%, sedangkan pada perempuan hanya 3,3%.
Selain itu, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15–19 tahun merupakan kelompok yang paling banyak mulai merokok, yaitu sebesar 56,5%, sehingga tingginya angka perokok remaja masih menjadi perhatian serius dalam upaya pengendalian konsumsi rokok di Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku merokok masih menjadi persoalan kesehatan yang sulit dikurangi di Indonesia. Menariknya, tingginya angka perokok di Indonesia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sosial dan kebiasaan yang berkembang di masyarakat.
Rokok dan Lingkungan Sosial di Indonesia
Di Indonesia, merokok sering kali dianggap sebagai bagian dari pergaulan sosial. Tidak sedikit orang mulai merokok karena ajakan teman, ingin diterima dalam kelompok, atau karena melihat perilaku merokok sebagai sesuatu yang normal.
Fenomena banyaknya remaja yang mulai merokok juga dapat dijelaskan melalui teori perkembangan Erik Erikson. Menurut Erikson, remaja berada pada tahap Identity vs. Role Confusion, yaitu fase pencarian jati diri dan identitas diri.
Pada tahap ini, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, cenderung mencoba hal-hal baru, dan sangat membutuhkan pengakuan dari lingkungan sosialnya.
Dalam proses pencarian identitas tersebut, remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh kelompok pertemanan. Keinginan untuk diterima dan dianggap “sama” dengan lingkungan membuat sebagian remaja lebih berisiko mengikuti perilaku teman, termasuk merokok.
Tidak sedikit remaja mulai merokok karena takut dianggap berbeda, ingin terlihat dewasa, atau ingin memperoleh pengakuan sosial dari kelompoknya.
Selain itu, tingginya jumlah perokok laki-laki di Indonesia juga berkaitan dengan pandangan sosial yang berkembang di masyarakat. Pada sebagian lingkungan, merokok pada laki-laki masih dianggap lebih wajar dibanding perempuan.
Bahkan, merokok sering dikaitkan dengan citra maskulinitas, keberanian, dan kedewasaan. Sementara itu, perempuan yang merokok cenderung masih mendapat stigma sosial lebih besar sehingga perilaku tersebut lebih banyak ditemukan pada laki-laki.
Mengapa Orang Terus Merokok?
Meskipun informasi mengenai bahaya rokok sudah sangat mudah ditemukan, tidak sedikit masyarakat yang tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang bahaya rokok saja belum tentu cukup untuk membuat seseorang berhenti merokok.
Dalam psikologi kesehatan, perilaku tersebut dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM), yaitu teori yang menjelaskan bahwa seseorang akan melakukan atau mempertahankan suatu perilaku berdasarkan bagaimana mereka memandang risiko, manfaat, serta hambatan dari perilaku tersebut.
1. Perceived Susceptibility
Sebagian perokok merasa dirinya belum rentan terkena penyakit akibat rokok. Banyak yang berpikir bahwa penyakit seperti kanker paru-paru atau gangguan jantung masih jauh dari kehidupannya, terutama ketika usia masih muda dan tubuh masih terasa sehat.
Akibatnya, kalimat seperti “Aku sehat-sehat aja kok,” masih sering terucap, dan ancaman kesehatan akibat rokok sering kali tidak dianggap terlalu serius.
2. Perceived Severity
“Ah liat tuh dia udah bertahun-tahun ngerokok gapapa kok,” Kalimat ini sering kali diucapkan oleh mereka yang merokok karena dampak rokok tidak selalu langsung dirasakan, sehingga sebagian orang cenderung menganggap bahaya rokok bukan masalah yang mendesak.
Padahal, kebiasaan merokok dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, serta gangguan pernapasan kronis yang mana memiliki risiko tinggi pula terhadap kematian.
3. Perceived Benefits
Tidak semua perokok melihat berhenti merokok sebagai sesuatu yang memberikan manfaat besar bagi dirinya. Sebagian merasa kondisi kesehatannya masih baik-baik saja sehingga tidak ada alasan yang cukup kuat untuk berhenti.
Padahal, berhenti merokok dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit, memperbaiki kualitas hidup, hingga menghemat pengeluaran.
Ketika manfaat tersebut belum benar-benar disadari atau dirasakan penting, keinginan untuk berhenti merokok pun menjadi lebih rendah. Akibatnya, banyak orang memilih mempertahankan kebiasaan merokok meskipun sudah mengetahui bahayanya bagi kesehatan.
4. Perceived Barriers
Bagi mereka yang aktif merokok, berhenti merokok bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ketergantungan nikotin, lingkungan pertemanan yang mayoritas merokok, hingga mudahnya akses membeli rokok menjadi faktor yang membuat kebiasaan ini sulit dihentikan.
Bahkan di Indonesia, rokok masih dapat dibeli secara eceran sehingga semakin mudah dijangkau oleh berbagai kalangan, termasuk remaja.
Bukan Sekadar Kebiasaan
Selain berdampak pada kesehatan fisik, kebiasaan merokok juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Ketergantungan nikotin dapat membuat individu merasa gelisah, mudah marah, atau sulit berkonsentrasi ketika tidak merokok.
Hal ini menunjukkan bahwa perilaku merokok bukan hanya persoalan kebiasaan, tetapi juga berkaitan dengan aspek psikologis dan perilaku adiktif.
Melihat tingginya angka perokok di Indonesia, upaya penanganan tidak cukup hanya melalui larangan atau peringatan bahaya rokok semata.
Diperlukan pendekatan yang juga memahami faktor psikologis dan sosial yang membuat perilaku merokok terus bertahan di masyarakat. Edukasi kesehatan sejak usia remaja, penguatan kontrol diri, serta lingkungan sosial yang lebih suportif menjadi langkah penting dalam mengurangi normalisasi perilaku merokok di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


