dari toxic relationship hingga situationship menemukan isu gen z dalam novel klasik belenggu - News | Good News From Indonesia 2026

Menemukan Isu Gen Z dalam Novel Klasik 'Belenggu'

Menemukan Isu Gen Z dalam Novel Klasik 'Belenggu'
images info

Oleh Ricardo IV Tamayo di Unsplash


Bicara soal sastra Indonesia era pra-kemerdekaan, pikiran langsung melayang pada kisah-kisah perjodohan paksa, konflik adat, atau konflik moral. Karakter protagonisnya digambarkan suci tanpa cela, sementara karakter antagonisnya jahat setengah mati.

Penggambaran itu banyak kita temukan pada karya-karya angkatan Balai Pustaka. Namun, Armijn Pane mematahkan aturan tersebut lewat novelnya yang berjudul Belenggu. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1940 oleh majalah Pujangga Baru, novel ini sempat ditolak mentah-mentah oleh Balai Pustaka karena dianggap melanggar kesusilaan dan terlalu berani.

Menariknya, meskipun Belenggu ditulis lebih dari delapan dekade lalu dengan latar belakang masyarakat intelektual Batavia masa lalu, membacanya saat ini membuat kita merasa bahwa ceritanya sangat dekat. Isu-isu yang dihadapi para tokohnya bukan lagi soal adat, melainkan hal-hal yang setiap hari berseliweran di timeline media sosial Gen Z, mulai dari overthinking, masalah kesehatan mental, hingga rumitnya toxic relationship.

Gen Z adalah generasi yang sangat melek dengan isu kesehatan mental. Istilah seperti inner child atau trauma masa lalu sudah menjadi bagian dari obrolan sehari-hari. Hebatnya, jauh sebelum istilah-istilah itu tren, Armijn Pane sudah membedah konsep psikologis tersebut dalam Belenggu lewat teknik aliran kesadaran (stream of consciousness). Melalui kisah tiga tokoh utama yaitu Dokter Sukartono (Tono), Sumartini (Tini), dan Siti Rohayah (Yah), kita diperlihatkan gambaran dari orang-orang yang gagal berdamai dengan masa lalu mereka sendiri.

baca juga

Ketiga tokoh ini punya luka batin masing-masing. Tini menjadi sosok yang dingin dan defensif akibat trauma serta rasa bersalah atas hubungan masa lalunya. Suaminya, Tono, justru mengalami krisis eksistensial karena ekspektasi masa kecilnya tentang sosok istri yang ideal ternyata jauh dari realita. Sementara Yah, terperangkap dalam stigma sosial sebagai wanita penghibur yang membuatnya merasa tidak pantas untuk bahagia.

Hubungan antara Tono dan Tini adalah representasi nyata dari apa yang hari ini disebut sebagai toxic relationship. Mereka berdua adalah pasangan suami istri yang terpelajar dan modern, namun tinggal satu atap layaknya dua orang asing yang terjebak dalam keheningan.

Masalah utama mereka bukan karena tidak saling cinta, melainkan hilangnya kemampuan untuk saling mendengar atau miscommunication. Di tengah kesepian emosional itu, muncullah Yah yang menawarkan validasi dan kenyamanan yang tidak didapatkan Tono di rumah. Hubungan Tono dan Yah berkembang menjadi situationship atau hubungan tanpa status yang rumit pada zamannya.

Karakter Tini merupakan salah satu penggambaran perempuan modern paling radikal pada masanya. Ia aktif di organisasi sosial, mandiri, dan menolak mentah-mentah domestikasi perempuan yang mempunyai keharusan menyediakan kopi atau melepas sepatu suami saat pulang kerja.

Namun, pemberontakan Tini berbenturan dengan ekspektasi sosial lingkungannya dan juga suaminya yang masih menginginkan sosok istri yang penurut. Tini mengalami apa yang sekarang disebut sebagai quarter-life crisis. Ia ingin bebas mengekspresikan dirinya, namun di sisi lain dirongrong rasa bersalah karena gagal memenuhi standar ideal masyarakat. Kebingungan Tini dalam mencari identitas diri ini sangat mencerminkan pergulatan anak muda hari ini yang sering kali terjepit di antara ambisi pribadi dan tuntutan generasi sebelumnya.

baca juga

Alih-alih menyajikan akhir bahagia yang klise, Armijn Pane memilih menutup cerita dengan perpisahan Tono, Tini, dan Yah yang pergi ke arah berbeda. Tini memutuskan untuk mengabdikan hidupnya mengurus panti asuhan, Yah pergi jauh naik kapal tanpa arah pasti, dan Tono memilih tenggelam dalam kesunyian profesinya.

Bagi Gen Z yang cenderung menyukai realisme ketimbang romantisasi yang klise, ending novel ini justru terasa sangat memuaskan. Novel ini seolah memvalidasi bahwa bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri adalah tahu kapan harus berhenti. Keluar dari lingkaran yang toxic dan berani berjalan sendiri adalah jalan untuk tumbuh menjadi versi diri yang lebih utuh.

Pada akhirnya, Belenggu membuktikan satu hal bahwa sepesat apa pun zaman berubah dan secanggih apa pun teknologi berkembang, kerumitan hati manusia, rasa sepi, dan pencarian kedamaian batin akan selalu tetap sama. Novel ini bukan sekadar arsip sejarah sastra, melainkan sebuah cermin psikologis yang masih sangat akurat dalam memotret realita hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.