di bundaran hi perjuangan melawan penindasan rezim bersemi sejak dulu - News | Good News From Indonesia 2026

Di Bundaran HI, Perjuangan Melawan Penindasan Rezim Bersemi sejak Dulu

Di Bundaran HI, Perjuangan Melawan Penindasan Rezim Bersemi sejak Dulu
images info

Di Bundaran HI, Perjuangan Melawan Penindasan Rezim Bersemi sejak Dulu | Wikimedia Commons/Baqotun0023


Larangan penyelenggaraan demonstrasi di Monumen Selamat Datang atau Bundaran HI menjadi salah satu isu yang menarik perhatian beberapa waktu belakangan. Adanya larangan ini tentu menimbulkan banyak perbedaan pandangan, khususnya dalam hal kebebasan berpendapat di mana saja.

Pemilihan Bundaran HI sebagai titik lokasi demonstrasi sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah Indonesia. Mundur beberapa dekade lalu, tepatnya pada 1998, pernah terjadi sebuah aksi demonstrasi yang juga diselenggarakan di Bundaran HI.

Target demonstrasi yang digelar pada waktu itu juga sama, yakni pemerintah yang sedang berkuasa. Meskipun mengangkat isu yang tidak sepenuhnya sama seperti saat ini, perjuangan lewat aksi demonstrasi berhasil terlaksana di Bundaran HI pada waktu itu.

Bagaimana momen saat terselenggaranya aksi demonstrasi di Bundaran HI pada 1998 silam? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

Demonstrasi di Bundaran HI pada 1998

Dinukil dari artikel Astri Aristiani, Abdul Syukur, dan Umasih, "Gelombang Kedua Gerakan Feminisme di Indonesia" yang terbit di Jurnal PERIODE, sebuah aksi demonstrasi diketahui pernah terselenggara di Bundaran HI, Jakarta pada awal 1998 silam. Lebih tepatnya, demonstrasi yang diselenggarakan oleh para aktivis feminisme di ibu kota tersebut berlangsung pada 23 Februari 1998.

Pada waktu itu, ada sebuah gerakan anti politik Pemerintah Orde Baru yang menyuarakan kritik mereka terhadap penguasa. Kritik yang disampaikan ini secara umum menyoroti banyaknya kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada waktu itu.

Suara Ibu Peduli menjadi salah satu gerakan anti politik besar yang turut bersuara. Gerakan politik ini merupakan gabungan dari anggota dari berbagai lembaga, seperti Yayasan Jurnal Perempuan, Solidaritas Perempuan, dan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan.

baca juga

Gerakan ini menggunakan simbol "Ibu" dalam melontarkan kritik pada pemerintah. Penggunaan simbol ini dinilai efektif dalam menarik masa sekaligus mendapatkan simpati dari masyarakat secara luas.

Dalam menjalankan gerakan ini, Suara Ibu Peduli menggunakan "Politik susu" yang menjadi wujud dari ibu. Salah satu aktivitas yang dilakukan untuk menunjang gerakan ini adalah dengan adanya pembagian susu di kantor Yayasan Jurnal Perempuan.

Setelah beberapa aktivitas yang dilakukan, gerakan Suara Ibu Peduli akhirnya melakukan demonstrasi pada 23 Februari 1998. Bundaran HI pun dipilih sebagai lokasi untuk menyampaikan demonstrasi.

Pemilihan Bundaran HI ini bukan sembarangan begitu saja. Ada alasan mengapa gerakan ini memilih untuk melaksanakan aksi demonstrasi di lokasi tersebut.

Bundaran HI dianggap sebagai lokasi dengan posisi strategis yang ada di ibu kota. Hal ini akan membantu mobilisasi massa yang hadir dalam aksi demonstrasi pada waktu itu.

Akses menuju Bundaran HI bisa dilewati oleh para pekerja dari kelas mana saja. Alasan inilah yang kemudian membuat aksi demonstrasi yang digelar oleh gerakan Suara Ibu Peduli dipusatkan di Bundaran HI pada waktu itu.

Penyelenggaraan demonstrasi ini berhasil terlaksana pada 23 Februari 1998. Namun terdapat tiga orang demonstran yang diamankan oleh pihak aparat dalam aksi demonstrasi tersebut.

baca juga

Ketiga demonstran yang ditangkap pada waktu itu adalah Gadis Arivia dan Karlina Leksono dari Yayasan Jurnal Perempuan serta Wilasih Nophiana, seorang aktivis dari Salatiga yang turut hadir dalam demonstrasi tersebut. Mereka ditahan oleh pihak aparat selama 24 jam lamanya.

Sidang terhadap ketiga demonstran ini kemudian dilangsungkan pada 4 dan 9 Maret 1998. Dari hasil sidang tersebut, ketiga demonstran ini dijatuhi hukuman selama tiga bulan dan pengenaan denda dengan alasan telah mengganggu ketertiban umum.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.